Tingkatkan Keaktifan Pembelajaran PPKn dengan Investigasi Kelompok

Oleh: Dra. Yumi Astuti, M.Si.
Guru PPKn SMA N 1 Demak

SEKOLAH dianggap bermutu bila berhasil mengubah sikap, perilaku dan keterampilan peserta didik yang berkaitan dengan tujuan pendidikan. Dalam hal ini guru menjadi titik fokusnya. Konsep mutu pembelajaran mengandung lima rujukan. Di antaranya pertama, kesesuaian. Yakni sepadan dengan karakteristik peserta didik dan serasi dengan aspirasi masyarakat maupun perorangan.

Selamat Idulfitri 2024

Kedua, pembelajaran yang bermutu juga harus mempunyai daya tarik yang kuat. Yaitu mudah dicapai dan diikuti, serta isi pendidikan yang mudah dicerna karena telah diolah sedemikian rupa. Ketiga, efektivitas pembelajaran sering kali diukur dengan tercapainya tujuan, atau dapat pula diartikan sebagai ketepatan dalam mengelola suatu situasi. Pengertian ini mengandung ciri sistematik, yaitu dilakukan secara teratur, konsisten atau berurutan. Proses tersebut melalui tahap perencanaan, pengembangan, pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan.

Keempat, efisiensi pembelajaran yang diartikan sebagai kesepadanan antara waktu, biaya, dan tenaga. Hal tersebut digunakan dengan hasil yang diperoleh, atau dapat dikatakan sebagai mengerjakan sesuatu dengan benar. Ciri yang terkandung meliputi rancangan kegiatan pembelajaran berdasarkan model yang mengacu pada kepentingan. Kemudian kebutuhan kondisi peserta didik. Selain itu pengorganisasian kegiatan belajar dan pembelajaran yang rapi,

Selanjutnya, kelima, produktivitas. Yaitu keadaan atau proses yang memungkinkan diperolehnya hasil yang lebih baik dan lebih banyak. Produktivitas pembelajaran dapat mengandung arti perubahan proses serta penambahan masukan dalam proses pembelajaran. Lalu peningkatan intensitas interaksi peserta didik dengan sumber belajar, atau gabungan ketiganya dalam kegiatan belajar, sehingga menghasilkan mutu yang lebih baik.

Mutu pembelajaran adalah ukuran yang menunjukkan seberapa tinggi mutu interaksi guru dengan siswa dalam proses pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan tertentu. Proses interaksi ini dimungkinkan karena manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupannya.

Surakhmad (1986:7) memberikan pengertian bahwa interaksi dalam pendidikan disebut dengan interaksi edukatif, yaitu interaksi yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan. Keberhasilan proses pembelajaran sangat tergantung pada guru, siswa, sarana pembelajaran, lingkungan kelas, dan budaya kelas.

Semua indikator tersebut harus saling mendukung dalam sebuah sistem kegiatan pembelajaran yang bermutu. Dalam konteks pembelajaran, pendidikan kewarganegaraan (PPKn) menekankan pada aspek sikap. Saat ini pembelajaran PPKn dihadapkan pada suatu kenyataan pembelajaran yang lebih banyak menyentuh ranah kognitif, yakni pada aspek pengetahuan. Hal ini terjadi karena posisi guru PPKn serba dilematis pada satu sisi dituntut untuk melakukan pekerjaan administrasi pembelajaran. Di sisi lain, harus menyelesaikan materi yang telah digariskan di dalam kurikulum yang hanya diberi waktu tiga jam per minggu.

Kondisi tersebut membuat guru PPKn berasumsi, yang penting semua materi dalam kurikulum dapat diselesaikan. Masalah hasilnya itu urusan belakang. Salah satu contoh model pembelajaran yang dilakukan yakni memaparkan beberapa ciri esensial penerapan investigasi kelompok sebagai model pembelajaran. Caranya, para siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil maksimal empat orang dan memiliki independensi terhadap guru.

Kegiatan yang dilakukan siswa terfokus pada upaya-upaya untuk menjawab beberapa pertanyaan yang telah dirumuskan. Dalam proses ini, pengalaman belajar siswa yang harus dikuasai meliputi mengumpulkan dan menganalisis sejumlah data, selanjutnya merumuskan kesimpulan.

Dalam kegiatan belajar, siswa dapat memanfaatkan berbagai ragam pendekatan yang bervariatif. Hasil-hasil dari penelitian siswa dirundingkan dengan bergiliran di antara seluruh siswa dalam kelompok.

Peran guru dalam model pembelajaran investigasi kelompok adalah guru berperan sebagai fasilitator yang langsung dan implikasi dalam kegiatan kelompok. Kemudian guru memberikan informasi mengenai pengetahuan tentang metode yang digunakan. Guru juga berperan sebagai konselor akademik dan membantu siswa membingkai proposisi yang reliable, serta memberikan bantuan tanpa harus menekan siswa. (*)