Memahami Makna Sila-sila Pancasila dengan Metode PBL

Oleh: Niar Juwianti, S.Pd.SD.
Guru SDN 02 Susukan, Kec. Comal, Kab. Pemalang

MATA pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) merupakan salah satu sarana yang dipakai pemerintah untuk dapat menanamkan nilai-nilai budaya bangsa, serta kebijakan yang bisa menjadi sumber pengetahuan peserta didik sejak dini, sehingga memiliki kesadaran untuk dapat membangun bangsa dan negara Indonesia. Karena sangat berhubungan dengan nilai, sikap, moral yang ada di kehidupan peserta didik, maka pembelajarannya harus dirancang sedemikian rupa, sehingga mampu memberikan makna nyata yang dapat diimplementasikan dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.

Untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan, penulis dalam mengajarkan PPKn materi simbol dan makna sila-sila Pancasila di kelas IV SDN  02 Susukan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah atau sering disebut problem based learning (PBL). Pembelajaran berbasis masalah merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Dalam proses pembelajaran menggunakan metode PBL, guru bersama dengan siswa memfokuskan pada pemecahan masalah yang nyata. Proses di mana peserta didik melaksanakan kerja kelompok, umpan balik, diskusi yang dapat berfungsi sebagai batu loncatan untuk investigasi dan penyelidikan dan laporan akhir. Dengan demikian, peserta didik didorong untuk lebih aktif terlibat dalam materi pembelajaran dan mengembangkan ketrampilan berpikir kritis.

Langkah-langkah pembelajaran PBL yang penulis laksanakan adalah sebagai berikut: 1) Merumuskan masalah. Guru menyajikan sebuah permasalahan yang terjadi dimasyarakat yang berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila. Kemudian siswa dengan bimbingan guru menentukan masalah yang akan dipecahkan dalam kelompoknya; 2) Menganalisis masalah. Siswa dalam kelompoknya berdiskusi tentang masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang; 3) Merumuskan hipotesis. Siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan dalam diskusi kelompoknya, sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki; 4) Mengumpulkan data. Siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah; 5) Pengujian hipotesis. Siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan; 6) Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah. Siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Pembelajaran berbasis masalah (PBL) dapat meningkatkan keaktifan siswa serta melatih siswa untuk bertukar pendapat dengan argumentasi yang bisa diterima olek kelompoknya. PBL juga meningkatkan kreativitas siswa serta daya pikir kritis yang mampu mengaitkan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Baik berupa literatur yang pernah dibacanya maupun pengalaman yang pernah dialami dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan permasalahan yang sedang dipecahkan.

Dengan pembelajaran yang aktif dan motivasi yang tinggi dari siswa, maka dapat meningkatkan pemahaman siswa khususnya materi makna sila-sila Pancasila, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun selain kekuatan pembelajaran PBL di atas, terdapat juga beberapa kelemahannya. Seperti perlunya bimbingan guru pada masing-masing kelompok dalam diskusi untuk menjaga diskusi mereka tidak melenceng dari tujuan pembelajaran. Perlu bimbingan dan arahan agar diskusi kelompok tidak didominasi oleh siswa tertentu. Serta perlunya alternatif-alternatif permasalahan yang mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar dan yang sesuai karakter kehidupan masyarakat sekitar rumah tinggal siswa. (*)