Diterpa Corona, Purwati Tetap Bertahan dengan Usaha Telur Asin

  • Bagikan
HASIL: Purwati saat menunjukkan telur asin buatannya di tempat usahanya, belum lama ini. (MUHAMMAD AGUNG PRAYOGA/JOGLO JATENG)

Purwati sempat kasihan dengan beberapa tetangganya yang kena PHK. Namun, alhamdulillah usaha telur asinnya tetap lancar.

TERCATAT sejak 3 Maret 2020, pandemi mulai menyelimuti Indonesia. Virus yang diduga kuat dari China tersebut seolah datang dengan malapetaka. Pasalnya, pedagang atau pengusaha dalam skala besar terpaksa gulung tikar.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi Purwati (45). Laju usaha di sektor telur asinnya tetap bertahan, meskipun digempur oleh pandemi melalui Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Ibu tiga anak itu mengatakan, di tengah himpitan pandemi yang menghampiri, terdapat tetangga di kanan kiri mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Akan tetapi usaha dengan nama ‘Ndog Asin Mbak Pur’ terus berjalan dan stabil.

“Saya bersyukur karena masih diberikan kesempatan menjadi pengusaha dan tetap lancar di tahun-tahun paceklik kemaren. Tapi saya bersedih, lantaran banyak tetangga yang di-PHK dan tidak bisa bekerja,” kata Pur saat ditemui di tempat usahanya, Suwawal Barat, Mlonggo, Jepara, belum lama ini.

Ia menjelaskan, terbangunnya usaha telur asin ini dimunculkan oleh ide anaknya yang kedua, Candra Anung Dwi Wijayanto. Tahun 2015, saat masih bersekolah di SMKN 1 Pakis Aji Jepara anaknya mengusulkannya untuk mencoba usaha tersebut.

Baca juga:  Dosen Undip Bantu Kembangkan UMKM

“Di SMK, Chandra bertemu dengan gurunya (Pak Aji). Ia diajari cara membuat telur asin. Disampaikanlah ke rumah (orangtua). Kami setuju karena akan dibantu stok oleh Pak Guru,” paparnya.

Bermodalkan awal dua juta, Purwati sekeluarga mencoba usaha. Ia mengatakan, percobaan pertama kali hasil sempurna dan siap mendistribusikannya. “Alhamdulillah, eksperimen pertama berhasil. Berkat ide anakku dan ketelatenan bersama sekeluarga. Bermula mencoba 200 butir telur,” jelas dia.

Berkat usaha dan doa, di tahun 2019, ia mencoba dengan modal yang lebih besar, yakni 35 juta. Setelah itu, ternyata berhasil dengan angka penjualan yang naik. “Saya sendiri dulunya merupakan tukang amplas dan sekarang malah jadi pengusaha, sangat bersyukur,” lanjutnya

Bahkan, ia juga membeberkan, di Bulan Sya’ban lalu merupakan momen penjualan yang tinggi hingga 7.000 telur. Padahal untuk hari biasa, hanya berkisar 1.000 telur. (cr2/gih)

  • Bagikan