Meningkatkan Minat Baca Anak melalui Perpustakaan

Oleh: Sudarmi, S.Pd
Guru SDN 3 Mangunrejo, Kec. Pulokulon, Kab. Grobogan

SEKARANG ini, kegiatan membaca sudah menjadi kebutuhan setiap orang. Membaca merupakan kegiatan melihat tulisan atau bacaan dan proses memahami isi teks dengan bersuara atau dalam hati. Membaca adalah mengungkapkan suatu imajinasi terhadap suatu bacaan yang disukai khalayak ramai dan juga dimengerti oleh seseorang.

Selamat Idulfitri 2024

Membaca merupakan keterampilan yang diperoleh setelah seseorang dilahirkan, bukan keterampilan bawaan yang dapat dikembangkan, dibina, dan dipupuk melalui kegiatan belajar mengajar. Lingkungan pendidikan merupakan basis yang sangat strategis untuk mengembangkan kebiasaan membaca. Kegiatan membaca sudah semestinya menjadi kegiatan yang rutin dilakukan sehari-hari oleh masyarakat ilmiah dan pendidikan untuk memperoleh pengetahuan atau informasi.

Di sekolah, terdapat siswa yang suka membaca dan ada yang tidak suka membaca. Rasa senang membaca dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain karena tahu manfaat membaca, serta menyadari bahwa buku-buku dan bahan pustaka lainnya yang baik dapat memperluas pengetahuannya. Salah satu tugas guru dalam rangka memfungsikan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar adalah menumbuhkan rasa senang membaca pada siswa-siswa. Sebab apabila pada diri siswa ada minat membaca, ia akan senang membaca dan memanfaatkan perpustakaan sekolah dengan maksimal.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Menurut (Anjani, Dantes, dan Arawan, 2019: 75), minat baca adalah kecenderungan jiwa seseorang secara mendalam yang ditandai dengan perasaan senang serta berkeinginan kuat untuk membaca tanpa adanya paksaan. Terdapat beberapa usaha yang dapat dilakukan oleh guru untuk menumbuhkan rasa senang membaca siswa, antara lain: 1) memperkenalkan buku-buku; 2) memperkenalkan riwayat hidup tokoh-tokoh, memperkenalkan hasil-hasil karya sastrawan; 3) memperkenalkan karya tokoh-tokoh, khususnya sastrawan guru sambil menyebutkan hasil karyanya; 4) memberikan reward kepada siswa yang rajin berkunjung dan membaca di perpustakaan sekolah; dan 5) koleksi bahan pustaka berupa non book seperti majalah, koran, peta, globe, gambar komik, novel, cerpen dan lain-lain. Hal ini penting karena dapat menjadi motivator bagi siswa atau anak. Dengan bahan pustaka yang bervariasi, maka siswa akan tertarik dan selalu mengunjungi perpustakaan sekolah dan siswa menjadi gemar membaca.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Perpustakaan bukan merupakan hal yang baru di kalangan masyarakat, di mana-mana telah diselenggarakan perpustakaan, seperti di sekolah-sekolah, baik sekolah umum maupun sekolah kejuruan, baik sekolah dasar maupun sekolah menengah. Begitu pula di kantor-kantor, bahkan sekarang telah digalakkan perpustakaan-perpustakaan umum baik di tingkat kabupaten sampai dengan di tingkat desa. Tetapi, walaupun bukan merupakan hal yang baru, masih banyak orang yang memberikan definisi yang salah terhadap perpustakaan. Banyak orang yang mengasosiasikan perpustakaan itu dengan buku-buku, sehingga setiap tumpukan buku di suatu tempat tertentu disebut perpustakaan. Padahal tidak semua tumpukan buku itu dapat dikatakan perpustakaan.

Sutarno (2006 : 11) berpendapat bahwa perpustakaan berasal dari kata pustaka, yang berarti buku. Setelah mendapatkan awalan per dan akhiran -an menjadi kata perpustakaan, yang berarti kitab-kitab atau kumpulan buku yang disebut koleksi bahan pustaka. Istilah tersebut berlaku untuk perpustakaan yang masih bersifat tradisional atau perpustakaan konvensional. Untuk perpustakaan modern, dengan paradigma baru (kerangka berpikir atau model teori ilmu pengetahuan), koleksi perpustakaan tidak hanya terbatas berbentuk buku, majalah, koran, atau barang tercetak. Koleksi perpustakaan telah berkembang dalam bentuk rekaman dan digital. Selanjutnya, buku dan bahan pustaka yang lain harus di susun rapi di rak dan tempat-tempat yang sudah ditentukan di ruangan atau gedung tersendiri, setelah diolah atau diproses menurut suatu sistem tertentu.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Secara sederhana, minat baca adalah potensi untuk membaca secara suka-rela. Kebiasaan membaca adalah kegiatan berinteraksi dengan bahan bacaan secara teratur atau berulang. Minat baca akan menjadi kebiasaan membaca jika tersedia bahan bacaan yang sesuai untuk dibaca dan ada cukup waktu untuk membaca. (*)