Stok Kedelai Tinggal 7 Hari dan Sumbang Inflasi 0,01 Persen, Apakah Tempe Akan segera Menghilang?

Gambar Tempe/Ilustrasi: Pixabay

BADAN Pangan Nasional menjelaskan, ketersediaan stok kedelai di dalam negeri hanya tinggal tujuh hari saja. Penghitungan ini apabila mengacu pada Neraca Pangan Nasional hingga akhir November 2022.

Sebagaimana Kontan memberitakan pada Rabu (26/10), Deputi 1 Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Badan Pangan Nasional, I Gusti Ketut Astawa menjelaskan bahwa stok kedelai di Indonesia yang tinggal tujuh hari itu tidak dihitung per hari itu juga.

Melainkan, dihitung setelah bulan November 2022. Berdasarkan Neraca Pangan Nasional yang dimiliki oleh Badan Pangan Nasional, hingga akhir November 2022, stok kedelai di Indonesia masih surplus 54.983 ton.

Baca juga:  Gandeng KSEI, Bank Jateng Resmi Menjadi Bank Kustodian Ke-26

Kenaikan harga kedelai ini juga sudah dirasakan oleh sejumlah perajin tempe di Indoenesia.

Misalnya, perajin tempe di Kejayan, Kampung Pejaten, Kramatwatu, Serang, Banten mengungkapkan bahwa saat ini, harga kedelai mulai naik. Dari yang awalnya seharga Rp. 12.300, kini menjadi Rp. 13.800 per kilogramnya.

Kenaikan ini disinyalir akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Sebab, sebagian besar kedelai masih diimpor dari louar negeri (antara.com, 31/10).

Salah satu pengusaha tempe di salah satu Industri Kecil Menengan (IKM), Desa Tanjung, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar juga mengatakan, kacang kedelai impor terus mengalami kenaikan.

Baca juga:  Bank Jateng dan Dispermadesdukcapil Jateng Optimalkan Transaksi Non Tunai Desa dengan Siskeudes-Link

Saat ini seharga Rp. 14.500 per kilogram dari sebelumnya Rp. 10.600 perkilogram. Kondisi ini pun, akhirnya memaksa para perajin mengurangi ukuran tempe. Mereka memilih menguragi ukuran untuk menjaga harga tempe di pasaran.

Pekerja memberikan campuran tempung pada kacang kedelai untuk pembuatan tempe di salah satu Industri Kecil Menengan (IKM), Desa Tanjung, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh pada Senin, 31/10/2022. (ANTARA/JOGLO JATENG)

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat, harga tahu dan tempe merupakan penyumbang terbesar ketiga setelah bensin dan beras.

Melansir Kontan, kenaikan harga kedelai ini turut menyumbang kenaikan inflasi sebanyak 0,01 persen.

Sebelumnya, National Food Agency (NFA) atau Badan Pangan Nasionala (BPN) menngatakan bahwa stok kedelai di Indonesia secara nasional, masih surplus hingga akhir Desember 2022.

Baca juga:  Buktikan Kualitas Pelayanan, Bank Jateng Borong 4 Penghargaan di Ajang 21st Infobank Banking Service Excellence 2024

Namun, pelaksanaan impor kedelai harus terkendala akibat gejolak kurs rupiah yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir.

Keadaan ini juga membuat para perajin tempe mengeluh sekaligus dilema. Pasalnya, jika harga kedelai terus melambung dan stok yang begitu menipis, mampukan industri tempe akan bertahan? (mg2)