Meningkatkan Kemampuan Berpikir Logis dan Kritis pada Pembelajaran IPS

Oleh: Septi Puji Astuti, S.Pd.SD.
Guru SDN 03 Asemdoyong, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang

DALAM Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dinyatakan, IPS menjadi salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan dalam mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.

Selamat Idulfitri 2024

Selain itu juga memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, keterampilan dalam kehidupan sosial, memiliki komitmen. Selanjutnya, memiliki kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Serta kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat (Depdiknas, 2007: 575).

Menurut Sumaatmadja (2007: 1.10), untuk merealisasikan tujuan dari pendidikan IPS, proses belajar tidak hanya terbatas pada aspek-aspek pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotorik) saja. Melainkan meliputi juga aspek akhlak (afektif) dalam menghayati serta menyadari kehidupan yang penuh dengan masalah, tantangan, hambatan dan persaingan.

Model Snowball Throwing cocok digunakan dalam kegiatan pembelajaran IPS. Metode ini dapat memberikan kesempatan kepada teman dalam kelompok untuk merumuskan pertanyaan secara sistematis. Disamping itu juga dapat membangkitkan keberanian siswa dalam mengemukakan pertanyaan kepada teman lain maupun guru. Juga melatih siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh temannya dengan baik (Sipranata,2013:11).

Menurut Suprijono (2012:128), langkah-langkah penerapan model pembelajaran Snowball Throwing adalah sebagai berikut: pertama, guru menyampaikan materi yang akan disajikan. Kedua, guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi. Ketiga, masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya. Keempat, masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.

Kelima, selanjutnya kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama kurang lebih 15 menit. Keenam, Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian. Ketujuh, evaluasi dan kedelapan penutup.

Fatmawati (2012) mengemukakan, model Snowball Throwing mempunyai beberapa kelebihan yang semuanya melibatkan keikutsertaan siswa dalam pembelajaran. Kelebihan dari model Snowball Throwing adalah: pertama, suasana pembelajaran menjadi menyenangkan karena siswa seperti bermain dengan melempar bola kertas kepada siswa lain. Kedua, siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir karena diberi kesempatan untuk membuat soal dan diberikan pada siswa lain.

Ketiga, membuat siswa siap dengan berbagai kemungkinan karena siswa tidak tahu soal yang dibuat temannya seperti apa. Keempat, siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Kelima, pendidik tidak terlalu repot membuat media karena siswa terjun langsung dalam praktek. Keenam, pembelajaran menjadi lebih efektif. Ketujuh, Ketiga aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotor dapat tercapai

Dapat disimpulkan bahwa model Snowball Throwing memiliki banyak kelebihan jika diterapkan dalam proses pembelajaran. Model tersebut sangat menarik dan menyenangkan. Juga mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswa serta membuat siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Selain memiliki kelebihan, penggunaannya dalam kegiatan pembelajaran juga memiliki kekurangan. Yaitu terjadinya keributan saat siswa melemparkan bola pertanyaan ke arah teman lain. Untuk mengatasinya, siswa dapat diberikan bimbingan dan arahan saat melemparkan bola pertanyaan yang telah dibuatnya. Yaitu guru memberikan arahan kepada siswa di kelompok satu untuk melemparkan bola pertanyaan ke kelompok dua. Kelompok dua melemparkan bola pertanyaan ke kelompok tiga, dan seterusnya. (*)