Dongkrak Kemampuan Berpikir Kreatif melalui Metode OEL

Oleh: Kulsum, S.Pd.SD.
Guru SDN 03 Klareyan, Kec. Petarukan, Kab. Pemalang

GURU sebagai pendidik tidak hanya sekedar membuat siswa menjadi tahu atau memiliki keterampilan, tetapi juga harus membuat siswa menjadi pribadi yang lebih kreatif. Namun kenyataannya, tidak semua individu muncul sebagai insan yang kreatif. Hal tersebut dapat disebabkan karena rangsangan dari lingkungan, atau proses pembelajaran yang kurang menantang. Bentuk kreatif salah satunya dapat ditunjukkan melalui berpikir kreatif.

Selamat Idulfitri 2024

Menurut Krilik (Ramadhan, 2017), berpikir kreatif diartikan sebagai pemikiran yang orisinal dan memberikan hasil yang kompleks meliputi rumusan ide-ide dan keefektifannya. Berpikir kreatif dipandang penting dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan peserta didik akan memiliki banyak cara dalam menyelesaikan ragam persoalan dengan berbagai persepsi dan konsep yang berbeda.

Pada kenyataannya, yang terjadi di kelas 4 SDN 3 Klareyan siswa kurang dalam berpikir kreatif pada saat mengikuti proses pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa Indonesia, materi membuat pantun. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penulis sebagai guru di kelas 4 SDN 03 Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang menerapkan pembelajaran kooperatif dengan model pembelajaran Open Ended Learning.

Nurina & Retnowati (2015) berpendapat bahwa pembelajaran Open Ended Learning (OEL) merupakan model pembelajaran yang memungkinkan siswa dalam mengembangkan pola pikirnya secara terbuka sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Model pembelajaran OEL adalah suatu model pembelajaran yang memanfaatkan permasalahan yang diformulasikan sedemikian rupa, sehingga memberikan peluang munculnya berbagai macam jawaban dengan berbagai strategi atau cara masing-masing. Pembelajaran model ini dapat melatih dan menumbuhkan orisinalitas ide kreativitas nalar kognitif. Ciri pembelajaran ini adalah tersedianya suatu masalah yang berbentuk keterbukaan sehingga tersedia kemungkinan dan keleluasaan bagi siswa untuk memaknai cara penyelesaian masalah yang sesuai.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Langkah-langkah model pembelajaran OEL menurut Silberman adalah sebagai berikut: a) Persiapan berupa penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat pertanyaan open ended problem; b) Pelaksanaan yang berupa: 1. Pendahuluan, peserta didik menyimak dan menanggapi motivasi; 2. Peserta didik membentuk kelompok kecil; 3. peserta didik mendapatkan pertanyaan open ended; 4. peserta didik berdiskusi bersama mengenai penyelesaian dari pertanyaan open ended problems yang telah di berikan oleh guru; 5. setiap kelompok melalui perwakilannya mengemukakan pendapat atau solusi yang ditawarkan kelompoknya secara bergantian; 6. melalui diskusi peserta didik menganalisis jawaban-jawaban yang telah dikemukakan mana yang benar dan mana yang lebih efektif; 7. kegiatan akhir yaitu peserta didik menyimpulkan apa yang telah dipelajari. kemudian kesimpulan itu disempurnakan oleh guru; c) Evaluasi. Setelah berakhirnya kegiatan pembelajaran, peserta didik mendapatkan tugas secara perorangan.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Kelebihan model pembelajaran OEL menurut Shoimin (2014) adalah sebagai berikut: 1) peserta didik berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan idenya; 2) peserta didik memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan secara komprehensif; 3) peserta didik dengan kemampuan rendah dapat merespons permasalahan dengan cara mereka sendiri; 4) peserta didik secara intrinsik termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan; 5) peserta didik memiliki banyak pengalaman untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.

Berdasarkan pengalaman di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan OEL sebagai model pembelajaran berbasis kooperatif dapat mendongkrak kemampuan berpikir kreatif. Terbukti setelah dilakukan penilaian pada kompetensi menulis pantun, peserta didik dapat mengikutinya dengan nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 70. Dalam pembelajaran, peserta didik dapat bekerja sama dengan aktif, dinamis, dan tumbuh suasana menyenangkan, sehingga prestasi belajar peserta didik juga lebih meningkat. (*)