Mudah Membuat dan Memahami Kalimat Efektif dengan Cara Efektif

Oleh: Dedy Setiawan, S.Pd.SD.
Guru SDN 01 Jrakah, Kec. Taman, Kab. Pemalang

KEMAMPUAN membuat dan memahami kalimat efektif pada siswa kelas 6 SDN 01 Jrakah, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang belum menunjukkan angka yang signifikan. Ada beberapa faktor penyebabnya, yaitu minat baca yang masih rendah dan kurang efektifnya pemanfaatan perpustakaan sekolah. Perpustakaan masih dianggap sekadar pelengkap, belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung proses pembelajaran. Menghadapi situasi demikian, guru berusaha mencari alternatif atau tips bagaimana meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat dan memahami kalimat efektif.

Selamat Idulfitri 2024

Menurut Rose Kusumaning Ratri (2019: 194), kalimat efektif adalah kalimat yang dapat menyampaikan gagasan secara tepat kepada pembaca. Konsep dasar kalimat efektif menjadi penting untuk dipelajari oleh siswa harus dengan cara yang “efektif”. Siswa dapat mempelajari konsep dasar kalimat efektif secara efektif, yaitu dengan memahami hal-hal yang menyebabkan kalimat menjadi tidak efektif.

Berikut merupakan hal-hal yang perlu dihindari dalam membuat kalimat efektif. Pertama, penggunaan bahasa yang tidak baku. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, kalimat efektif terkait dengan konsep-konsep bahasa baku sehingga tidak dapat menyimpang dari kaidah tata bahasa Indonesia.

Kedua, penggunaan kata-kata yang tidak perlu. Kalimat efektif tidak selalu lebih ringkas, walaupun “ringkas “ menjadi salah satu prinsip dasarnya. Siswa boleh saja memahami bahwa kalimat efektif itu tidak bertele-tele, sederhana, dan hemat kata. Akan tetapi, siswa juga perlu tahu bahwa tidak semua kalimat yang ringkas adalah kalimat efektif. Ringkas dalam kalimat efektif ini berarti “sesuai kebutuhan”. Artinya, kalimat hanya mengandung unsur-unsur yang dibutuhkan dalam kelogisan makna.

Ketiga, penggunaan kata-kata yang maknanya tidak lugas. Kalimat efektif harus lugas atau tegas makna sebab pembahasan kalimat efektif dalam pembelajaran bahasa Indonesia ini memiliki ruang tersendiri. Kalimat yang lugas dapat dipahami sebagai kalimat yang tidak memiliki lebih dari satu makna (tidak mengandung makna konotasi). Contoh: “Kami ucapkan bergunung-gunung terima kasih kepada hadirin.” Frasa “bergunung-gunung” membuat kalimat menjadi tidak lugas sehingga tidak dapat disebut kalimat efektif. Agar menjadi lugas dan efektif maka frasa tersebut perlu dihilangkan.

Keempat, unsur kalimatnya tidak lengkap. Kalimat efektif yang terkenal ringkas dan tidak bertele-tele itu juga harus melewati prinsip kelengkapan unsur. Siswa sebaiknya memahami bahwa kalimat efektif bukan sekedar tidak boros kata melainkan juga harus lengkap unsur-unsurnya sesuai kebutuhan makna. Contoh: ”Pak Bupati suka olahraga sepak bola, tenis, dan bakso malang.” Kalimat tersebut tidak efektif karena ada unsur yang tak terpenuhi, yaitu pada bagian dan bakso malang. Sebab, bakso malang bukanlah nama olahraga. Kalimat tersebut memerlukan satu unsur lagi berupa verba pada bagian dan …. bakso malang. Misalnya: “Pak Bupati suka olahraga sepak bola, tenis, dan makan bakso malang.”

Kelima, terdapat unsur kalimat yang tidak tepat. Jika kalimat telah memiliki unsur yang lengkap dan sudah hemat, selanjutnya penggunaan unsur-unsurnya pun harus tepat. Penggunaan unsur-unsur kalimat yang tidak tepat itu sering terjadi dalam hal pemilihan bentuk kata, penggunaan konjungsi (kata penghubung), atau pola penempatan kata-katanya. Ketidaktepatan ini akan mempengaruhi makna sebagaimana contoh berikut: “Koruptor berhasil ditangkap oleh Komisi Pemberantas Korupsi.” Kalimat tersebut sekilas tampak tidak bermasalah. Namun, ada pemilihan kata yang kurang cermat. Kata “berhasil” pada kalimat tersebut membuat kalimat tidak efektif karena membuat makna kalimat tidak logis dan berpotensi rancu. Kata “berhasil” menimbulkan kerancuan tentang siapa yang berhasil dalam peristiwa tersebut? Koruptor atau KPK? Oleh karena itu, kata berhasil sebaiknya dihilangkan.

Kelima uraian tentang penyebab ketidakefektifan kalimat ini tentu masih bersifat dasar. Kajian kalimat efektif masih terus berkembang dari kalimat sederhana hingga kalimat kompleks. Hal itu menjadi tingkat kesulitan dalam menelaah kalimat efektif. Kesulitan tersebut untuk melatih kecermatan siswa. Sebab, proses pembelajaran kalimat efektif ini sejatinya untuk mengasah logika atau kemampuan bernalar siswa. Selain itu, kemampuan linguistik siswa menyangkut kesadaran tentang makna kalimat dan kaidah bahasa baku pun akan berkembang. (*)