Penguatan Pendidikan Karakter Sekolah dengan BRILIM

Oleh: Sri Kusmini, S.Pd
Kepala SDN 2 Bakalan Krapyak, Kec. Kaliwungu, KAb. Kudus

DUNIA sangat membutuhkan orang-orang yang berpendidikan. Bukan sekadar berpendidikan saja, melainkan berpendidikan yang berkualitas. Hal ini dikarenakan adanya kemajuan zaman yang menuntut kualitas pendidikan menjadi salah satu hal pokok dan penting dalam kehidupan. Dengan adanya pendidikan yang berkualitas, maka diharapkan dapat menghasilkan generasi yang berkualitas pula.

Selamat Idulfitri 2024

Indonesia merupakan salah satu negara yang selalu ingin meningkatkan kualitas pendidikan. Pemerintah telah menerapkan kurikulum yang telah disesuaikan dengan perkembangan zaman. Seiring adanya program nawacita pemerintah yang salah satunya adalah revolusi mental, maka dalam pelaksanaan kurikulum 2013 tidak hanya menitikberatkan pada aspek kognitif saja, melainkan juga pendidikan karakter sangat diutamakan. Orang-orang pada zaman ini tidak hanya melihat pada betapa tinggi pendidikan ataupun gelar seseorang, melainkan juga pada karakter pribadinya.

Dalam penerapan pendidikan karakter, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang menjadikan pendidikan karakter sebagai platform pendidikan nasional untuk membekali peserta didik sebagai generasi emas tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan (Pasal 2). Perpres ini menjadi landasan awal untuk kembali meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Dengan menempatkan kembali karakter sebagai ruh pendidikan di Indonesia, berdampingan dengan intelektualitas, PPK berperan dalam pembentukan generasi muda yang tangguh, cerdas, dan berkarakter.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Pada intinya, PPK mempergunakan tiga basis pendekatan utama PPK, yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, pendidikan karakter berbasis budaya sekolah, dan pendidikan karakter berbasis masyarakat. Tiga pendekatan ini merupakan pendekatan pendidikan karakter utuh dan menyeluruh yang harus diterapkan di satuan pendidikan. Pendidikan karakter berbasis kelas berbicara tentang bagaimana relasi atau hubungan antara guru dan peserta didik dalam konteks pemelajaran formal isi kurikulum. Selain itu, dalam pendekatan ini, bagaimana guru mengintegrasikan nilai-nilai pembentukan karakter dalam proses pembelajaran yang terintegrasi dalam kurikulum menjadi sangat penting.

Pendidikan karakter berbasis budaya sekolah merupakan pembentukan karakter yang dilakukan melalui berbagai macam kegiatan yang melibatkan seluruh anggota komunitas sekolah, namun masih terbatas sebagai kegiatan sekolah di lingkungan sekolah. PPK berbasis budaya sekolah dilaksanakan antara lain melalui hal-hal sebagai berikut: menekankan pada pembiasaan nilai-nilai karakter dalam keseharian sekolah, menonjolkan keteladanan orang dewasa di lingkungan sekolah, melibatkan seluruh ekosistem pendidikan di sekolah, mengembangkan dan memberi ruang yang luas pada segenap potensi peserta didik melalui kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, memberdayakan manajemen dan tata kelola sekolah, serta mempertimbangkan dan mengevaluasi norma, peraturan, dan tradisi sekolah.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Peran kepala sekolah dalam PPK dapat dilakukan pada pendekatan berbasis budaya sekolah ini. Pelaksanaan Brifing Lima Menit (BRILIM) setiap pagi yang dilakukan kepala sekolah kepada para siswa ternyata sangat efektif dalam pembentukan karakter siswa. Setelah melaksanakan pembiasaan pagi, yaitu menyanyi bersama lagu Indonesia Raya, berdoa, dan membaca Asmaul Husna, kepala sekolah memberikan arahan lima menit sehubungan dengan pembentukan delapan belas nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter yang meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

BRILIM memberi kesempatan kepala sekolah berinteraksi secara langsung kepada para siswanya setiap hari dalam proses pembentukan karakter. Jika selesai salat berjamaah ada istilah kultum (kuliah tujuh menit) maka dalam penanaman pendidikan karakter usai pembiasaan pagi bisa kita laksanakan alim (arahan lima menit). Pembentukan karakter pada generasi muda adalah tanggung jawab kita bersama.

Pendidikan karakter berbasis masyarakat adalah berbagai macam bentuk kolaborasi antara sekolah dengan pihak lain di luar lingkungan sekolah, terutama orang tua, dalam bentuk komite sekolah, atau kerja sama sekolah dengan lembaga-lembaga dan komunitas lain yang mendukung proses pembentukan karakter peserta didik. Mari kita sukseskan bersama pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), baik melalui pendekatan kelas, budaya sekolah maupun berbasis masyarakat. (*)