Tutor Sebaya Solusi Learning Loss Pembelajaran PPKn Pascapandemi

Oleh: Kiswati Rahayu Winarni, S.Pd., M.Si.
Guru PPkn SMAN 2 Mranggen, Kabupaten Demak

DENGAN mengacu Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri tertanggal 21 Desember 2021 dengan No. 05/KB/2021, Nomor 1347 Tahun 2021, No. HK.01.08/ Menkes/6678/2021, dan No. 443-5847 Tahun 2021, pembelajaran tatap muka (PTM) 100% diberlakukan. Harapan dari PTM ialah memacu kinerja pembelajaran karena fakta secara daring ternyata tidak dapat maksimal dalam penyampaian materi, sehingga transfer ilmu kurang dipahami peserta didik.

Selamat Idulfitri 2024

Pada kenyataannya, pascapembelajaran daring yang berkepanjangan yang penulis rasakan sekarang ini, siswa menjadi kurang semangat dan tidak fokus dalam menerima pembelajaran, minat belajar mereka rendah. Maka sudah menjadi tugas seorang guru untuk melakukan inovasi dan kreativitas pembelajaran yang bisa menumbuhkan semangat pemahaman dalam belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).

Untuk bisa menciptakan semangat baru dan rasa percaya diri siswa pada penurunan minat belajar (learning loss) dampak pandemi Covid-19, salah satunya adalah dengan metode tutor sebaya. Proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya merupakan pembelajaran yang mandiri, karena siswa menggantikan fungsi guru untuk membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar.

Menurut Arjanggi dan Suptihatin (2010), tutor sebaya adalah suatu metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara memberdayakan siswa yang memiliki daya serap tinggi dari kelompok siswa itu sendiri untuk menjadi tutor bagi teman-temannya. Di mana siswa yang menjadi tutor bertugas untuk memberikan materi belajar dan latihan kepada teman-temannya (tutee) yang belum paham terhadap materi atau latihan yang diberikan guru dengan dilandasi aturan yang telah disepakati bersama dalam kelompok tersebut, sehingga akan terbangun suasana belajar kelompok yang bersifat kooperatif bukan kompetitif.

Yang dipilih sebagai kriteria tutor antara lain sebagai berikut, menurut Satriyaningsih (2008): 1) Memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata siswa satu kelas; 2) Memiliki kecakapan dalam menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru; 3) Mampu menjalin kerja sama dengan sesama siswa; 4) Memiliki motivasi tinggi untuk menjadikan kelompok tutornya sebagai yang terbaik; 5) Dapat diterima dan disenangi siswa yang mendapat program pembelajaran tutor sebaya, sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya kepada guru dan rajin; 6) Tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan; 7) Mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan yaitu dapat menerangkan pelajaran dengan teman sebayanya

Adapun Langkah-langkah pembelajaran menggunakan metode Tutor Sebaya adalah sebagai berikut : 1) Tahap Persiapan. Guru menyiapkan program kegiatan pembelajaran satu pokok bahasan yang dirancang dalam bentuk penggalan-penggalan sub pokok bahasan. Setiap penggalan satu pertemuan yang di dalamnya mencakup judul penggalan tujuan pembelajaran, khususnya petunjuk pelaksanaan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Menentukan beberapa orang siswa yang memenuhi kriteria sebagai tutor sebaya. Kemudian memberikan latihan terlebih dahulu tentang materi bagi para tutor. Dalam pelaksanaan tutorial, siswa yang terpilih menjadi tutor bertindak sebagai guru; 2) Tahap Pelaksanaan. Guru memberikan penjelasan terlebih dahulu tentang materi yang diajarkan, siswa belajar dalam kelompoknya sendiri. Tutor sebaya menanyai anggota kelompoknya secara bergantian akan hal-hal yang belum dimengerti. Jika ada masalah yang tidak terselesaikan barulah tutor meminta bantuan guru, dan guru mengawasi jalannya proses belajar. Guru berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya untuk memberikan bantuan jika ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam kelompok; 3) Tahap Evaluasi. Sebelum kegiatan pembelajaran berakhir, guru memberikan soal-soal latihan kepada anggota kelompok (selain tutor) untuk mengetahui apakah sudah menjelaskan dan menjalankan tugasnya, serta mengingatkan siswa untuk mempelajari sub pokok bahasan sebelumnya.

Mata Pelajaran PPKn khususnya materi kasus pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban warga negara yang diajarkan di kelas XII yang semula kurang diminati untuk sebagian siswa SMA Negeri 2 Mranggen, karena materinya luas, cenderung banyak hafalan, sehingga dianggap membosankan, tidak asyik kata mereka ditambah penurunan minat belajar (learning loss) pasca pandemi Covid-19. Dengan metode tutor sebaya, pembelajaran menjadi lebih menarik, menyenangkan dan menambah semangat, siswa yang malu bertanya dan berpendapat menjadi lebih berani menyampaikan pendapatnya dan terlihat lebih antusias. (*)