Permainan Tradisional Asah Kecerdasan Anak

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi alias Kak Seto (ANTARA/JOGLO JATENG)

JAKARTA, Joglo Jateng – Permainan tradisional yang populer di kalangan anak-anak seperti gobak sodor dapat melatih berbagai kecerdasan anak. Pasalnya, permainan tradisional termasuk dalam kategori bermain aktif di mana anak-anak bergerak secara aktif.

“Kecerdasan fisik, kognitif, kreativitas, sosial emosional, moral, semua terpadu dalam kegiatan bermain bersama,” kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi alias Kak Seto, Kamis (25/8).

Manfaatnya, ia mencontohkan, seperti permainan beregu gobak sodor di lapangan bujur sangkar. Di mana tiap pemain harus berusaha melewati garis pembatas tanpa tersentuh lawan. Misalnya membuat anak belajar mengasah logika karena dia harus memikirkan strategi agar bisa melewati halangan.

Baca juga:  Ajarkan Siswa Mandiri Melalui Budidaya Jamur Tiram

Di sisi lain, lanjutnya, anak juga harus berpikir kreatif dalam mengatur cara agar bisa mengecoh lawan dan berhasil melewati garis. Kejujuran anak juga diuji lewat permainan tradisional, ketika memang disentuh oleh lawan, anak belajar untuk betul-betul mengaku kalah dan hal itu melatih kecerdasan moral. “Kalau kalah, tidak boleh ngambek, marah atau baper. Itu kecerdasan emosional,” ucap Kak Seto.

Menurutnya, bermain di luar rumah sangat penting untuk anak. Supaya mereka kembali menemukan dunia indah serta menyalurkan energi mereka lewat aktivitas fisik.

Kak Seto menegaskan, bermain adalah hak anak untuk bisa tumbuh dan berkembang secara sehat. Selain bermain aktif, ada juga bermain pasif di mana anak-anak terhibur lewat menonton televisi, pertunjukan teater atau melihat aneka hiburan lewat gawai. “Bermain pasif dan aktif sama-sama penting,” imbuhnya.

Baca juga:  Dukung Kreativitas, Pamerkan Karya Tari Bagi Siswa

Dengan bermain, ia menjelaskan, anak bisa meluapkan perasaan negatif. Sehingga terhindar dari depresi dan rasa frustrasi yang dapat membuat mereka terlibat perilaku menyimpang.

Menurutnya, agar anak-anak lebih semangat bermain secara aktif, perlu partisipasi dari orang tua atau orang dewasa untuk aktif bermain karena anak adalah peniru ulung. Bila orang tua lebih sering terlihat berfokus pada gawai, maka anak-anak pun akan cenderung malas untuk bergerak.(ara/ziz)