Pembelajaran dengan Proyek Kolaborasi Berbasis Pendidikan STEAM

Oleh: Kusnardi, S.Pd.
Guru SMPN 5 Pemalang, Kabupaten Pemalang

KEBIJAKAN kurikulum merdeka menjadi tantangan bagi guru pada setiap jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai sekolah menengah. Salah satu kebijakan dalam kurikulum merdeka di antaranya terdapat alokasi waktu jam pelajaran khusus untuk kegiatan proyek kolaborasi antar mata pelajaran. Untuk mempersiapkan hal tersebut para guru di kalangan dinas pendidikan dan kebudayaan Kabupaten Pemalang telah mengadakan berbagai langkah yang di antaranya adalah Bintek Implementasi kurikulum merdeka.

Di SMP Negeri 5 Pemalang pada semester I telah mencoba melaksanakan Pembelajaran proyek kolaborasi antar mata pelajaran. Pada awal pelaksanaan proyek pertama tersebut guru merasa berat untuk melaksanakan, namun demikian setelah pembelajaran proyek mulai berjalan hal tersebut menjadi pembelajaran yang menyenangkan. Adapun pembelajaran proyek yang dikembangkan adalah pembelajaran proyek kolaborasi berbasis pendidikan STEAM.

STEAM adalah sebuah pendekatan pembelajaran interdisiplin yang memadukan antara pengetahuan, teknologi, teknik, seni dan matematika. Kelima disiplin ilmu tersebut menjadi salah satu pendekatan pendidikan secara komprehensif sebagai pola pemecahan masalah melalui pengalaman belajar.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Pendidikan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts dan Mathematics), Science = sains, Technology = Teknologi, Engineering = Teknik, Arts = seni, Mathematics = matematika. Metode pembelajaran STEAM ini disebut sebagai metode yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran abad 21.

Pembelajaran abad 21 adalah pembelajaran yang mempersiapkan generasi abad 21 dengan tiga subyek utama dalam pembelajaran, yaitu: 1) Ketrampilan belajar dan berpikir; 2) Informasi, media, dan teknologi, berinovasi; dan 3) Ketrampilan hidup berkarir. Ketrampilan berpikir yang harus dikuasai peserta didik dalam hal ini adalah berpikir kreatif kritis, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Cara bekerja atau kemampuan untuk bekerja global dan digital adalah peserta didik harus mampu berkomunikasi dan berkolaborasi, baik dengan individu maupun komunitas dan jaringan. Peserta didik juga harus dapat menguasai alat dan teknologi untuk bekerja.

Kegiatan pembelajaran kelas VII di SMP Negeri 5 Pemalang sering mengalami beberapa kendala. Kendala tersebut terjadi karena ada beberapa faktor, seperti keterbatasan ekonomi keluarga peserta didik, minat belajar dan daya dukung orang tua terhadap pendidikan. Karena sebagian orang tua peserta didik kami hidup di daerah pedesaan, sehingga mereka belajar sendiri di rumah tanpa ada motivasi dari orang tua.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Kelas VII sebagai kelas menengah di tingkat SMP dengan penerapan kurikulum baru (kurikulum merdeka) diharapkan mampu menjadi fondasi awal bagi peserta didik untuk menguasai mata pelajaran sesuai dengan jenjangnya. Salah satu program yang dilaksanakan di sekolah kami dalam pembelajaran proyek kolaborasi mata pelajaran berbasis pendidikan STEAM.

Adapun pembelajaran proyek yang dilaksanakan adalah pengolahan sampah organik menjadi kompos dengan tema: Gaya Hidup Berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan keadaan sekolah kami yang termasuk sekolah Adiwiyata. Dalam proyek ini, diharapkan dapat menginspirasi siswa untuk menjadi pioneer lingkungan yaitu mengolah sampah organik menjadi kompos. Alur proyek ini memiliki 7 langkah dalam pelaksanaannya, yaitu: 1. Pengenalan proyek pelajar Pancasila; 2) Berselancar mengembangkan wawasan; 3) Pengumpulan dan pemilahan sampah organik dan anorganik; 4) Kunjungan ke Peternakan hewan; 5) Lakukan yang sesungguhnya; 6) Pengamatan proses Sargempos; 7) Mengembangkan kompetensi, laporan proyek, presentasi proyek dan refleksi.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Melalui proyek ini diharapkan siswa dapat mengembangkan empat dimensi profil pelajar Pancasila, yaitu: beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha Esa, berakhlak mulia, bergotong royong, bernalar kritis dan kreatif. Dengan menguasai kemampuan berkomunikasi, menguasai alat dan teknologi dapat menjadi jembatan bagi mereka untuk menjadi ahli teknologi dan riset dalam bidang sains

Seperti pendapat J.J. Rousseau (2003:69) “Pendidikan memberikan kita pembekalan yang tidak ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutuhkannya pada masa dewasa.”. Respons peserta didik pada materi pembelajaran proyek kolaborasi sangat baik, sehingga diharapkan ke depan mereka lebih menyukai sains dan teknologi untuk memperluas pemahamannya terhadap materi pembelajaran. (*)