Peningkatan Kompetensi Gradien Melalui Software Geogebra

Oleh: Teguh Haryanto, S.Pd.
Guru SMP Negeri 5 Pemalang

KENYATAAN yang dialami seorang guru membuktikan bahwa kualitas pembelajaran kita umumnya masih rendah, terutama pada pelajaran matematika. Hal ini dapat dilihat dari data nilai ulangan harian 1 yang dilaksanakan pada awal semester. Berdasarkan hasil observasi peneliti di kelas VIII A SMP N 5 Pemalang, didapatkan  fakta  bahwa  sebagian  besar  siswa  masih  mengalami  kesulitan. Beberapa siswa belum begitu termotivasi untuk memperhatikan    penjelasan    guru    dan    mengikuti    pembelajaran. Guru memulai pembelajaran dengan memberikan konsep materi kepada siswa. Setelah itu siswa diberikan soal-soal dalam bentuk latihan yang berguna untuk melatih pemahaman materi yang diajarkan.

Selamat Idulfitri 2024

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru, pembelajaran yang efektif dilakukan di dalam kelas adalah dengan metode ekspositori dengan latihan soal. Strategi ini dipilih oleh guru karena jumlah siswa yang relatif banyak, yaitu berjumlah 36 siswa. Metode penemuan terbimbing (guided  discovery  learning) merupakan model pengembangan dari Teori Konstruktivisme Pieget.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Pembelajaran tersebut menekankan pentingnya kegiatan siswa yang aktif dalam mengkontruksikan pengetahuannya sendiri. Metode ini memungkinkan siswa untuk aktif dalam  menemukan  konsep-konsep  pengetahuan  matematika dengan bantuan bimbingan guru. Di samping itu, juga menjadi penyempurna metode ekspositori yang berorientasi pada penjelasan guru.

Dari   masalah-masalah   dan   alternatif   metode   yang   ada, peneliti hendak  menggunakan software GeoGebra dengan metode penemuan terbimbing pada kompetensi pelajaran gradien. Geogebra merupakan software matematika dinamis yang   menggabungkan geometri, aljabar, dan kalkulus. Perangkat tersebut dapat digunakan sebagai    alat    bantu    dalam    pembelajaran    matematika. Dengan penggunaan software tersebut, iswa diharapkan diharapkan mampu meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika.

Teori pembelajaran yang digunakan mengarah pada upaya untuk membrikan motivasi dan prestasi belajar siswa, memperkaya khazanah ilmu pengetahuan khususnya matematika. Disamping itu juga untuk meningkatkan hasil belajar siswa, karena kesalahan dalam proses pembelajaran sudah diperbaiki. Lalu melatih siswa untuk dapat memecahkan masalah dengan menggunakan pemikiran secara logis dan sistematis.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Siswa juga diharapkan akan senang belajar matematika karena secara langsung terlibat dalam proses belajar. Di samping itu guru juga memperoleh pengalaman profesional dalam mengatasi siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran matematika. Guru dapat melakukan pembelajaran yang efektif dengan menggunakan software GeoGebra dengan penemuan terbimbing untuk  mengaktifkan siswa dalam belajar.

Penggunaan software GeoGebra dengan metode penemuan terbimbing pada pembelajaran materi persamaan garis lurus dipilih sebagai upaya meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII. Penetian dilakukan dengan desain penelitian persiklus dengan empat kegiatan, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi dan pengamatan, serta refleksi.

Hasil menunjukkan bahwa tindakan awal hasil belajar siswa pada mapel Matematika oleh siswa Kelas VIII masih rendah, hal ini dapat dilihat dari hasil ulangan harian. Yaitu pada pelajaran menganalisis fungsi linear (sebagai persamaan garis lurus) dan menginterpretasikan grafik yang dihubungkan dengan masalah kontekstual.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Siswa mendapatkan nilai tuntas sebanyak 16 orang atau 48,5%. Sedangkan yang belum tuntas 20 atau 52,5%, nilai tertinggi 86, nilai terendah 56, dan rata-rata nilainya 69,8. Setelah diterapkan model penemuan terbimbing menggunakan software GeoGebra, pada siklus pertama presentase menunjukkan hasil belajar yang meningkat. Jumlah siswa tuntas  24 atau 72,7%, belum tuntas 12 atau 27,3%, nilai tertinggi 88, nilai terendah 60, serta rata-rata nilai 73,8.

Pada siklus kedua hasilnya kembali meningkat. Yakni jumlah siswa tuntas 36 atau 100%, belum tuntas 0 atau 0%, nilai tertinggi 92, nilai terendah 76, rata-rata nilai 80,2. Penggunaan model tersebut terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. (*)