Tingkatan Hasil Belajar dengan Metode Think Pair and Share

Oleh: Priyono, S.Pd
Guru SMAN I Karangdowo

PENDIDIKAN merupakan hal yang sangat fundamental dalam kemajuan suatu bangsa. Sebab, melalui pendidikan akan tercipta manusia-manusia yang terampil dan berakhlak mulia. Kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan paling pokok dari keseluruhan proses pendidikan. Selain itu, pengembangan potensi siswa dilakukan secara menyeluruh. Yaitu meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Selamat Idulfitri 2024

Berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan dilihat dari bagaimana proses kegiatan belajar mengajar dirancang dan dijalankan oleh guru. Seperti yang dikatakan oleh Sagala (2013:65), pembelajaran adalah setiap kegiatan yang diracang oleh guru untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru dalam suatu proses sistematis. Melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar.

Model pembelajaran yang digunakan seorang guru perlu mempertimbangkan aspek pendorong keberhasilan siswa. Untuk memilih model pembelajaran yang sesuai, hendaknya seorang guru memperhatikan karakteristik siswa, serta jumlah siswa dalam satu kelas. Kemudian tingkat kemampuan dan keterampilan yang dimiliki siswa, dan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Pemilihan model pembelajaran yang inovatif dan kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar.

Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk  meningkatkan hasil belajar siswa yang diharapkan berimplikasi pada peningkatan prestasi belajar adalah model pembelajaran think pair share (TPS). Melalui penerapan model pembelajaran TPS dalam pembelajaran geografi, siswa diajak untuk berpikir aktif secara individual atas pertanyaan yang diberikan oleh guru dengan waktu tertentu.

Selanjutnya, guru memberi instruksi untuk mendiskusikan jawaban dengan berpasangan, kemudian dikemukakan didepan kelas. Think yaitu proses berfikir aktif seorang individu. Pair adalah proses berpasangan, bekerja sama menggabungkan dua jawaban yang berbeda untuk didiskusikan menjadi satu jawaban yang lebih sempurna. Jawaban kelompok tersebut masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil diskusinya didepan kelas. Sementara kelompok lain diberi kesempatan untuk menanggapi setiap jawaban yang disajikan per kelompok.

Dasar-dasar model TPS dikenalkan oleh Frank Lyman pada tahun 1985. Pembelajaran ini dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Model pembelajaran tersebut termasuk salah satu model pembelajaran kooperatif yang mampu berkontribusi dalam proses pembelajaran. Siswa dapat berkomunikasi secara langsung dengan individu lain untuk dapat saling memberi informasi dan bertukar pikiran. Serta mampu berlatih untuk mempertahankan pendapatnya jika pendapat itu layak untuk dipertahankan. TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi waktu lebih banyak kepada siswa untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.

Dalam tahapan think, pair, dan share inilah, kecakapan siswa dalam berkomunikasi akan terlihat. Aspek dari tahapan tersebut meliputi kecakapan mendengar, berbicara, membaca, maupun melukiskan gagasan atau pendapatnya ketika pembelajaran berlangsung. Adanya pemberian masalah dilakukan untuk melihat penguasaan dan pemahaman siswa mengenai materi yang telah dipelajarinya.

Penerapan model pembelajaran TPS dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar karena siswa diajak untuk berfikir secara aktif. Kemudian mendorong dan menyimak ide-ide yang dikemukakan masing-masing kelompok secara lisan dan tertulis. Lalu mempertimbangkan dan memberi informasi terhadap apa yang digali siswa dalam diskusi. Serta berpartisipasi secara aktif didepan kelas.

Dalam model pembelajaran ini, seorang guru hendaknya mengadakan sistem poin atau pemberian hadiah. Poin tersebut berupa nilai untuk merangsang siswa untuk turut berpartisipasi aktif agar memperoleh hasil belajar yang maksimal. (*)