Scramble Dongkrak Pemahaman Siswa

Oleh: Farih Yuni Widiati, S.Pd.
Guru SD Negeri Cabean 1, Kec. Demak, Kab. Demak

PEMAHAMAN adalah suatu proses, cara memahami dan mempelajari sesuatu agar mendapatkan pengetahuan. Di kelas 4 SD Negeri Cabean 1, sebagian besar siswa belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) pada pemahaman materi gaya. Disamping itu, terlihat siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan merasa jenuh karena lebih banyak menjadi pendengar guru.

Selamat Idulfitri 2024

Oleh karenanya, harus segera diupayakan perbaikan dengan menerapkan model pembelajaran inovatif. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah dengan menggunakan model scramble untuk membantu menyampaikan materi gaya. scramble merupakan model pembelajaran yang mengajak siswa untuk menemukan jawaban dan menyelesaikan permasalahan yang ada dengan cara membagikan lembar soal dan lembar jawaban.

Sesuai dengan sifat jawabannya scramble terdiri atas bermacam-macam bentuk, yakni: pertama, scramble kata. Merupakan sebuah permainan menyusun kata-kata dan huruf-huruf yang telah dikacaukan letaknya sehingga membentuk suatu kata tertentu yang bermakna. Kedua, scramble kalimat, yaitu sebuah permainan menyusun kalimat kata-kata acak. Ketiga, scramble wacana, yakni sebuah permainan menyusun wacana logis berdasarkan kalimat-kalimat acak. Hasil wacana hendaknya logis dan bermakna.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Langkah-langkah metode scramble meliputi tahap sebagai berikut: pertama, persiapan. Pada tahap ini guru menyiapkan bahan dan media yang akan digunakan dalam pembelajaran. Media yang digunakan berupa kartu soal dan kartu jawaban yang sebelumnya jawaban telah diacak. Guru menyiapkan kartu-kartu sebanyak kelompok yang telah dibagi. Kemudian mengatur hal-hal yang mendukung proses belajar mengajar. Misalnya mengatur tempat duduk sesuai kelompok yang telah dibagi ataupun memeriksa kesiapan siswa belajar dan sebagainya.

Kedua, kegiatan inti. Kegiatan dalam tahap ini adalah setiap masing-masing kelompok melakukan diskusi untuk mengerjakan soal dan mencari jawaban yang cocok. Sebelumnya jawaban telah diacak. Guru melakukan diskusi kelompok besar untuk menganalisis dan mendengarkan pertanggungjawaban dari setiap kelompok. Kemudian membandingkan dan mengkaji jawaban yang tepat dan logis. Dan ketiga, tindak lanjut. Kegiatan tindak lanjut tergantung dari hasil belajar siswa.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Adapun kelebihan dari model ini adalah sebagai berikut: pertama, setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya. Siswa harus mengetahui bahwa semua anggota mempunyai tujuan yang sama. Mereka harus berbagi tugas dan tanggung jawab, dikenai evaluasi, dan berbagi kepemimpinan. Kedua, model pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk saling belajar dan berpikir dalam suasana santai. Sehingga tidak mebuat mereka stres ataupu tertekan.

Ketiga, metode scramble juga dapat memupukkan rasa solidaritas dalam kelompok. Keempat, materi yang diberikan melalui salah satu metode permainan biasanya mengesankan dan sulit untuk dilupakan. Kelima, sifat komperatif dalam metode ini dapat mendorong siswa berlomba-lomba untuk maju. Keenam, dapat mempermudah siswa dalam menguasai materi ajar. Sebab siswa hanya melengkapi suatu pertanyaan di mana jawaban dipersiapkannya hanya saja tinggal mencocokannya.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Ketujuh, dapat mempermudah guru dalam menyampaikan materi ajar. Sebab dengan merujuk pada kertas kerja yang telah ditentukan siswa akan mempelajarinya. Serta kedelapan, meningkatkan motivasi belajar siswa. Karena dilengkapi dengan lembar kerja yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Adapun kekurangan dari metode ini adalah: Pertama, pembelajaran ini terkadang sulit direncanakan karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar. Kedua, terkadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang. Sehingga guru sulit menyesuaikan waktu yang sudah di tentukan. Dan ketiga, selama kreteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampaun siswa menguasai pelajaran, pembelajaran ini akan sulit diimplementasikan guru.

Setelah dilakukan inovasi pembelajaran melalui penggunaan model scramble di kelas 4 SD Negeri Cabean 1, didapatkan kondisi bahwa pemahaman siswa pada materi gaya dapat meningkat. Motivasi belajar siswa dan hasil belajarnya secara klasikal meningkat. (*)