Memahami Sikap Kerja Sama dan Saling Tolong Menolong dengan Metode Role Playing

Oleh: Impronah, S.Pd.I
Guru PAI SDN 01 Banjaran, Kec. Taman, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN merupakan usaha sadar dan terencana untuk dapat merasakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik dapat aktif dalam mengembangkan potensi dalam dirinya. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, di mana mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid. Supaya tujuan pendidikan nasional lebih terarah, maka harus menggunakan kurikulum sebagai acuan dari proses pembelajaran. Kurikulum yang digunakan pada saat ini yaitu kurikulum 2013.

Selamat Idulfitri 2024

Menurut Hamzah B. Uno dan Nurdin Muhammad, agar mampu menjadi fasilitator serta mitra belajar bagi peserta didik, guru sangat memerlukan kreativitas. Karena tugas guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi harus kreatif memberikan layanan dan kemudahan belajar kepada seluruh peserta didik. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di dalam kelas adalah tugas seorang guru, agar para peserta didik mudah dalam menerima materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Oleh karena itu, guru harus dapat menciptakan suasana active learning di kelas, agar para peserta didik juga dapat menjadi subjek dalam proses belajar-mengajar.

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti sangat memerlukan strategi active learning agar peserta didik mampu menerima materi pelajaran dengan baik dan mampu mengamalkan materi yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, sangat diperlukan pemahaman dan penghayatan dalam sebuah materi pelajaran yang disampaikan. Dengan menggunakan active learning, diharapkan siswa dapat benar-benar memahami materi yang disampaikan guru.

Materi kerja sama dan tolong menolong ini adalah dasar dari sikap peserta didik dalam bersosialisasi di lingkungan masyarakat, karena sikap kerja sama dan tolong menolong adalah kewajiban manusia sebagai makhluk sosial. Supaya peserta didik benar-benar memahami materi tersebut, alangkah baiknya jika peserta didik mampu memahami hakikat dan mengerti bagaimana melaksanakan kerja sama dan tolong menolong dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah. Sikap kerja sama dan tolong menolong ini seperti yang dijelaskan dalam surah Al-Maidah ayat 2 yang berbunyi :

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”

Siswa kelas 2 masih dalam tahap pemula di sekolah, mereka tidak bisa hanya menggunakan metode ceramah dan penugasan dalam penyampaian materi, sehingga guru harus bisa mengemas materi tersebut agar menarik dan mudah dipahami. Sebab pada tahap ini, peserta didik masih suka diajak dalam sebuah permainan mereka masih belum memahami sepenuhnya teks yang ada di buku-buku pelajaran.

Pemilihan metode Role Playing (bermain peran) dinilai tepat untuk peserta didik kelas 2, karena mereka akan terlibat langsung dalam proses belajar. Sehingga mereka akan mudah meniru dan melakukan materi yang disampaikan. Role Playing dapat membawa peserta didik merasakan bagaimana merasakan dan dapat memecahkan masalah yang mereka hadapi secara langsung. Dengan metode ini peserta didik diharapkan dapat menerapkan materi kerja sama dan tolong menolong kehidupan mereka sehari-hari.

Langkah-langkah dalam pelaksana metode Role Playing yaitu sebagai berikut: (1) Guru menyusun serta menyiapkan skenario; (2) Menunjuk beberapa peserta didik untuk mempelajari skenario beberapa hari sebelum kegiatan berlangsung; (3) Guru membuat kelompok yang berisikan 5 orang siswa; (4) Menjelaskan kompetensi yang hendak dicapai; (5) Memanggil peserta didik untuk menjalankan skenario; (6) Setiap peserta didik berada dikelompoknya sembari melihat peragaan kelompok lain; (7) Setiap kelompok menyampaikan kesimpulan; (8) Guru memberikan kesimpulan secara umum; (9) Evaluasi.

Proses bermain peran ini dapat memberikan contoh kehidupan perilaku manusia yang berguna sebagai sarana bagi siswa untuk menggali perasaannya, memperoleh inspirasi dan pemahaman yang berpengaruh terhadap sikap, nilai dan persepsinya, serta mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah. (*)