Pantang Menyerah, Mahasiswa UPGRIS Berhasil Raih Juara 2 Pekan Seni Mahasiswa

SUKSES: Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UPGRIS, Ema Afriyani saat meraih juara 2 Penulisan Puisi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Tengah 2022. (HUMAS/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng- Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Ema Afriyani berhasil meraih juara 2 Penulisan Puisi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Tengah.

Dalam Peksimida 2022 yang diadakan di Universitas Pancasakti Tegal tersebut, Ema berhasil menggeser 33 peserta lainnya dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta yang ada di Jawa Tengah.

Selamat Idulfitri 2024

Ema menjelaskan bahwa dirinya sempat mengalami kendala dalam proses mengikuti lomba. Namun ia tidak menyerah untuk terus berproses dan meningkatkan kualitas dirinya.

“Sebab memang ada kendala tersendiri yang saya hadapi dalam proses selama menuju perlombaan penulisan puisi Peksimida itu. Tapi saya mendapat dukungan untuk terus berproses lagi, belajar lagi,” ungkap Ema.

Bahkan, dalam proses pembuatan karya sastranya, Ema mengatakan bahwa proses belajarnya tidak hanya terkait cara menuliskan kata-kata, tetapi juga belajar melawan rasa takut yang ada di dalam dirinya.

Baca juga:  Jadi Baromater, Polda Jateng Evaluasi Kesiapan Jalur Mudik

“Tapi selama proses ini pun ada suka dukanya. Senangnya, saya mendapat bacaan yang banyak. Dukanya, tidak tenang dan takut gagal,” terangnya.

Dalam proses tersebut, Ema didampingi oleh mentornya, Naka Andrian yang juga merupakan seorang penyair serta pengajar dari Prodi PBSI UPGRIS. Dari keterangannya, Ema mengaku jika Naka memiliki peran penting di dalam prosesnya tersebut.

“Sempat terkendala sampai membuat kepala pusing. Tapi akhirnya beberapa hari sebelum perlombaan, saya berdiskusi dengan Pak Naka. Dan kemudian Pak Naka menekankan, kalau perlombaan ini jangan diangkat sebagai beban, karena penulisan puisi itu ibadah. Yang harus dilakukan dengan keikhlasan hati. Dari hal itu, hati saya mulai tergerak,” jelas Ema.

Sementara itu, Naka mengatakan bahwa Ema memang memiliki energi yang besar dalam berproses. Dalam proses pendampingannya pun, Naka berupaya untuk tidak membentuk karakter dari Ema, tetapi lebih pada membantu menggerakkannya.

Baca juga:  45 Rumah di Semarang Rusak akibat Bencana

“Ema terhitung masih sangat belia, ia baru hendak masuk semester tiga, akan tetapi ia memiliki energi besar dalam berproses. Dan satu hal yang berupaya saya tanamkan kepada Ema, saya sama sekali tidak ingin membentuknya, akan tetapi berupaya untuk menggerakkannya,” ungkap Naka.

Naka juga mengatakan bahwa keikutsertaan Ema dalam Peksimida 2022 tersebut terhitung sebagai aksi Ema yang keluar jalur dari apa yang biasanya Ema lakukan.

“Ia sebelumnya mengaku sama sekali belum pernah menulis puisi dengan serius seperti yang dilakukannya ketika hendak mengikuti ajang Peksimida ini. Sebelumnya malah ia kerap kali menulis cerpen dan berhasil dimuat di beberapa media massa,” imbuhnya.

Menanggapi mahasiswanya yang mampu berprestasi di luar kampusnya, Rektor UPGRIS, Sri Suciati memaparkan bahwa prestasi yang diperoleh Ema menjadi bukti bahwa mahasiswa UPGRIS memiliki potensi yang hebat.

Baca juga:  Jelang Idulfitri, Satpol PP dan Dinsos Kota Semarang Tertibkan PGOT

“Semoga capaian prestasi pada pekan seni mahasiswa daerah kali ini menjadi motivasi bagi mahasiswa baru. Terima kasih sudah membawa nama baik UPGRIS di kancah Peksimida,” tuturnya.

Ketua Program Studi PBSI, Eva Ardiana Indrariani juga memberikan apresiasinya untuk keberhasilan Ema.

“Sungguh membanggakan. Ema, mahasiswa PBSI UPGRIS dengan ketekunan dan semangat tingginya, mampu meraih juara mengalahkan peserta dari kampus lainnya. Selamat Ema, teruslah menjadi berarti!” paparnya.

Adapun karya yang berhasil ditorehkan Ema dan kemudian dijadikan buku bersama karya penulis yang lainnya yaitu “Mantra dan Harum Kertas” karya Ema Afriyani, dkk. (Buku Kumpulan Esai, 2021) dan Harum Rumah yang Rebah di Tubuhku” karya Ema Afriyani, dkk. (Buku Kumpulan Puisi, 2022).

(hms/mg2)