Disrupsi Jadi Tantangan Sekaligus Peluang

  • Bagikan
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Generasi muda kini bertumbuh dalam dua paradoks. Pandemi dan disrupsi. Hal itu menjadikan tantangan dan peluang bagi kaum muda dalam menggapai harapan selanjutnya.

Sementara, pandemi selain dipandang sebagai krisis global, ternyata memberi pembelajaran penting bahwa bumi membutuhkan jeda pada periode waktu tertentu. Sehingga pelestarian bumi menjadi tanggung jawab bersama.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengungkapkan, generasi muda kini memiliki ruang untuk mengasah ketahanan adaptif, kapasitas dinamis, dan kemampuan inovasi. Namun di sisi lain, terdapat disrupsi karena perkembangan teknologi. Hal itu menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda.

“Di satu sisi (teknologi digital, Red) memberi ragam kemudahan. Di sisi lain menjadi semacam jebakan pada kehidupan yang serba instan. Semua berada di ujung jari,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima di Semarang, Kamis (18/8).

Menurut Rerie, sapaan akrabnya, kaum muda saat ini memiliki ruang komplit, karena belajar, bekerja dan berkomunikasi melalui gadget. Artinya, kreativitas menjadi kemampuan yang dapat diasah terus menerus. Karena, di era digital saat ini membutuhkan pemikiran kritis (critical thinking) dan kemampuan literasi media.

Baca juga:  2.461 Bencana Sepanjang Tahun, MPR: Kesadaran Warga Penting

Lebih jauh, ia menguraikan, dari pemikiran dan kemampuan literasi media, setiap potensi yang dimiliki dapat digunakan semaksimal mungkin untuk bertumbuh. “Yang paling penting perlu diingat, setiap krisis pasti usai, namun selalu terjadi transformasi. Karena kemampuan manusia mengoptimalkan setiap potensi yang dimiliki,” terangnya.

Di samping itu, Rerie menuturkan, sejarah mencatat, ketika terjadi perubahan pasti muncul ancaman, tetapi selalu ada kesempatan untuk berpikir ulang. Seperti, merefleksikan perjalanan manusia, dinamika hubungan manusia dengan alam, manusia dengan manusia dan dalam konteks spiritual, manusia dengan Sang Pencipta.

Menurutnya, manusia dituntut beradaptasi dalam setiap krisis untuk mengubah pola perilaku. Pasalnya, situasi tidak pernah kembali seperti sediakala. Selalu ada nilai-nilai baru yang menjadi pegangan. Misalnya, protokol kesehatan dan kenormalan baru.

“Kaum muda mesti menjadi yang pertama dalam beradaptasi dan menerapkan hal-hal baru dengan tetap memperhatikan nilai-nilai moral dan budaya,” tandasnya. (ziz/gih)

  • Bagikan