Melejitkan Kemampuan Membandingkan Nilai Mata Uang dengan PMR

Oleh: Sri Margiyanti, S.Pd. SD
Guru SD Negeri Rejosari 01 Semarang

MEMBANDINGKAN nilai mata uang merupakan materi di kelas 2 pada muatan pelajaran Matematika sekolah dasar. Matematika di SD adalah ilmu matematika sederhana yang diajarkan pada jenjang Sekolah Dasar dengan tujuan meningkatkan segi kognitif, sikap dan keterampilan siswa SD.

Namun, kondisi di kelas 2 SD Negeri Rejosari 01 Semarang hasil belajar mereka belum mencapai standar KKM yang telah ditetapkan. Ketidakberhasilan guru dalam pembelajaran Matematika disebabkan karena guru kurang inovatif dalam menerapkan pembelajaran, guru kurang melibatkan siswa untuk aktif selama pembelajaran.

Melihat kondisi diatas, guru berusaha meningkatkan hasil belajar siswa pada materi membandingkan nilai mata uang melalui penerapan PMR (Pembelajaran Matematika Realistik).

Menurut Zulkardi (dalam Subryanto, 2014:122). Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) merupakan pendekatan yang bertitik tolak dari hal-hal yang nyata bagi siswa, menekankan keterampilan proces of doing mathematics, berdiskusi dan berkolaborasi, beragumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri konsep matematika dan pada akhirnya dapat menggunakan matematika untuk menyelesaikan masalah, baik secara individu maupun kelompok. Tujuan dari PMR sendiri adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan merekonstruksi konsep-konsep matematika dengan mengaitkannya dalam dunia nyata serta mampu untuk memecahkan masalah yang mungkin mereka jumpai dalam kehidupan nyata, dengan demikian penggunaan PMR dalam proses pembelajaran sesuai untuk membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Termasuk dalam pembelajaran membandingkan nilai mata uang.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Langkah-langkah di dalam proses pembelajaran matematika dengan pendekatan PMR, sebagai berikut: 1.Langkah pertama: memahami masalah kontekstual, yaitu guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut. 2.Langkah kedua: menjelaskan masalah kontekstual, yaitu jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan yang belum dipahami. 3.Langkah ketiga: menyelesaikan masalah kontekstual, yaitu siswa secara individual menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri. Cara pemecahan dan jawaban masalah berbeda lebih diutamakan. Dengan menggunakan lembar kerja, siswa mengerjakan soal. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri. 4.Langkah keempat: membandingkan dan mendiskusikan jawaban, yaitu guru menyediakan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban masalah secara berkelompok. Siswa dilatih untuk mengeluarkan ide-ide yang mereka miliki dalam kaitannya dengan interaksi siswa dalam proses belajar untuk mengoptimalkan pembelajaran. 5.Langkah kelima: menyimpulkan, yaitu guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menarik kesimpulan tentang suatu konsep atau prosedur.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Kelebihan pembelajaran matematika realistik antara lain : a) Karena membangun sendiri pengetahuannya, maka siswa tidak pernah lupa. b) Suasana dalam proses pembelajaran menyenangkan karena menggunakan realitas kehidupan, sehingga siswa tidak cepat bosan untuk belajar matematika. c) Siswa merasa dihargai dan semakin terbuka, karena sikap belajar siswa ada nilainya. d) Memupuk kerjasama dalam kelompok. e) Melatih keberanian siswa karena siswa harus menjelaskan jawabannya. f) Melatih siswa untuk terbiasa berfikir dan mengemukakan pendapat. g) Mendidik budi pekerti. Sedangkan kelemahan pembelajaran matematika realistik antara lain : a) Karena sudah terbiasa diberi informasi terlebih dahulu maka siswa masih kesulitan dalam menentukan sendiri jawabannya. b) Membutuhkan waktu yang lama. c) Siswa yang pandai kadang tidak sabar menanti jawabannya terhadap teman yang belum selesai. d) Membutuhkan alat peraga yang sesuai dengan situasi pembelajaran saat itu. e) Belum ada pedoman penilaian sehingga guru merasa kesal dalam evaluasi/memberi nilai.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Terlepas dari kelebihan dan kelemahan PMR, melalui penerapan PMR (Pembelajaran Matematika Realistik) dalam pembelajaran matematika pada materi membandingkan nilai mata uang pada siswa kelas 2 SD Negeri Rejosari 01 Semarang nyatanya dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Sehingga saat tes formatif hasil yang diperoleh melejit secara signifikan. (*)