Mengenal Pembelajaran Berdeferensiasi Berbasis IKM

Oleh: Tri Setyaningrum, S.Pd.SD.
Guru SDN 02 Sidokare, Kec. Ampelgading, Kab. Pemalang

KEMENTERIAN Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikburistek) mengeluarkan kebijakan bahwa sekolah yang belum siap untuk menggunakan Kurikulum Merdeka masih dapat menggunakan Kurikulum 2013 sebagai dasar pengelolaan pembelajaran. Begitu juga Kurikulum Darurat yang merupakan modifikasi dari Kurikulum 2013, masih dapat digunakan oleh satuan pendidikan.

Selamat Idulfitri 2024

Kurikulum Merdeka sebagai opsi bagi semua satuan pendidikan yang di dalam proses pendataan merupakan satuan pendidikan yang siap melaksanakannya. Guru harus bisa memastikan bahwa setiap murid mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dengan cara terbaik yang sesuai untuk mereka. Pendidik perlu mengetahui bagaimana proses pembelajaran berdiferensiasi ini dapat dilakukan. Yakni dengan cara-cara yang memungkinkan guru untuk dapat mengelolanya secara efektif.

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang berakar pada pemenuhan kebutuhan murid baik dari segi kesiapan belajar, minat, atau profil belajarnya. Serta bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Menurut Tomlinson (2000), pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha menyesuaikan pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid.

Sejalan dengan Omlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan, bahwa guru dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan tiga aspek. Yakni kesiapan belajar (readiness), minat murid, dan profil belajar murid. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa diferensiasi tidak berarti bahwa guru harus dapat memenuhi kebutuhan semua individu setiap saat dan setiap waktu. Guru diharapkan dapat menggunakan berbagai pendekatan belajar sehingga sebagian besar murid menemukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan di kelas dengan strategi khusus dalam penerapannya dengan menggunakan tiga strategi. Yaitu diferensiasi konten, proses, dan produk.  Selain strategi di tersebut juga membutuhkan lingkungan yang kondusif yang dapat mendukung pembelajaran berdiferensiasi ini seperti adanya komunitas belajar, anggota kelas yang saling menghargai. Kemudian rasa aman secara fisik dan psikis, adanya harapan bagi pertumbuhan, guru mengajar untuk mencapai kesuksesan, dan adanya keadilan dalam bentuk karya nyata. Ketiga strategi di atas ini bisa dituangkan ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dibuat guru.

Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran berdiferensiasi adalah menentukan tujuan pembelajaran, memetakan kebutuhan belajar murid yakni kesiapan belajar, minat, dan profil belajar. Kemudian, menentukan strategi dan alat penilaian yang akan digunakan. Tentukan bentuk penilaian akhir yang merupakan kombinasi portofolio, proyek, dan tertulis. Kemudian buat rubrik penilaian agar guru tahu posisi murid ada di mana dan kendala apa yang dihadapinya. Yang terakhir, menentukan kegiatan pembelajaran yani konten, proses, serta produk.

Indikator keberhasilan suatu pembelajaran berdiferensiasi adalah siswa merasa nyaman dalam belajar, adanya peningkatan keterampilan baik segi hard skill atau soft skill, dan adanya kesuksesan belajar dari seorang murid. Yaitu murid mampu merefleksikan diri kemampuannya dimulai dari titik awal pembelajaran sampai peningkatan diri selama proses pembelajaran hingga akhir pembelajaran. Pembelajaran berdiferensiasi ini bukan berarti mencapai tujuan akhir siswa harus mencapai KKM yang diharapkan. Tetapi melalui pembelajaran ini, akan ada pergeseran penambahan nilai ke arah yang lebih baik.

Dari penjelasan diatas, dalam pembelajaran berdiferensiasi guru harus menunjukkan sikap kreatif, percaya diri, mau mencoba. Guru juga harus berani mengambil risiko dalam menerapkan berbagai ide strategi pembelajaran berdiferensiasi. Semua hal ini bisa dilakukan dimulai dengan mengubah pola pikir sebagai seorang guru. Bahwa pendidik harus bisa menghargai murid yang beragam, menggali berbagai minat murid, dan mencoba menyediakan sumber informasi yang dimiliki oleh sekolah untuk mengelola pembelajaran. (*)