Penggunaan Media Konkret pada Pembelajaran IPA

Oleh: Catur Budiningsih, S.Pd.SD.
Guru SDN Donorejo 1, Kec. Karangtengah, Kab. Demak

ILMU pengetahuan dan teknologi berkembang dengan sangat cepat. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sangat diperlukan sebagai bekal hidup di masa depan. Peserta didik tidak hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang konsep semata, bukan hanya sebagai produk saja, tetapi juga sebagai sebuah proses yang menjelaskan bahwa sebuah pemahaman suatu konsep perlu adanya proses terlebih dahulu.

Selamat Idulfitri 2024

Teori perkembangan kognitif Jean Piaget atau teori Piaget menunjukkan bahwa kecerdasan berubah seiring dengan pertumbuhan anak. Anak pada usia 7-11 berada dalam Tahap Operasional Konkret. Tahapan ini ditandai dengan perkembangan pemikiran yang terorganisir dan rasional. Piaget menganggap tahap konkret sebagai titik balik utama dalam perkembangan kognitif anak, karena menandai awal pemikiran logis.

Proses pembelajaran IPA yang terpusat pada guru terjadi di SD Negeri Donorejo 1. Dampak dari masalah tersebut adalah penurunan prestasi belajar peserta didik. Sedikitnya sumber belajar dan terbatasnya media atau alat peraga merupakan salah satu penyebab. Pembelajaran lebih bersifat searah dan membosankan. Tidak mengherankan apabila rata-rata pelajaran IPA materi Perubahan Wujud Zat pada peserta didik kelas V tahun pelajaran 2021/2022 tidak memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 70. Dari 22 peserta didik, hanya 7 peserta didik atau 32% yang mencapai target ketuntasan belajar, sedangkan 15 atau 68% peserta didik belum mencapai hasil yang memuaskan. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu adanya media pembelajaran konkret.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Menurut Surayya (2014: 4), media pembelajaran adalah sarana fisik untuk memberikan perangsang bagi peserta didik supaya proses belajar terjadi atau untuk menyampaikan isi materi pembelajaran baik audio, visual, maupun audiovisual. Media konkret merupakan alat bantu yang paling mudah penggunaannya, karena kita tidak perlu membuat persiapan selain langsung menggunakannya. Menurut Ibrahim dan Syaodih (2003: 119), media benda konkret adalah objek sesungguhnya yang akan memberikan rangsangan yang amat penting bagi peserta didik dalam mempelajari berbagai hal, terutama yang menyangkut pengembangan keterampilan tertentu. Penggunaan benda konkret dalam pembelajaran dapat memberikan stimulus yang penting bagi peserta didik dalam mempelajari berbagai ilmu, terutama yang menyangkut keterampilan dan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Tahap pertama pembelajaran menggunakan media pembelajaran konkret adalah guru menjelaskan konsep-konsep dasar materi Perubahan Wujud Zat dengan metode ceramah, kemudian guru menerapkan media konkret dalam pembelajaran. Adapun media konkret yang dipergunakan dalam pembelajaran ini adalah penggunaan kapur barus untuk menjelaskan konsep menyublim dan mengkristal, penggunaan air untuk menjelaskan konsep menguap, dan mengembun serta penggunaan es batu untuk menjelaskan konsep mencair. Peserta didik yang terdiri dari 22 peserta didik dibagi menjadi 5 kelompok. Setiap kelompok melakukan percobaan sesuai langkah-langkah tertera pada lembar kerja peserta didik.

Tahap selanjutnya adalah pemberian tes untuk menguji ketercapaian tujuan pembelajaran. Adapun bentuk tesnya adalah pilihan ganda dan uraian singkat. Pemberian skor sebagai bentuk hasil pengukuran semua tes yang diberikan berdasarkan rubrik penilaian yang dikembangkan. Agar pembelajaran selanjutnya berjalan lebih baik lagi, maka guru melakukan refleksi pembelajaran berupa identifikasi kesulitan-kesulitan peserta didik dalam pembelajaran, khususnya selama media konkret digunakan dalam pembelajaran.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Penggunaan media benda konkret memiliki kelebihan dan kelemahan. Salah satu kelebihannya adalah peserta didik bisa langsung mengalami sendiri situasi yang sesungguhnya juga dapat mengamatinya secara langsung pada saat pembelajaran bahkan di rumah sekalipun. Salah satu kekurangannya dalam menggunakan media konkret ini adalah biaya yang diperlukan terkadang tidak sedikit, belum lagi ditambah dengan kemungkinan kerusakan dalam penggunaannya.

Setelah menggunakan media pembelajaran konkret, ada peningkatan peserta didik yang tuntas belajar menjadi 19 peserta didik (86,4%) dari 22 peserta didik. Hal ini membuktikan bahwa dengan diterapkannya media konkret pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada materi Perubahan Wujud Benda. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan media benda konkret dapat memberikan pengalaman belajar secara nyata dan langsung, sehingga peserta didik dapat dengan mudah menguasai konsep pembelajaran dan hasil belajar peserta didik pun akan meningkat. (*)