Pengaruh Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah & Budaya Sekolah terhadap Mutu Sekolah

Oleh: Walid Windu Widagdo, S.Pd.SD. M.Pd.
Kepala SD Jatisono 1, Kec. Gajah, Kab. Demak

PENDIDIKAN merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara yang sesuai dengan Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1. Pendidikan memiliki kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam pembangunan di segala bidang, karena melalui pendidikan akan membentuk sumber daya manusia yang baik, sehingga mampu menjawab berbagai tantangan kemajuan bangsa dan negara di masa mendatang.

Selamat Idulfitri 2024

Mutu pendidikan di Indonesia saat ini telah menjadi perhatian dari berbagai kalangan, tidak hanya pada kalangan pendidikan, tetapi juga masyarakat. Mereka menginginkan munculnya perubahan dalam hal usaha meningkatkan mutu pendidikan. Sekolah dapat dikatakan bermutu apabila di dalam sekolah tersebut terdapat proses pembelajaran yang baik, serta mempunyai lembaga atau badan-badan sekolah yang mampu menangani dan bertanggung jawab atas hasil belajar anak didiknya

Menurut Sallis (2015: 24), ada banyak sumber mutu dalam pendidikan, misal sarana gedung yang bagus, guru yang terkemuka, nilai moral yang tinggi, hasil ujian yang memuaskan, spesialisasi atau kejuruan, dorongan orang tua, bisnis dan komunitas lokal, sumber daya yang melimpah, aplikasi teknologi mutakhir, kepemimpinan yang baik dan efektif, perhatian terhadap pelajar dan anak didik, kurikulum yang memadai. Oleh karena itu, proses pendidikan yang bermutu ditentukan oleh berbagai unsur dinamis yang akan terwujud dalam sekolah itu sendiri dan lingkungannya sebagai suatu kesatuan sistem.

Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan (Mulyasa, 2009: 24). Setiap kepala sekolah memiliki tanggung jawab penuh terhadap seluruh aspek operasional penyelenggaraan sekolah, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, sampai pada kepengawasan. Dalam menjalankan tugasnya, seorang kepala sekolah wajib memiliki 5 (lima) kompetensi yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi supervisi, dan kompetensi sosial (Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 Tanggal 17 April 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah).

Wahyudi (2009: 28) menyatakan bahwa kompetensi kepala sekolah adalah pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan kepala sekolah dalam kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten yang memungkinkannya menjadi kompeten atau berkemampuan dalam mengambil keputusan tentang penyediaan, pemanfaatan, dan peningkatan potensi sumber daya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Nawawi dalam (Mulyasa, 2009: 11) mengelompokkan pelaksanaan kompetensi manajerial kepala sekolah ke dalam dua bidang, yakni bidang manajemen administratif dan operasional. Bidang manajemen administratif yang memfokuskan pada kegiatan perencanaan, organisasi, bimbingan, pengarahan, koordinasi, pengawasan dan komunikasi. Sedang bidang manajemen operasional memfokuskan pada kegiatan tata usaha, kepegawaian, keuangan dan hubungan sekolah dengan masyarakat. Sedangkan fungsi utama kompetensi manajerial kepala sekolah meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan.

Proses pelaksanaan kompetensi manajerial kepala sekolah sebagaimana dipaparkan di atas memberikan implikasi terhadap berbagai komponen sistem pendidikan, baik secara makro, meso maupun mikro. Oleh sebab itu, diperlukan suatu upaya sesuai dengan fungsi pengelolaan dipandang dari sistem, sub sistem, komponen, dimensi, unsur, dan kriteria. Dalam hal ini dapat dikemukakan bahwa pada hakikatnya proses pelaksanaan kompetensi manajerial kepala sekolah merujuk pada upaya untuk mencapai tujuan, yang memerlukan berbagai keterlibatan, suasana pendukung, dan pendekatan sistem sesuai dengan karakteristik sekolah, yang mempunyai visi, misi, fungsi, tujuan, dan strategi pencapaiannya.

Mutu sekolah salah satunya dapat dilihat dari sudut prestasi, yaitu mampu menghasilkan tamatan yang bermutu dalam arti mampu bersaing di lapangan kerja, relevan dalam arti adanya keterkaitan dan kesepadanan dengan kebutuhan masyarakat, baik berkenaan dengan ketenagaan maupun ilmu pengetahuan yang dihasilkan. Mutu sekolah dapat dicapai melalui upaya-upaya yang dapat ditempuh dengan cara meningkatkan kompetensi manajerial kepala sekolah dan mengembangkan budaya sekolah. (*)