Belajar IPS Lebih Menyenangkan dengan Model Jigsaw

Oleh: Darminto, S. Pd.
Guru SD Negeri 2 Tumbal, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang

MATA pelajaran IPS di sekolah dasar marupakan program pengajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Siswa dibentuk agar memilki sikap mental positif untuk memperbaiki berbagai masalah ketimpangan yang terjadi. Selain itu, siswa juga diharapkan dapat terampil mengatasi setiap masalah yang sehari-hari, baik yang menimpa dirinya sendiri maupun masyarakat.

Selamat Idulfitri 2024

Menurut Supardi (2011: 182), pendidikan IPS lebih menekankan pada keterampilan yang harus dimiliki siswa dalam memecahkan masalah. Pelajaran ini lebih difokuskan untuk memberi bekal keterampilan memecahkan masalah yang dihadapi oleh siswa. Dilihat dari tujuan tersebut, dapat dikatakan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang sangat strategis untuk membentuk karakter siswa.  Dalam kehidupan-kehidupan sosial mereka, karakter yang baik akan sangat bermanfaat.

Meski begitu, dalam kehidupan sehari-hari masih banyak guru beranggapan bahwa pelajaran IPS merupakan pelajaran yang tidak penting. Hal ini mengakibatkan pengelolaan pembelajaran IPS tidak dilakukan secara serius. Model pembelajaran dan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang bervariasi. Pembelajaran berpusat pada guru sedangkan siswa hanya dijadikan sebagai objek. Kondisi ini menyebabkan siswa terjebak pada rutinitas yang membosankan. Motivasi belajar mereka pun menjadi rendah dan berdampak pada hasil belajar yang rendah pula.

Rendahnya motivasi belajar siswa ini terlihat ketika proses pembelajaran berlangsung. Ada siswa yang mendengarkan sambil tiduran. Selain itu ada juga siswa mengobrol dengan teman sebelah atau melakukan permainan secara sembunyi-sembunyi. Hal tersebut berdampak pada hasil belajar yang rendah. Maka solusi pemecahan masalah untuk mengatasi persoalan model pembelajaran tersebut perlu untuk dicarikan.

Salah satu alternatif pemecahan masalah yang dianggap tepat adalah model pembelajaran Jigsaw, yakni tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Elliot Aronson’s, (Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, and SNAPP, 1978). Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, namun siswa juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada kelompoknya. Sehingga baik kemampuan secara kognitif maupun sosial siswa sangat diperlukan.

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif. Siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dengan memperhatikan heterogenitas dan bekerjasama positif. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari masalah tertentu dari materi yang diberikan. Kemudian menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.

Dalam model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok ahli dan kelompok asal. Kelompok asal adalah kelompok awal siswa yang terdiri dari beberapa anggota kelompok ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang. Sedangkan kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok lain (kelompok asal) yang ditugaskan untuk mendalami topik tertentu untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.

Pada model pembelajaran ini, peran guru adalah memfasilitasi dan memotivasi para anggota kelompok ahli agar mudah untuk memahami materi yang diberikan. Kunci tipe Jigsaw ini adalah interdependence setiap siswa terhadap anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan. Hal tersebut mengandung pengertian bahwa para siswa harus memiliki tanggunga jawab dan kerja sama yang positif. Siswa juga akan saling ketergantungan untuk mendapatkan informasi dan memecahkan masalah yang diberikan. Model pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar IPS pada siswa. (*)