Antusias dan Hasil Belajar Materi Kitab-kitab Suci Allah dengan Metode Kisah

Oleh: Muhamad Samarqondi, S.Pd.I.
Guru SDN 03 Widuri, Kec. Pemalang, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN merupakan komponen yang paling penting dan strategis dalam menentukan pembelajaran. Fungsi dan metode dalam pembelajaran tidak dapat diabaikan, karena metode merupakan aspek pendukung yang harus ada di dalam proses pembelajaran. Secara faktual, sering ditemukan peserta didik kurang berpartisipasi dalam hal mengajukan pertanyaan mengenai materi yang belum dipahami. Seperti halnya yang terjadi di SD Negeri 03 Widuri. Keaktifan peserta didik dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pendidik serta kurangnya keberanian peserta didik mengemukakan pendapat di depan teman-teman yang lain.

Selamat Idulfitri 2024

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka diperlukan metode atau strategi pembelajaran yang tepat, sehingga dapat menarik minat dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran tidak berlangsung monoton dan peserta didik memperoleh pengalaman baru, sehingga dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar peserta didik.

Kisah dalam Al-Quran memiliki nilai-nilai atau pelajaran yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan. Kisah dapat dijadikan sebagai salah satu metode pembelajaran. Misalnya menceritakan atau mengisahkan para nabi dalam berdakwah menegakkan kebenaran. Berkisah juga dapat menghilangkan kebosanan anak dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Kisah merupakan sarana yang amat mudah untuk mendidik manusia. Metode ini juga sangat banyak dijumpai dalam Al-Quran. Bahkan kisah-kisah dalam Al-Quran sudah menjadi kisah-kisah populer dalam dunia pendidikan.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Menurut Armai Arief (2002), metode kisah disebut juga dengan metode cerita, yakni cara mendidik dengan mengandalkan bahasa, baik lisan maupun tertulis dengan menyampaikan pesan dari sumber pokok sejarah Islam, dalam hal ini adalah Al-Quran dan Al-Hadits. Metode kisah juga mengandung arti suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menuturkan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya sesuatu hal baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan saja.

Metode kisah yang terdapat di dalam Al-Quran memiliki tujuan pokok, yaitu untuk menunjukkan fakta kebenaran. Kebanyakan dalam surah Al-Quran berisi kisah tentang kaum terdahulu, baik dalam makna sejarah yang positif maupun negatif. Terdapat 30 surah yang dinamakan menurut tema pokok cerita di dalamnya, seperti Surah Yusuf, Surah Ibrahim, Surah Bani Israel, Surah Jinn, Surah Al Kahfi, Surah Hud, Surah Yunus, Surah Maryam, Surah Luqman, Surah Muhammad, dan Surah Al Fiil. Di antaranya mengandung cerita yang sepenuhnya bertemakan pokok sesuai tokoh yang diceritakan seperti Surah Yusuf. Cerita tentang bangsa-bangsa (umat atau kaum) terdahulu tidak begitu diulang-ulang seperti cerita tentang Bani Israel, Kaum Aad, dan kaum Tsamud. Kitab-kitab suci yang diturunkan kepada rasul-rasul Allah dapat disampaikan dengan menggunakan metode kisah.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Guru yang mampu memberikan informasi dalam penyampaian kisah akan menimbulkan semangat dan pemahaman anak terhadap pelajaran yang diterima dari cerita tersebut. Sebaiknya, kisah diberikan secara menarik dan membuka kesempatan kepada anak didik untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah guru selesai berkisah. Kisah juga disesuaikan dengan materi pelajaran yang sedang dibahas, sehingga akan menimbulkan semangat dan pemahaman kepada anak didik terhadap pelajaran tersebut. Dari kisah tersebut, peserta didik dapat mengambil pelajaran dan kesan yang baik. Sehingga mereka dapat meniru dari apa yang baik yang terdapat dalam kisah tersebut.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Dengan memberikan cerita, diharapkan peserta didik mempraktikkannya sehingga dapat membina akhlak. Memberikan contoh yang baik kepada peserta didik, bisa juga melalui profil atau sikap dan tingkah laku pendidik yang baik diharapkan peserta didik menirunya, tanpa pendidik memberikan contoh pembinaan akhlak, akan sulit sekali dicapai. Metode kisah terbukti dapat meningkatkan minat belajar peserta didik pada pembelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti (PABP) di SD Negeri 03 Widuri. Hal tersebut dapat dilihat dengan tercapainya indikator keberhasilan, yaitu dengan nilai akhir peserta didik di rata-rata 86 dari standar nilai rata-rata 75. (*)