Pendidikan Karakter Berbasis Pancasila pada Anak SD

Oleh: Nung Faria, S.Pd.SD
Guru SDN Gajah 2, Kec Gajah, Kab Demak

IMPLEMENTASI kebijakan pembangunan bidang sumber daya manusia di Indonesia sudah berjalan dengan cukup baik, contohnya dengan pengadaan beberapa kebijakan dan bantuan pemerintah kepada masyarakat yang belum mampu melangsungkan kepentingan pendidikan seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun di lain hal, pembangunan di bidang sumber daya manusia (SDM) ini masih memiliki beberapa kekurangan, seperti belum meratanya akses pendidikan ke seluruh pelosok wilayah Indonesia.

Selamat Idulfitri 2024

Dengan masih tergolong rendahnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia, sekaligus menunjukkan rendahnya kemampuan kompetisi dan survival dikaitkan dengan tantangan dan dinamika global (Poespowardojo dan Hardjanto,2010). Salah satu contoh yang menyebabkan persoalan tersebut adalah ketika implementasi dari nilai Pancasila sebagai pendidikan karakter sekaligus parameter kualitas SDM tidak ada dalam kehidupan masyarakat. Terbukti dengan lemahnya pemahaman nilai Pancasila pada tiap individu, sehingga melahirkan generasi yang rentan akan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA), lemahnya teladan diri yang berujung pada korupsi, serta kebebasan berekspresi tanpa etika dan aturan.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Dalam hal ini, pendidikan karakter dalam membentuk kepribadian peserta didik sangat penting adanya. Dengan adanya Pendidikan karakter, peserta didik dapat mempelajari dan memahami bagaimana menggunakan kebebasan berpendapat mereka dan merefleksikan karakter yang baik dalam setiap sikap dan aktivitasnya. Sehingga untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya pada Pendidikan karakter, nilai-nilai Pancasila hendaknya diresapi dan diimplementasikan secara nyata. Setiap sila yang terkandung dalam Pancasila merupakan modal dasar Pendidikan karakter.

Nilai-nilai yang dapat di ambil dari Pancasila untuk menguatkan Pendidikan karakter adalah: 1) Pada sila ke-1, ada nilai toleransi dalam pendidikan karakter peserta didik; 2) Pada sila ke-2 yaitu, nilai memahami dan menghargai sesama manusia, sehingga membentuk karakter yang beradab; 3) Pada sila ke-3, dapat memahami nilai persatuan dan cinta tanah air, sehingga pendidikan selalu mengutamakan keragaman budaya di Indonesia; 4) Pada sila ke-4, menjadi nilai penting untuk memahami kehidupan demokrasi yang sesuai dengan hati nurani, serta adanya keharusan taat pada hukum, sehingga menjadi pribadi yang disiplin; dan 5) Pada sila ke-5 mengandung nilai memperjuangkan kepentingan bersama dalam kehidupan bersosialisasi, sehingga keadilan sosial selalu ada dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Selain itu, kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kualitas SDM juga harus bersumber pada nilai Pancasila. Sehingga nantinya, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di Indonesia sudah hilang dan output dari kebijakan pemerintah bidang SDM dapat terlaksana dengan maksimal. Peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut dapat dicapai dengan adanya bantuan dan dukungan dari pemerintah, seperti adanya kemajuan dalam bidang teknologi industri sehingga menghasilkan kecerdasan kreativitas dan inovasi dari sumber daya manusia yang berkompetensi tinggi.

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kelima sila Pancasila, yaitu nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan. Di era modern saat ini, Pancasila tetap harus menjadi pedoman utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apabila nilai-nilai tersebut diterapkan oleh seluruh elemen bangsa, maka dapat menyelamatkan bangsa dari konflik serta membangun karakter kuat yang dapat menyatukan seluruh masyarakat Indonesia. Kemudian dengan adanya sinergi antara kebijakan pemerintah dan implementasi pendidikan karakter bersumber pada nilai Pancasila, maka kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat ditingkatkan sekaligus taraf hidup masyarakat Indonesia yang lebih baik. (*)