Dongkrak Hasil Belajar IPA dengan Snowball Throwing

Oleh: Faridha Inayati, S.Pd.
Guru SDN Sambung 1, Kec. Gajah, Kab. Demak

BELAJAR merupakan proses yang dilakukan untuk memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Artinya, seseorang yang telah belajar akan mengalami perubahan pada dirinya baik dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Sedangkan mengajar adalah proses penyampaian pengetahuan. Proses belajar mengajar merupakan dua konsep terpadu yang tidak bias dipisahkan. Dalam proses belajar mengajar inilah diperlukan interaksi antara guru dan siswa, sehingga dapat mencapai kualitas dan hasil pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Selamat Idulfitri 2024

Kualitas dan hasil pembelajaran yang didapat oleh siswa juga dipengaruhi oleh kemampuan yang dimiliki oleh siswa itu sendiri yaitu motivasi, minat, kebiasaan, sosial ekonomi, fisik, maupun psikis siswa. Namun, guru merupakan faktor yang dominan dalam mempengaruhi kualitas dan hasil belajar siswa. Syaiful Bahri Djamarah (2016: 105) menyatakan bahwa hasil belajar adalah suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK)-nya dapat tercapai.

Berdasarkan pengamatan saat pembelajaran IPA di Kelas 5 SD Negeri Sambung 1, Kec. Gajah, Kab. Demak selama ini respons siswa tidak terlalu menyenangkan. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya motivasi dari hasil belajar IPA siswa, kurangnya sarana, dan prasarana dalam pembelajaran. Guru lebih aktif dalam pembelajaran dan siswa pasif dalam pembelajaran. Siswa hanya menerima informasi dari guru saja sedangkan rasa ingin tahu siswa sangat rendah. Untuk mengatasi hasil belajar yang kurang maksimal dan meningkatkan kemampuan siswa, maka penulis menerapkan model Pembelajaran Snowball Throwing, yakni merupakan model pembelajaran dengan menggunakan bola pertanyaan dari kertas yang digulung bulat berbentuk bola kemudian dilemparkan secara bergiliran di antara sesama anggota kelompok.

Istarani (2019:92) menyatakan bahwa snowball throwing merupakan rangkaian penyajian materi, lalu membentuk kelompok dan ketua kelompoknya yang kemudian masing-masing kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya serta dilanjutkan dengan masing-masing siswa diberi satu lembar kertas, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompoknya. Dengan demikian, tiap anggota kelompok akan mempersiapkan diri karena pada gilirannya mereka harus menjawab pertanyaan dari temannya yang terdapat dalam bola kertas. Model ini juga memberikan pengalaman kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan menyimpulkan isi berita atau informasi yang mereka dapat dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks.

Ada 7 langkah pembuatan snowball throwing yang dikemukakan oleh Istarani (2011:92), yaitu: Guru menyampaikan materi. Guru membagi kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi. Masing-masing ketua kelompok kembali dan menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru ke temannya. Masing-masing siswa diberi satu lembar kertas, untuk menuliskan satu pernyataan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok. Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama ± 15 menit. Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola secara bergantian, dan penutup.

Kelebihan model pembelajaran snowball throwing ini adalah meningkatkan jiwa kepemimpinan, melatih belajar mandiri, menumbuhkan kreativitas belajar, dan belajar lebih hidup. Sedangkan kelemahan snowball throwing yaitu ketua kelompok sering sekali menyampaikan materi pada temannya tidak sesuai dengan apa yang disampaikan oleh guru kepadanya, sulit bagi siswa untuk menerima penjelasan dari teman atau ketua kelompoknya karena kurang jelas dalam menjelaskannya, sulit bagi siswa untuk membuat pertanyaan secara baik dan benar, sulit dipahami oleh siswa yang menerima pertanyaan yang kurang jelas arahnya sehingga merepotkannya dalam menjawab pertanyaan tersebut, serta sulit mengontrol apakah pembelajaran tercapai atau tidak.

Dengan menggunakan dengan model snowball throwing, nyatanya dapat memberikan keterampilan melihat, sehingga siswa lebih mudah menyerap pelajaran dengan baik, siswa lebih aktif, dan interaktif selama pembelajaran. Model pembelajaran tersebut juga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga berhasil mendongkrak hasil belajar IPA di kelas 5 SD Negeri Sambung 1, Kec. Gajah, Kab. Demak. (*)