Mudah Belajar Perkembangbiakan Tumbuhan dengan Make a Match

Oleh: Nur Asiyah, S.Pd.
Guru SDN Lowa, Kec. Comal, Kab. Pemalang

PEMBELAJARAN sains atau ilmu pengetahuan alam (IPA) di Sekolah Dasar (SD) diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar. Hal ini sesuai dengan pengertian IPA yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja, melainkan merupakan suatu proses penemuan.

Selamat Idulfitri 2024

Materi dalam muatan pelajaran IPA, sebagian besar bersinggungan langsung dengan kehidupan siswa. Salah satunya yaitu perkembangbiakan tumbuhan. Dalam menyampaikan materi tersebut, guru harus memilih model pembelajaran yang sesuai, bukan lagi dengan ceramah karena dengan ceramah, hasil belajar siswa belum maksimal. Ada beberapa siswa yang belum tuntas. Maka dipilihlah model pembelajaran make a match dalam menyajikan materi perkembangbiakan tumbuhan di SDN Lowa, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Menurut Tarmizi dalam Novia (2015: 12), model pembelajaran make a match artinya siswa mencari pasangan setiap siswa mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban) lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang. Praktik pembelajaran perkembangbiakan tumbuhan dengan make a match dilakukan melalui 3 tahapan, yaitu tahapan persiapan, tahapan penyampaian, dan tahapan penampilan hasil.

Tahap persiapan. Guru membagi siswa menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama merupakan kelompok pembawa kartu-kartu berisi pertanyaan-pertanyaan. Kelompok kedua adalah kelompok pembawa kartu-kartu berisi jawaban. Kelompok ketiga berfungsi sebagai kelompok penilai. Guru mengatur posisi agar kelompok pertama berhadapan dengan kelompok kedua.

Tahap penyampaian. Jika masing-masing kelompok telah berada di posisi yang telah ditentukan, guru membunyikan peluit sebagai tanda agar kelompok pertama dan kedua bergerak mencari pasangannya masing-masing sesuai pertanyaan atau jawaban yang terdapat di kartunya.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Penampilan hasil. Pasangan yang telah terbentuk wajib menunjukkan pertanyaan dan jawaban kepada kelompok penilai. Kelompok penilai kemudian membaca apakah pasangan pertanyaan jawaban itu cocok, setelah penilaian selesai dilakukan. Kelompok pertama dan kelompok kedua diatur demikian rupa agar bersatu. Kelompok penilai pada sesi pertama dibagi menjadi dua kelompok, sebagian anggota memegang lembar pertanyaan dan sebagian lagi memegang lembar jawaban.

Selanjutnya kelompok pertama dan kedua diposisikan seperti huruf U. Guru kembali membunyikan peluit kemudian pemegang kartu pertanyaan dan jawaban bergerak mencari pasangannya. Maka setiap pasangan menunjukkan hasil kerja kepada penilai. Permainan mencari pasangan ini dilakukan sampai semua kelompok bertukar posisi dan menemukan pasangan masing-masing.

Kelebihan dan kelemahan make a match: 1) Kelebihan: dapat menciptakan suasana aktif dan menyenangkan, materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa, dapat meningkatkan hasil belajar siswa mencapai taraf ketuntasan belajar, suasana kegembiraan akan tumbuh dalam proses pembelajaran, kerja sama antar siswa terwujud dengan dinamis, dan munculnya dinamika gotong royong yang merata di seluruh siswa; 2) Kelemahan: diperlukan bimbingan dari guru untuk melakukan kegiatan, waktu yang tersedia perlu dibatasi jangan sampai siswa terlalu banyak bermain–main dalam proses pembelajaran, guru perlu persiapan bahan dan alat yang memadai, pada kelas yang jumlah muridnya banyak, akan menimbulkan keributan dalam pelaksanaannya, guru selalu memberikan bimbingan dan pengarahan dalam berbagai kesempatan.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Karena disajikan dalam bentuk permainan, make a match tidak menimbulkan kebosanan. Siswa yang gagal menemukan pasangan akan gigih berusaha agar berhasil. Jadi, selain aktivitas otak, aktivitas fisik juga dilibatkan. Di samping hasil belajar siswa meningkat, badan pun sehat. (*)