Sand Paper Letter untuk Kreatif Menulis Siwa Sekolah Dasar

Oleh: Hetty Dwi Yuanix, S.Pd.SD
Guru SD N 03 Pesucen, Kec. Petarukan, Kab. Pemalang

KEMAMPUAN berbahasa anak dapat dikembangkan sejak usia dini. Menurut Carol Seefelt dan Barbara A. Wasik, kemampuan mengenal huruf adalah kesanggupan melakukan sesuatu dengan mengenali tanda-tanda atau ciri-ciri dari tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan anggota abjad yang melambangkan bunyi bahasa. Seefeld dan Wasik juga mengatakan, bahwa pengenalan huruf merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan membaca permulaan kepada para pembaca melalui pemahaman konsep bentuk dan bunyi huruf cetak.

Selamat Idulfitri 2024

Namun, banyak tuntutan untuk anak dalam menulis hingga orang tua merasa jika anak-anaknya harus mampu membaca dan menulis pada usia sekolah dasar.  Permasalahan ini juga terjadi pada siswa SD Negeri 03 Pesuce, dimana sebagian besar siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam menulis. Kesulitan terletak pada kemampuan mengenali bentuk huruf abjad dan bagaimana arah huruf-huruf tersebut ditulis.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Untuk mengatasi pembelajaran menulis, guru hendaknya menggunakan media yang inovatif. Salah satunya dengan media pembelajaran ciptaan Montessori yaitu sandpaper letters, yakni alat peraga edukatif yang terbuat dari kertas ampelas untuk membentuk huruf abjad. Media yang terbuat dari kertas ampelas ini dibuat agar anak-anak menemukan gerakan skrip dari kertas ampelas secara lebih bebas dan alamiah. Dengan demikian, mereka bisa mengetahui bagaimana huruf ditulis.  Mereka juga belajar untuk membuat gerakan menuruti huruf.

Besar huruf yang dibuat sekitar 6 cm yang ditempel pada kertas halus yang tebal dan berwarna. Berbeda dengan kartu atau tabel huruf biasa yang hanya memberikan bantuan secara visual, sandpaper letters juga membantu secara sensorial. Tekstur kasar pada bentuk huruf-hurufnya akan membantu mengembangkan indra sensorik anak. Ketika anak meraba suatu huruf, sensor raba mereka akan mengikuti dan mengingat bentuk huruf tersebut. Selain itu, fungsi sensorik ini juga memungkinkan anak tidak akan keliru atau kebingungan mengenali huruf yang bentuknya mirip. Misalnya antara huruf “p” dan “q” atau “b” dan “d”.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Membuat sand paper letter cukup mudah. Hanya perlu peralatan dan bahan yang sederhana, di antaranya satu lembar kertas ampelas, dua lembar kertas karton warna, dan lem.  Alat yang digunakan penggaris, pensil, penghapus, gunting, dan cutter (opsional).

Langkah pembuatan diawali dengan membalik kertas amplas, bagi kertas amplas menjadi kotak-kotak kecil berukuran 3,5 cm X 3,5 cm agar besar huruf nantinya kurang lebih sama. Setelah gambar kotak selesai, buat tulisan huruf alfabet satu persatu. Karena menulisnya dibalik, maka perlu kehatian-hatian dalam menulisnya.  Selanjutnya, siapkan kertas karton warna dua lembar (warnanya bisa dipilih yang sesuai dengan warna favorit anak). Sama dengan kertas ampelas yang dibagi kotak-kotak, kertas kartonnya juga dibagi kota-kotak. Buat dengan ukuran 5,5 x 6,5 cm atau lima kotak mendatar dan tiga kotak menurun.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Gunting kotak tersebut kemudian tempelkan huruf alfabetnya ke atas kertas karton. Menempel hurufnya bisa dibuat agak kepinggir dengan tujuan anak-anak dapat leluasa membedakan tekstur yang kasar dari kertas amplas dan tekstur halus dari kertas karton.  Jika semua sudah ditempel, maka sandpaper letter siap digunakan.

Cara bermain dengan media ini sangat sederhana. Guru mengenalkan kepada siswa sedikit demi sedikit, misalnya tiga huruf saja. Kemudian guru meminta siswa untuk meraba dan merasakan tekstur kasar dari hurufnya, mengarahkan jari siswa mengikuti bentuk huruf, lalu meminta siswa untuk menyebutkan huruf yang disentuh. Jika diantara huruf yang disebutkan ada yang salah, guru bisa membantu siswa untuk mengingatnya dan mengulanginya lagi pada hari berikutnya.  Demikian seterusnya sampai siswa bisa mengenali huruf dengan benar. (*)