Dongkrak Hasil Belajar Matematika dengan Role Playing

Oleh: Tuti Alawiyah, S.Pd.
Guru SDN 02 Jebed, Kec. Taman, Kab. Pemalang

SEORANG guru yang baik harus memiliki standar kompetensi pedagogis, yang salah satu aspeknya adalah menguasai metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Guru dituntut untuk mampu memilih dan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang hendak dicapai agar memperoleh hasil belajar yang baik, dibuktikan dengan ketuntasan belajar siswa. Namun demikian, dalam menerapkan suatu model pembelajaran, guru harus menyesuaikannya dengan kondisi dan latar belakang siswa di kelasnya.

Selamat Idulfitri 2024

Mengaitkan pembelajaran di dalam kelas dengan kehidupan nyata siswa sehari-hari, diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan. Selain belajar, siswa juga diajak untuk berpikir dan mempraktikkan pembelajaran ke dalam kehidupan sehari-hari mereka. Salah satu model pembelajaran yang dipilih guru pada muatan matematika di kelas 2 SDN 02 Jebed, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang yaitu role playing atau bermain peran. Dengan bermain peran, siswa seolah-olah mengalami sendiri sesuai peran yang dimainkan.

Djamarah (2010) mengatakan bahwa model role playing dapat dikatakan sama dengan sosiodrama, yang pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial. Bermain peran atau role playing pada prinsipnya merupakan pembelajaran dengan menghadirkan peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu pertunjukkan peran di dalam kelas, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar siswa dapat memberikan penilaian terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan, dan kemudian memberikan saran/alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut.

Tahapan atau langkah-langkah pembelajaran matematika dengan role playing dapat dilakukan sebagai berikut: 1) tahap persiapan atau pemanasan. Role playing diawali dengan persiapan yaitu guru memperkenalkan siswa pada permasalahan atau sebuah kasus yang berhubungan dengan materi yang tengah dipelajari; 2) memilih pemain/pemeran drama; 3) mendekorasi ruang kelas; 4) memainkan peran. Role playing dilaksanakan secara spontanitas. Mungkin pada awalnya banyak siswa akan mengalami kebingungan dalam memainkan perannya Tidak menutup kemungkinan juga ada yang memainkan peran yang bukan perannya; 5) diskusi dan evaluasi. Ketika ada hal yang menyimpang, guru dapat menghentikan drama, lalu mengajak siswa untuk duduk bersama dan mendiskusikan permainan tadi; 6) bermain peran ulang. Berdasarkan hasil diskusi dan evaluasi, siswa dapat melakukan kegiatan bermain peran kembali; 7) diskusi dan evaluasi. Pada kegiatan diskusi dan evaluasi yang kedua ini, guru dapat mengarahkan pada realitas kehidupan nyata; 8) berbagi pengalaman dan menyimpulkan. Setelah siswa dapat melakukan perbandingan antara cerita dan realitas, guru mengajak siswa untuk berbagi pengalaman mereka yang berkaitan dengan tema role play yang telah dilakukan.

Keunggulan model pembelajaran role playing menurut Djamarah (2010) antara lain: a) siswa dapat melatih diri untuk memahami dan mengingat isi bahan yang akan didramakan; b) siswa menjadi terlatih untuk berinisiatif dan kreatif; c)memupuk bakat siswa; d) melatih kerja sama; e) siswa memiliki kebiasaan untuk menerima dan berbagi tanggung jawab; f) melatih bahasa lisan siswa.

Dengan melihat kelebihan role playing, model pembelajaran ini sangat efektif dalam meningkatkan hasil belajar matematika di kelas 2. Oleh sebab itu, penulis menyarankan agar model ini digunakan pada kompetensi dan muatan pelajaran lain karena terbukti siswa mengalami peningkatan hasil belajar yang signifikan. Selain itu, model pembelajaran ini tidak memerlukan biaya yang besar. (*)