UMKM  

Membatik di Tengah Keterbatasan

INSPIRATIF: Suratno saat menunjukkan hasil batik buatannya, belum lama ini. (LUTHFI MAJID/JOGLO JATENG)

Banyak orang mengeluh dengan kondisi ekonominya. Padahal ia sehat dan jasmaninya utuh. Hal itu berbalik bagi para penyandang disabilitas ini. Mereka tak mengeluh. Terus berusaha membuat karya.

KETERBATASAN tak menjadi kendala untuk membuat sebuah karya. Seperti penyadang disabilitas yang tergabung Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Pati ini. Mereka bisa membuat batik dengan metode ciprat.

Ketua PPDI Pati Suratno mengatakan, dirinya dan penyandang disabilitas lainya mencari inovasi untuk membuat batik di tengah keterbatasan. Yakni membatik dengan memakai selembar kain putih sepanjang 3×2 meter yang diikatkan ke bambu.

Baca juga:  Kebanjiran Order Boneka Unta Tiap Musim Haji

Proses membatiknya berbeda dengan pembuatan batik pada umumnya yang menggunakan canting. Karena hanya memakai serabut kelapa dan alang-alang.

“Kalau menggunakan canting tak semua penyandang disabilitas bisa. Jadi agar semua bisa ya dengan metode ciprat,” kata Suratno, pria penyandang tuna daksa itu, Selasa (1/11/22).

Dia menjelaskan, proses membatiknya dengan cara memegang serabut kelapa yang dicelupkan malam (lilin) panas. Bertumpu pada lutut, kemudian serabut kelapa dicipratkan ke kain.

“Sambil memegang lutut, lalu mencipratkan serabut kelapa itu ke kain. Satunya megang serabut kelapa, satuya megang kaki,” terangnya sambil mencontohkan.

Baca juga:  Kebanjiran Order Boneka Unta Tiap Musim Haji

Kemudian, tahapan selanjutnya yakni pengolesan seluruh kain dengan pewarna. Selang beberapa menit setelah gambar motif batik ciprat terbuat.

“Caranya dengan dioleskan keseluruh kain itu dengan pewarna kain dan semacam busa. Setelah itu, nunggu tiga jam biar kering, baru dilapisi water glass untuk dikunci. Warnanya biar tidak buyar. Lalu digodok biar tidak luntur malamnya,” jelas dia.

Adapun harga batik buatan Suratno dan kawan-kawannya itu dibandrol dari mulai harga Rp 150 sampai 175 ribu. Sedangkan terkait penjualan batik itu sudah menjangkau luar Pulau Jawa.  Dari mulai Sumatera hingga Kalimantan. (lut/gih)