Media Kartu Pinus Mampu Tingkatkan Hasil Belajar Matematika

Oleh: Kusmanto, S.Pd.
Guru SDN 02 Kebagusan, Kec. Ampelgading, Kab. Pemalang

BELAJAR diartikan sebagai sebuah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku. Diartikan pula sebagai potensi perilaku sebagai hasil dari sebuah pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.

Selamat Idulfitri 2024

Karakteristik objek matematika yang abstrak menyebabkan materi matematika sulit untuk dipahami oleh siswa usia sekolah dasar yang masih berada pada tahap berpikir konkret. Dalam pembelajaran, guru masih menggunakan model pembelajaran klasikal dengan metode ceramah. Sehingga kurang maksimal untuk menjembatani kesenjangan materi dan kemampuan berpikir siswa.

Konsep yang diterima siswa dari metode ceramah cenderung verbal karena interaksi belajar didominasi guru. Siswa menjadi pasif, tidak berani bertanya, ataupun menyampaikan pendapat. Karena itu interaksi siswa tidak maksimal dan kreativitas siswa terhambat.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Matematika adalah disiplin ilmu tentang tata cara berfikir dan mengolah logika, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Sedangkan media pembelajaran menurut Miarso (2004), adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan si belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar.

Dari pengertian dua ahli tersebut dapat disimpulkan, bahwa dalam pembelajaran matematika sangat dibutuhkan media untuk merangsang siswa berfikir. Selain itu metode yang tepat sesuai dengan materi sangat menentukan hasil belajar. Metode demokrasi digunakan dalam pembelajaran  bilangan positif negatif.

Bilangan bulat termasuk materi dasar dalam mata pelajaran matematika. Bilangan bulat adalah bilangan bukan pecahan atau juga disebut bilangan penuh. Yakni terdiri dari bilangan bulat positif, bilangan nol, dan bilangan bulat negatif. Setiap bilangan bulat memiliki lawan kecuali nol. Misal, lawan 2 adalah -2. Pasangan lawan tersebut akan bernilai nol.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Dalam proses pembelajaran menghitung bilangan bulat, perlu digunakan media kartu pinus (singkatan dari plus dan minus). Strategi tersebut dapat meningkatkan hasil belajar matematika. Metode demonstrasi menggunakan media permainan kartu pinus dibuat dengan bentuk kotak ataupun lingkaran, dengan warna yang berbeda. Misal warna merah menandakan bilangan positif dan warna hitam menandakan bilangan negatif.

Fungsi kartu pinus ini dapat digunakan dan dimainkan untuk menghitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Adapun alat dan bahan yang digunakan untuk membuatnya adalah gunting, penggaris, spidol/pulpen, dan kertas dengan dua warna (merah dan hitam).

Prinsip kerja kartu pinus ini adalah sebagai alat bantu untuk menjumlahkan atau mengurangkan bilangan bulat positif dan negatif. Dengan menggunakan alat yang sederhana ini, siswa tidak terlalu banyak berpikir untuk mendapatkan jawaban. Contohnya pada penjumlahan bilangan (-6 + 8 =…), guru mengambil kartu yang bertanda negatif sebanyak enam kartu dan kartu yang bertanda positif sebanyak delapan kartu. Kemudian kartu-kartu tersebut dipasangkan satu persatu antara kartu positif dengan kartu negatif. Karena pasangan positif dan negatif menjadi netral atau bernilai nol, guru menghitung kartu yang tidak mempunyai pasangan, itulah hasilnya yaitu dua positif.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Hasil yang didapat selama pembelajaran menggunakan kartu yang diberi tanda positif dan negatif dengan metode demonstrasi melalui permainan kartu pinus pada materi hitung bilangan bulat hasil belajar siswa meningkat. Terbukti pemahaman konsep, latihan evaluasi dan sikap serta keterampilan interaksi satu siswa dengan yang lainnya meningkat. Keaktifan dan antusias nampak sehingga suasana belajar hidup dan menyenangkan. (*)