Figur  

Dari Fesyen, Jadi Dorongan Tampil dalam Film

Citra Autika Ighfirlie. (DOKUMENTASI PRIBADI/JOGLO JOGJA)

SEJAK kecil Citra Autika Ighfirlie telah menyukai dunia fesyen. Sehingga saat ia kuliah, Chaca, panggilannya sudah mengambil peran dalam divisi wardrobe untuk pembuatan film.

“Aku suka fesyen sejak kecil, suka bikin desain baju juga dan konsultasi ke mama, walaupun nanti yang jahitin mama. Jadi hampir setiap tahun mama jahitin baju buat keluarga, aku selalu paling akhir dibikinin bajunya karena paling lama ngasih gambaran,” ujarnya saat dihubungi Joglo Jogja Minggu (30/10/22).

Ia mengatakan, pertama kali ia terjun dalam divisi wardrobe tahun 2015 dalam film festival Cahaya Hati the movie. Chaca pun belajar banyak dari divisi tersebut, seperti saat ia melakukan riset kebaya dan batik DIY.

“Kesulitannya lebih ke ranah kerja, harus adaptasi lebih dengan pemeran figuran. Kemudian kita harus nyatuin otak sama director dan divisi lain seperti art dan sinematografi,” ucapnya.

Baca juga:  Tetap Produktif meski Mengidap Kista di Usia Muda

Perempuan jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini pun telah memiliki jam terbang yang cukup tinggi. Terbukti dari banyaknya film layar lebar, series atau channel youtube yang ia garap di divisi wardrobe ini.

Beberapa film atau series yang ia garap diantaranya adalah di tahun 2017, ia pernah menjadi freelance tim artistik layar lebar Kartini, Surga yang Tak dirindukan, Jomblo Reboot, kemudian juga menjadi tim artistik di youtub channel Cameo Project. Kemudian di tahun 2018, ia mengambil divisi wardrobe di tim film layar lebar Terlalu Tampan.

“Tahun 2019 aku menjadi freelance film layar lebar Single part 2, tim VIU web series Rewrite, film Layar Lebar Ratu Ilmu Hitam, Bucin dan iklan Ultra Milk. Tahun 2020 aku menjadi wardrobe assisten di Ben Jody, Keluarga Cemara 2, Baby Blues, Piala Presiden Esport 2022, Mencuri Raden Saleh,” bebernya.

Baca juga:  Keluar dari Zona Nyaman untuk Raih Impian

Saat ini, ia tengah bergelut dalam film layar lebar berjudul Kisah Tanah Jawa – Pocong Gundul. Ia pun berpesan bahwa menurutnya freelance itu merupakan salah satu kerjaan yang mengenakkan, sehingga apapun prosesnya, tetap dapat mengasah kreativitasnya.

“Jangan pernah berfikir menjadi freelance itu menyedihkan. Justru freelance itu kerjaan paling enak, bangga saja sama prosesnya, jangan bosan mengasah otak kreatif kita,” katanya.

Perempuan kelahiran Semarang, Januari 1996 ini pun mengaku menyukai saat ia menjadi divisi wardrobe di film bergenre action, sebab ia mendapatkan tantangan dan ilmu baru. Ia pun membagikan pengalamannya saat mengerjakan film action Ben & Jody.

Baca juga:  Mahasiswa UAD Bercita-Cita Bangun Brand Baju Sendiri, Cireng Jadi Modal Awal

“Kita hampir dua bulan hidup di tengah hutan yang ada di Gunung Halimun dan Gunung Walat di Sukabumi, tidak ada sinyal, akses jalannya di tengah hutan, beruntung crew dan cast semuanya saling mendukung. Marah-marahnya ada karena miss komunikasi, saling bantu juga ada karena tiap hari harus bawa-bawa banyak tas dan harus naik turun gunung, belum lagi hujan jadi ada perubahan schedule. Tantangan banget buat wardrobe karena kita juga harus nyuci baju yang ga luput kena lumpur,” paparnya.

Namun, ia pun bersyukur dengan pekerjaannya. Menurutnya dengan mengenal beberapa genre film, ia dapat mendapatkan strategi untuk menyelesaikan pekerjaannya. (ers/bid)