Mengenal Sindrom Fear of Missing Out pada Remaja

Oleh: Nurul Dyah Fatmawati, S.Pd
Guru BK SMK Negeri 1 Pati, Kabupaten Pati

FEAR of missing out (FoMO) merupakan sebuah gejala baru yang timbul dari gangguan penggunaan internet bagi masyarakat modern yang terobsesi dengan being connected sepanjang waktu. Dengan kata lain, FoMO adalah suatu sindrom modern bagi masyarakat modern yang terobsesi untuk terhubung setiap waktu. Hal ini ditandai dengan munculnya perasaan takut yang ketika seseorang kehilangan momen berharga mengenai individu atau kelompok lain, di mana seseorang tersebut tidak dapat berperan secara langsung di dalamnya dan ditandai dengan keinginan untuk tetap terus terhubung dengan apa yang individu atau kelompok lain lakukan melalui internet atau media sosial.

Selamat Idulfitri 2024

Di Indonesia, tingkat pengguna internet dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Berdasarkan keterangan dari Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia (PUSKAKOM) yang bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2020, pengguna internet di Indonesia kembali mengalami peningkatan sebesar 7 juta pengguna, sehingga pada tahun 2021 pengguna internet di Indonesia sebayak 88 juta pengguna. Usia pengguna layanan internet terbanyak berdasarkan data tahun 2020 adalah usia 15-19 tahun.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Situs yang paling sering dikunjungi Facebook yaitu sekitar 65.8% per tahun dan disusul 42,3 % untuk penggunaan Instagram. Mirisnya lagi, dari survei yang dilakukan, diketahui angka yang cukup tinggi yaitu 52,8 % responden usia sekolah tidak pernah berkunjung ke situs atau platform pendidikan. Hal ini tentu saja sangat disayangkan, karena ternyata ketergantungan remaja pada media sosial sangat tinggi, sedangkan minat remaja untuk mengakses platform pendidikan justru rendah.

Ketergantungan para remaja terhadap media sosial berdampak pada aktivitas pembelajaran. Kejadian peserta didik tidak fokus pada pembelajaran, karena sibuk bermain gadget pada jam pelajaran juga masih sering ditemui. Pada jam istirahat utamanya, peserta didik lebih sibuk memainkan gadget untuk membuat konten tik tok maupun mengunggah story di media sosialnya daripada memanfaatkan waktu untuk beristirahat maupun pergi ke perpustakaan. Seolah-olah mereka memiliki dunianya sendiri ketika bermain dengan gadget.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Dalam sehari, rata-rata generasi milenial bisa menggunakan internet dengan durasi lebih dari tujuh jam. Individu dengan FoMO cenderung membuka media sosial lebih sering di saat bangun tidur, sebelum tidur, makan, dan adanya kemungkinan menggunakannya telepon genggam ketika mengendarai motor. Hal itu mengakibatkan penurunan minat belajar anak karena lebih suka bermain gadget. Anak yang kecanduan gadget menyebabkan anak menjadi pribadi yang tertutup dan suka menyendiri. Selain itu, anak bisa mengalami beberapa gangguan seperti gangguan pada kesehatan otak, kesehatan mata, kesehatan tangan, dan gangguan tidur.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Salah satu tindakan preventif yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah adalah pembatasan penggunaan gadget, terutama pada jam pembelajaran. Membuat kontrak pembelajaran dengan peserta didik untuk mematikan, atau tidak menggunakan gadget pada saat pembelajaran bisa menjadi salah satu solusi. Pemberian tugas untuk materi tertentu yang dikaitkan dengan pemanfaatan platform pendidikan juga bisa menjadi alternatif solusi bijaksana dalam pemanfaatan gadget secara positif oleh peserta didik.

Pendampingan dan peran serta orang juga tidak kalah pentingnya dalam mengatasi sindrom FoMO ini. Modelling yang baik dari orang tua dengan menyediakan waktu yang berkualitas untuk berbincang atau berdiskusi dengan anak, dianggap dapat mengurangi intensitas anak bermain gadget. Orang atua juga dapat memberikan dan melakukan pengawasan serta pengontrolan penggunaan gadget pada anak, serta membuat kesepakatan waktu dalam penggunaan gadget selama anak berada di rumah. (*)