Literasi di Kelas Rendah, Upaya Memahami Amanat Cerita Secara Mudah

Oleh: Sutopo, S.Pd.
Guru SDN 03 Sokawangi, Kec. Taman, Kab. Pemalang

TUJUAN utama literasi adalah peningkatan minat baca anak-anak untuk menaikkan indeks minat baca kita yang masih di bawah rata-rata atau rendah. Peningkatan minat baca harus dilakukan tanpa membebani anak dengan serangkaian pencapaian-pencapaian yang mesti diraih. Minat baca akan membimbing anak untuk semakin mendalami dunia literasi mereka.

Pembiasaan-pembiasaan literasi harus dijadwalkan secara berkelanjutan. Pada akhirnya, pembiasaan literasi akan memaksa anak untuk menyukai cara menggali pengetahuan paling awal, yaitu membaca sebagai suatu kebutuhan yang penting. Kita harus menafikan tujuan-tujuan pencapaian yang mesti diraih secepatnya. Kesabaran dan trik yang jitu adalah kunci untuk meraih pencapaian-pencapaian yang kita inginkan.

Pencapaian ini akan menemui kendala, saat anak-anak kelas rendah dihadapkan pada serangkaian kriteria dalam memahami cerita yang dibacanya. Untuk mengenali para tokoh pada cerita, latar, watak, adalah hal yang cukup mudah bagi anak untuk mengidentifikasikannya. Namun saat ditanyakan tentang amanat atau pesan cerita yang dibacanya, maka ketidakmengertian anak-anak kelas rendah akan mengemuka dengan jelas. Mereka akan kesulitan untuk menyimpulkan amanat cerita atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang cerita.

Tak ada gambaran membersit dalam pikiran mereka alias blank atau kosong, karena amanat cerita adalah pesan tersirat yang tak tersurat pada cerita. Para penulis cerita tak pernah menuliskan amanat ceritanya secara gamblang dan jelas. Keterbatasan anak dalam membaca pesan tersurat dari sebuah cerita adalah suatu keniscayaan yang nyata. Hal tersebut bukan hal yang memalukan bagi anak, itu adalah hal normal yang semestinya memang harus dimiliki oleh anak-anak, dan itu bukan suatu yang tercela bagi anak-anak.

Hal ini dapat dimaklumi mengingat usia, pengertian dan perbendaharaan kosa kata mereka yang masih terbatas. Maka sebuah upaya jitu diperlukan guru kelas rendah untuk “menjembatani” pengertian anak tentang amanat atau pesan cerita secara sederhana dan mudah. Guru dituntut untuk mengolah sebuah cara untuk membantu anak dalam mencari amanat cerita yang tersembunyi entah di mana. Guru yang cekatan akan segera menemukan cara jitu untuk menemukan amanat cerita yang disembunyikan oleh pengarang cerita.

Bercerita atau menceritakan tokoh yang disukai atau dikagumi dalam cerita adalah solusi untuk menemukan amanat cerita dari pengarang cerita. Bercerita menurut Bachri (2014) adalah menuturkan suatu kejadian yang mengisahkan tentang perbuatan yang dilakukan secara lisan kepada orang lain untuk berbagi suatu pengalaman atau pengetahuan. Apa yang diceritakannya kepada orang lain adalah pasti sesuatu yang sangat berkesan baginya untuk dibagi dengan orang lain, atau sangat menarik dan membekas dalam hatinya.

Menceritakan tokoh yang disukai adalah suatu cara peniruan karakter yang bagus bagi anak-anak kelas rendah yang sangat membutuhkan figur anutan. Bila anak menyukai sesuatu, maka ia akan meniru perilaku tokoh protagonis yang membawa nilai-nilai kebaikan dalam hidup. Mengidolakan dan meniru tokoh cerita yang memerankan kebaikan adalah amanat atau pesan yang ingin disampaikan oleh si penulis cerita. Agar pembacanya yang merupakan anak-anak menyukai, meniru dan menerapkan nilai-nilai kebaikan yang diinginkan.

Menanyakan pada anak-anak siapa tokoh yang disukai dan alasan yang melatarinya dalam cerita yang dibacanya adalah sesungguhnya menemukan amanat atau pesan cerita secara lebih mudah. Anak-anak kelas III SDN 03 Sokawangi akan lebih mudah menjawabnya dengan kata-kata atau dengan menuliskannya secara singkat. (*)