UMKM  

Olah Limbah Plastik jadi Bernilai Jual

PILIH: Pengunjung sedang melihat produk hasil olahan limbah plastik dari sawo Kecik Srigading, Sanden, Bantul. (ERNA SARI SUSANTI/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Siapa sangka limbah plastik yang sering kita temui disekitar memiliki daya guna dan bernilai jual lebih. Dikko Andri Kurniawan (26), penggagas Sawo Kecik, di Kabupaten Bantul salah satunya. Ia berinovasi dengan limbah sampah plastik, sehingga dapat dihasilkan produk bernilai ekonomis, seperti case hp, slingbag, topi, dan jaket.

Dikko Andri Kurniawan mengatakan, pada 2019 ia telah memulai riset dan berinovasi dimana produknya saat itu baru casing hp. Lambat laun, ia memiliki berbagai macam produk seperti aksesoris, home decor, topi, slingbag, dan jaket dengan total produksi ratusan produk setiap bulannya.

“Awal riset 2019 dengan produk baru casing hp, kita terus berinovasi sehingga dapat memproduksi aksesoris seperti anting gelang. Tahun 2020 saat melihat bungkus sampah plastik, keresek banyak tersebar di lapangan kita berinovasi bagaimana mengubah sampah menjadi sebuah produk, memiliki nilai guna dan jual,” ujarnya saat diwawancarai.

Lebih lanjut Andri mengatakan, sejak Desember 2020 hingga Maret 2021 pihaknya pun meriset alat untuk menenun limbah plastik, bagaimana prosesnya, langkah-langkah dan keperluan lain. Sehingga Mei 2021 ia telah berhasil membuat produk seperti totebag, sling bag, dan topi.

“Kita kemarin menjadi merchandise produk casing hp di Mandalika, selain itu pemasaran kita secara nasional. Pernah ada juga per orangan yang tertarik melihat media sosial kita dan memesan aksesoris ke Belanda, kita jual offline dan online,” imbuhnya.

Adapun harganya beragam, mulai dari Rp 15 ribu untuk aksesoris, Rp 35 ribu untuk tas, dan ratusan ribu untuk produk jaket dengan inovasi tenun limbah plastik daur ulang. Menurutnya, keunggulan produknya adalah dapat memanfaatkan limbah sampah diubah menjadi produk yang memiliki nilai lebih. Sehingga semakin maju usahanya, maka akan semakin banyak sampah yang diolah.

“Selain itu juga dapat menyerap tenaga kerja, meskipun belum banyak. Saat itu ada tiga pekerja, termasuk saya,” katanya.

Ia berharap dapat bekerjasama dengan sekolah-sekolah demi mendukung program pemerintah dengan adanya kurikulum merdeka. Dimana para siswa/siswi dapat belajar bagaimana mencintai lingkungan, berwirausaha, dan mendaur ulang sampah.

“Target jangka panjangnya kita ingin membuat edu-ekowisata. Menggabungkan pendidikan dengan memproduksi barang-barang daur ulang, wisata terkait sampah plastik,” jelasnya.

Sementara salah satu pengunjung, Sari Wijayati (40) mengapresiasi inovasi dari produk Sawo Kecik ini. Dimana dengan daur ulang sampah ini dapat menyelamatkan lingkungan.

“Bagus banget anak muda sudah berinovasi, kreatif, menjadi contoh yang lain. Bisa meningkatkan ekonomi dari produk sampah, salah satu peran pemuda juga untuk menyelamatkan lingkungan,” tukasnya. (ers/bid)