Peningkatan Kreativitas dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia melalui Model TTW

Oleh: Puji Astuti, S.Pd.SD.
Guru SDN 03 Bulu, Kec. Petarukan, Kab. Pemalang

PERBAIKAN mutu pendidikan dan pengajaran senantiasa diupayakan dan dilaksanakan dengan jalan meningkatkan kualitas pembelajaran. Melalui peningkatan kualitas pembelajaran, siswa akan semakin termotivasi untuk belajar, daya kreativitasnya pun semakin meningkat. Tinggi rendahnya kreativitas akan mendorong kemauan siswa dalam pengembangan diri untuk menghasilkan sesuatu maupun ide yang baru. Menurut Utami Munandar (1992:47) kreativitas merupakan kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data informasi atau unsur-unsur yang ada.

Selamat Idulfitri 2024

Di SD Negeri 03 Bulu kelas VI pada mata pelajaran Bahasa Indonesia Materi mengidentifikasi Jenis Teks, didapat data dari segi kreativitas dari 37 siswa yang mampu mengembangkan imajinasi hanya 10 siswa atau 27,03%, kemampuan untuk menjawab pertanyaan dari 32 siswa hanya 15 siswa saja. Sedangkan anak yang mampu mengungkapkan pertanyaan secara lisan dengan baik hanya 12 siswa (32,43%). Hal ini disebabkan karena siswa belum menunjukkan adanya respons yang baik dalam mengikuti pelajaran, siswa terlihat pasif untuk berinteraksi dalam proses kegiatan pembelajaran.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Masalah yang melatar belakangi rendahnya kreativitas dan hasil belajar ini antara lain metode pembelajaran yang diterapkan kurang menarik dan kurang bervariasi. Peserta didik kurang dilibatkan aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk terlibat aktif, agar peserta didik lebih berperan dan tertarik serta antusias mengikuti proses kegiatan pembelajaran. Pembelajaran yang dimaksud yaitu dengan metode Think Talk and Write.

Menurut Suyatno (2009:66), Think Talk Write adalah pembelajaran yang dimulai dengan berpikir, hasil pikir dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi dan kemudian membuat laporan hasil presentasi. Pembelajaran model ini merupakan salah satu model kooperatif yang memiliki empat langkah penting dalam pelaksanaannya, yaitu: 1) Thinking. Siswa diberi kesempatan untuk memikirkan materi atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru berupa lembar kerja dan dilakukan secara individu; 2) Talking. Setelah diorganisasikan dalam kelompok, siswa diarahkan untuk terlibat secara aktif dalam berdiskusi kelompok mengenai lembar kerja yang telah disediakan. Interaksi pada tahap ini diharapkan siswa dapat saling berbagi jawaban dan pendapat dengan anggota kelompok masing-masing; 3) Writing. Pada tahap ini, siswa diminta untuk menulis dengan bahasa dan pemikiran sendiri hasil dari belajar dan diskusi kelompok yang diperolehnya; 4) Hasil tulisan siswa dipresentasikan di hadapan kawan-kawan. Sekaligus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengoreksi hasil kerja kelompok lain.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Menurut Suyatno (2009:25), kelebihan dari Think Talk Write adalah sebagai berikut: 1) membantu siswa dalam mengonstruksi pengetahuannya sendiri, sehingga pemahaman konsep siswa menjadi lebih baik. Siswa dapat mengkomunikasikan atau mendiskusikan pemikirannya dengan temannya, sehingga siswa saling membantu dan saling bertukar pikiran. Hal ini akan membantu siswa dalam memahami materi yang diajarkan. 2) dapat melatih siswa untuk menuliskan hasil diskusinya ke bentuk tulisan secara sistematis, sehingga siswa akan lebih memahami materi dan membantu siswa untuk mengkomunikasikan ide-idenya dalam bentuk tulisan.

Agar pembelajaran melalui model pembelajaran Think Talk Write ini dapat terlaksana dengan baik, maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1) Guru merencanakan kegiatan motivasi dan apersepsi; 2) Adanya penggunaan alat bantu/media bagi siswa, yaitu pengembangan Lembar kerja Peserta Didik (LKPD) ; 3) Adanya skema interaksi pembelajaran, baik skema interaksi individu maupun skema interaktif kelompok; 4) Adanya presentasi tiap kelompok disertai argumen yang logis pada akhir pembelajaran.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Dengan perencanaan dan persiapan yang matang, serta berpedoman 4 langkah pembelajaran TTW ini dalam suatu pembelajaran, kreativitas dan hasil belajar anak akan lebih meningkat. (*)