Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Sekolah Dasar dengan RME

Oleh: Ida Sumaryana, S.Pd
Guru SD 2 Bakalan Krapyak, Kec. Kaliwungu, Kab. Kudus

PENDIDIKAN merupakan sebuah upaya untuk mengembangkan kualitas manusia. Dalam sebuah pendidikan, terdapat proses kegiatan proses yaitu belajar mengajar. Salah satu faktor penentu keberhasilan proses pembelajaran adalah seorang guru. Di dalam sebuah pendidikan di sekolah khususnya sekolah dasar (SD), terdapat sebuah mata pelajaran (mapel) yaitu matematika.

Selamat Idulfitri 2024

Matematika merupakan mapel yang ada di Indonesia yang abstrak. Pembelajaran mapel matematika yang ada di SD memiliki peranan yang sangat besar terhadap kemampuan siswa, di antaranya siswa sanggup berpikir dan memecahkan masalah di kehidupan sehari-hari. Sehingga dengan adanya latihan pemecahan masalah matematika, diharapkan siswa dapat kritis, kreatif, mempertajam, dan melatih penalarannya dalam membuat keputusan menyelesaikan permasalahan matematika di kehidupan sehari-hari.

Agar dapat memecahkan sebuah soal pemecahan masalah matematika, maka kita perlu memahami soal dengan menuliskan permodelan matematika dari soal tersebut, merencanakan bagaimana cara penyelesaiannya, kemudian menerapkan penyelesaiannya, apabila sudah selesai kemudian diperlukan pengecekan agar kita bisa lebih yakin dengan penyelesaian yang kita kerjakan. Langkah memecahkan masalah matematis yaitu: a. Memahami suatu permasalahan; b. Merencanakan bagaimana penyelesaian dari permasalahan dengan menuliskan rumus; c. Menyelesaikan permasalahan; d. Memeriksa lagi hasil yang telah diperoleh dalam memecahkan masalah dengan menuliskan kesimpulan jawaban.

Permasalahan dalam pendidikan di SD adalah rendahnya hasil belajar pada mapel matematika. Hal itu dikarenakan terdapat banyak sekali rumus yang harus dihafal dalam matematika, dan kebanyakan guru tidak menjelaskan asal mula rumus itu terbentuk, sehingga siswa kurang menguasai konsep dan apabila siswa dihadapkan dengan soal pemecahan masalah siswa tidak bisa menyelesaikannya.

Pembelajaran matematika dikenal sebagai mapel yang sulit, tidak menyenangkan, dan menakutkan. Sehingga untuk mengubah pandangan siswa yang kurang baik tentang matematika, maka pembelajaran matematika saat ini perlu dikembangkan dengan menggunakan model dan metode yang melibatkan penuh keaktifan siswa dalam pembelajaran. Sehingga pembelajaran lebih menarik didukung dengan sebuah alat peraga atau media untuk menambah daya tarik siswa untuk fokus ke materi yang diajarkan.

Supaya dapat mengubah pola pikir peserta didik, maka guru membutuhkan sebuah model dalam pembelajaran yang bisa menambah kemampuan siswa di dalam memecahkan masalah pada mapel matematika. Pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan yaitu dengan model pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME).

Fokus utama RME adalah gagasan yang terbentuk dari hasil aktivitas manusia dan proses realitas matematika. RME is one of the potential methods including open problem-based, problem solving of real world” (Hidayat, Iksan, 2015: 2439). RME membawa siswa ke dunia nyata dari pengalaman sehari-hari, sehingga pelajaran yang dipelajari di kelas matematika tidak terpisah dari dunia nyata. Hal ini berkaitan dengan teori Jean Piaget, di mana peserta didik usia SD yaitu tujuh sampai sebelas tahun berada pada tingkat perkembangan kognitif operasi konkret.

Langkah-langkah RME adalah sebagai berikut: 1) Memahami permasalahan kontekstual; 2) Menyelesaikan permasalahan kontekstual; 3) Membandingkan jawaban dan mendiskusikan jawaban tersebut; 4) Menarik sebuah kesimpulan berupa materi. Model pembelajaran ini diawali dari pengalaman sehari-hari atau realitas matematik, sehingga siswa dapat menyelesaikan pemecahan masalah matematika.

Melalui pembelajaran RME, siswa dapat mengembangkan kemampuan, salah satunya pemecahan masalah. Dalam sebuah pembelajaran RME, siswa harus dapat berperan secara aktif dalam diskusi kelompok, dan dapat kreatif menemukan solusi untuk memecahkan permasalahan yang sedang diajukan, terjalinnya interaksi dengan teman maupun guru, dan saling bertukar pikiran. Sehingga siswa dapat mengembangkan wawasan dan daya pikir mereka. Hal tersebut membantu siswa dalam memperdalam pemahaman tentang materi yang dipelajari, sehingga diharapkan siswa mampu memecahkan berbagai macam masalah tentang materi tersebut. (*)