Pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar untuk Pembelajaran

Oleh: Sari Dwi Suryani, S. Pd. SD
Guru SDN 1 Majalengka, Kec. Bawang, Kab. Banjarnegara

PERUBAHAN paradigma baru dalam pembelajaran membawa pendidik dan fasilitator pendidikan untuk senantiasa update dengan kurikulum. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah memberikan pilihan kepada semua unit pendidikan pada tahun ajaran 2022-2023 untuk memilih kurikulum sekolah sendiri. Kurikulum tersebut diberikan kepada satuan pendidikan sebagai opsi tambahan dalam rangka melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024, mengingat kondisi pandemi Covid-19 yang melanda.

Selamat Idulfitri 2024

Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran yang beragam. Kurikulum Merdeka berfokus pada konten-konten yang esensial agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Berbagai studi nasional maupun internasional menunjukkan bahwa Indonesia telah mengalami krisis pembelajaran yang cukup lama. Studi-studi tersebut menunjukkan bahwa banyak dari anak-anak Indonesia yang tidak mampu memahami bacaan sederhana atau menerapkan konsep matematika dasar.

Sederet keunggulan Kurikulum Merdeka antara lain: 1) Lebih Sederhana dan Mendalam. Fokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Belajar menjadi lebih mendalam, bermakna, tidak terburu-buru, dan menyenangkan; 2) Lebih Merdeka. Guru dapat mengajar sesuai tahap capaian dan perkembangan peserta didik. Sekolah memiliki wewenang untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik; 3) Lebih Relevan dan Interaktif. Pembelajaran melalui kegiatan proyek memberikan kesempatan lebih luas kepada peserta didik untuk secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual, misalnya isu lingkungan, kesehatan, dan lainnya untuk mendukung pengembangan karakter dan kompetensi Profil Pelajar Pancasila.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Alasan penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah dasar (SD) menjadi opsi dan bukan langsung diterapkan di seluruh sekolah karena Kemendikbudristek ingin menegaskan bahwa sekolah memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai kebutuhan dan konteks masing-masing sekolah. Selain itu, dengan kebijakan opsi kurikulum ini, proses perubahan kurikulum nasional harapannya dapat terjadi secara lancar dan bertahap.

Kriteria sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka SD hanya ada satu, yaitu berminat menerapkan Kurikulum Merdeka untuk memperbaiki pembelajaran. Kemudian, kepala sekolah/madrasah yang ingin menerapkan Kurikulum Merdeka akan diminta untuk mempelajari materi yang disiapkan oleh Kemendikbudristek tentang konsep Kurikulum Merdeka.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Selanjutnya, jika setelah mempelajari materi tersebut sekolah memutuskan untuk mencoba menerapkannya, mereka akan diminta untuk mengisi formulir pendaftaran dan sebuah survei singkat. Struktur kurikulum SD/MI dibagi menjadi 3 (tiga) fase, yaitu: 1) Fase A untuk Kelas I dan Kelas II; 2) .Fase B untuk Kelas III dan Kelas IV; dan 3) Fase C untuk Kelas V dan Kelas VI

Satuan pendidikan SD/MI dapat mengorganisasikan muatan pembelajaran menggunakan pendekatan mata pelajaran atau tematik. Proporsi beban belajar di SD/MI terbagi menjadi 2 (dua), yaitu Pembelajaran intrakurikuler dan Proyek penguatan profil pelajar Pancasila, dialokasikan sekitar 20% (dua puluh persen) beban belajar per-tahun.

Berikut hal-hal penting dalam Kurikulum Merdeka SD: 1) Penguatan kompetensi yang mendasar dan pemahaman holistik; 2) Untuk memahami lingkungan sekitar, mata pelajaran IPA dan IPS digabungkan sebagai mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). 3) Serba-serbi Kurikulum Merdeka Kekhasan Sekolah Dasar – 13 Integrasi computational thinking dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPAS; 4) Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pilihan.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Pembelajaran berbasis proyek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 2 kali dalam satu tahun ajaran. Kemudian, alasan pelajaran IPA dan IPS dijadikan satu pada jenjang SD, karena anak usia SD cenderung melihat segala sesuatu secara utuh dan terpadu. Penggabungan pelajaran IPA dan IPS ini diharapkan dapat memicu anak untuk dapat mengelola lingkungan alam dan sosial dalam satu kesatuan. IPAS mulai diajarkan di Fase B (kelas III) untuk menguatkan kesadaran peserta didik terhadap lingkungan sekitarnya, baik dari aspek alam maupun sosial. (*)