Mudah Membandingkan Pecahan Nilai Mata Uang dengan CTL

Oleh: Mujiati
Guru Kelas SD Negeri Kebonsari 2, Kecamatan Dempet Kabupaten Demak

PROSES belajar mengajar merupakan kegiatan yang sengaja diciptakan antara guru dan peserta didik, karena memiliki tujuan yang akan dicapai. Kurangnya motivasi guru dalam melakukan inovasi pembelajaran yang mengarah pada peningkatan hasil belajar, serta penggunaan media pembelajaran yang tidak optimal, berpengaruh besar pada hasil belajar peserta didik. Banyak peserta didik yang menganggap belajar merupakan aktivitas rutin yang tidak menyenangkan dan membosankan. Terlebih lagi peserta didik menganggap pelajaran tersebut merupakan materi hafalan yang dapat yang dapat dibaca dan dihafal sendiri tanpa harus duduk berjam jam mendengarkan ceramah guru. Khususnya mata pelajaran Matematika hal tersebut masih sering terjadi. Dimana peserta didik hanya menghafal tetapi tidak memahami sehingga tidak memberi makna dalam kehidupan sehari hari.

Hal ini terjadi di SD Negeri Kebonsari 2 khususnya pada kelas 2 menunjukan bahwa, peserta didik sebagian besar masih cenderung pasif dalam kegiatan belajar mengajar. Selama kegiatan belajar peserta didik jarang sekali mengajukan pertanyaan, gagasan atau menanggapi pertanyaan serta kurang dapat bekerja sama dalam kelompok. Peserta didik juga kurang termotivasi untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, sehingga pada akhir pembelajaran tidak menampakkan peningkatan hasil belajar. Akhirnya kemampuan kognitifnya masih berada dibawah standar rata-rata. Banyak faktor penyebab pasifnya peserta didik dalam proses belajar mengajar dan rendahnya hasil belajar peserta didik, antara lain adanya dominasi guru dalam proses belajar mengajar, sehingga mengurangi minat dan motivasi dalam belajar. Disamping itu pembelajaran masih berpusat pada guru, sehingga proses pembelajaran menjadi kurang mendukung pengembangan pengetahuan peserta didik. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut maka guru mencari terobosan baru tentang cara pembelajaran yang sesuai dengan yang akan diajarkan kepada peserta didik. Salah satu alternatif pembelajaran yang cocok dengan kondisi Kelas 2 SD Negeri Kebonsari 2 Kec. Dempet Kab. Demak adalah dengan menerapkan model Contextual Teaching and Learning (CTL).

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Menurut Nurhadi dalam Sugiyanto (2007) CTL adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situ situasi dunia nyata peserta didik.

Menurut Suparto (2004:6) bahwa secara garis besar penerapan pendekatan kontekstual dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Mengembangkan metode belajar mandiri (konstruktivisme), 2) Melaksanakan penemuan (inquiry), 3) Menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik (questioning), 4) Menciptakan masyarakat belajar (learning community), 5) Hadirkan “model” dalam pembelajaran (modelling), 6) Lakukan refleksi di setiap akhir pertemuan (reflection), dan 7) Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assesment).

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Kelebihan pembelajaran kontekstual yaitu: 1) Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimiliki sisiwa sehingga sisiwa terlibat aktif dalam PBM. 2) Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif. 3) Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari. 4) Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru. 5) Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan. 6) Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok 7) Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok. Kelemahan pembelajaran kontekstual yaitu: 1) Dalam pemilihan informasi atau materi dikelas didasarkan pada kebutuhan siswa. 2) Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM. 3) Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang. 4) Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan. 5) Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini. 6) Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk mengapresiasikannya dalam bentuk lesan akan mengalami kesulitan. 7) Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata. 8) Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam CTL ini peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Setelah dilakukan inovasi pembelajaran melalui penggunaan model CTL di Kelas 2 SD Negeri Kebonsari 2 Kec. Dempet Kab. Demak, didapatkan kondisi bahwa pemahaman siswa pada materi membandingkan pecahan nilai mata uang dapat meningkat. Peserta didik lebih mudah memahami materi yang disampaikan guru. (*)