Model Pembelajaran Matematika Realistik di Sekolah Dasar

Oleh: Dyarni Winarsih, S.Pd.SD.
Guru SDN 01 Jatirejo, Kec. Ampelgading, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN bukanlah proses memaksakan kehendak oleh guru kepada peserta didik, melainkan upaya menciptakan kondisi yang kondusif bagi perkembangan anak, yaitu kondisi yang memberi kemudahan kepada anak untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Ini berarti bahwa di dalam proses pendidikan anak aktif mengembangkan diri dan guru aktif membantu menciptakan kemudahan untuk perkembangan yang optimal itu.

Selamat Idulfitri 2024

Penggunaan media dalam pengajaran matematika merupakan bagian dari strategi pengajaran matematika, maka media dan metode dalam pengajaran matematika yang memadai adalah media dan metode yang dikaitkan dengan tujuan pengajaran matematika. Untuk pembelajaran matematika kelas IV Kurikulum Merdeka Belajar, anak-anak masih banyak yang belum fokus sehingga tidak memahami konsep dan berdampak pada hasil evaluasi yang begitu rendah. Memilih model pembelajar menjadi solusi utama bagi guru, dalam hal ini guru memilih metode Pembelajaran Matematika Realistis (PMR).

Pembelajaran matematika di SD pada hakikatnya merupakan suatu proses interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media pembelajaran (Rusman, 2010:134). Gange mendefinisikan pembelajaran sebagai seperangkat acara peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung terjadinya beberapa proses belajar yang sifatnya internal (Aisyah, dkk; 2008: 3).

Berdasarkan beberapa pernyataan dari para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yaitu usaha yang dilakukan oleh siswa untuk mencari informasi atau ilmu baru dalam proses belajar. Pembelajaran dilakukan secara langsung dengan bertatap muka dengan siswa selain itu juga dapat dibantu dengan menggunakan media untuk memudahkan siswa memahami suatu materi ajar.

Teori PMR sejalan dengan teori belajar yang berkembang saat ini, seperti konstruktivisme dan pembelajaran kontekstual (CTL). Namun baik konstruktivisme maupun pembelajaran kontekstual mewakili teori belajar secara umum, sedangkan PMR suatu teori pembelajaran yang dikembangkan khusus untuk matematika. Juga telah disebutkan terdahulu, bahwa konsep matematika realistik ini sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki pendidikan matematika di Indonesia yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang matematika dan mengembangkan daya nalar. Menurut Hadi (Supinah, 2008 : 20) beberapa konsepsi PMR tentang siswa, guru, dan pembelajaran yang mempertegas bahwa PMR sejalan dengan paradigma baru pendidikan, sehingga PMR pantas untuk dikembangkan di Indonesia.

Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Persiapan. Selain menyiapkan masalah kontekstual, guru harus benar-benar memahami masalah dan memiliki berbagai macam strategi yang mungkin akan ditempuh siswa dalam menyelesaikannya; 2) Pembukaan. Pada bagian ini siswa diperkenalkan dengan strategi pembelajaran yang dipakai dan diperkenalkan kepada masalah dari dunia nyata. Kemudian siswa diminta untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara mereka sendiri; 3) Proses. Pembelajaran Siswa mencoba berbagai strategi untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan pengalamannya, dapat dilakukan secara perorangan maupun secara kelompok. Kemudian setiap siswa atau kelompok mempresentasikan hasil kerjanya di depan siswa atau kelompok lain dan siswa atau kelompok lain memberi tanggapan terhadap hasil kerja siswa atau kelompok penyaji. Guru mengamati jalannya diskusi kelas dan memberi tanggapan sambil mengarahkan siswa atau kelompok penyaji. Guru mengamati jalannya diskusi kelas dan memberi tanggapan sambil mengarahkan siswa untuk mendapatkan strategi terbaik serta menemukan aturan atau prinsip yang bersifat lebih umum; 4) Penutup. Setelah mencapai kesepakatan tentang strategi terbaik melalui diskusi kelas, siswa diajak menarik kesimpulan dari pelajaran saat itu. Pada akhir pembelajaran, siswa harus mengerjakan soal evaluasi dalam bentuk matematika.

Matematika untuk sekolah dasar menjadi fondasi kuat dalam jenjang pendidikan, yang langsung dipraktikkan dalam keseharian. Jadi dalam meningkatkan keberhasilan matematika SD metode mengajar menjadi strategi utama. (*)