Tentang Quiet Quitting dan Peran Perusahaan untuk Mengendalikannya

ILUSTRASI: Wanita karir. (JOGLO JATENG/Foto: Pixabay)

Quiet quitting ramai menjadi perbincangan belakangan ini. Terutama oleh mereka yang berada di dunia kerja dan menjalani aktivitas hari-harinya sebagai oekerja.

Istilah ini mengacu pada konsep yang dipilih oleh para karyawan untuk ‘bekerja cukup’ atau ‘seperlunya’, sebagaimana cakupan tanggung jawabnya. Termasuk sesuai tingkatan gaji yang didapatkan.

Mulanya, Quiet quitting muncul akibat kekecewaan para karyawan yang minim mendapatkan penghargaan dari perusahaannya. Meskipun sudah bekerja keras, terutama ketika masa pandemi Covid-19 tengah bergejolak.

Kala itu, terjadi pemangkasan besar-besaran jumlah pegawai sebagai bentuk efisiensi terhadap situasi yang terjadi. Alhasil, tanggungan pekerjaan menumpuk pada karyawan yang masih tersisa.

Quiet quitting menyeruak juga karena semakin bertambahnya kesadaran para karyawan terkait pentingnya menghindari burnout di dunia kerja.

Seorang Chief Customer Officer (CCO) Mekari, Arvy Egadipoera dalam siaran resminya mengatakan, fenomena quiet quitting menangkap perhatian berbagai perusahaan, yang mencoba menelaah imbas fenomena tersebut pada produktivitas bisnis.

“Sebetulnya, dengan cara pandang dan pendekatan yang tepat, quiet quitting bisa menjadi kesempatan bagi perusahaan untuk mengulas kembali sistem dan kebijakan kepegawaian. Terutama untuk melihat bagaimana perusahaan bisa memperkuat kepuasan kerja karyawan,” kata Arvy.

Baca juga:  Nakes Diminta Bijak Bersosial Media

Ia menjelaskan, Mekari merupakan perusahaan software-as-a-service (SaaS) yang menyediakan rangkaian solusi digital untuk pengoperasian bisnis. Termasuk Mekari Talenta yang menjadi solusi human resources (HR) dapat terintegrasi.

Tak hanya itu, Mekari Talenta memungkinkan perusahaan untuk mengatur kepegawaian. Mulai dari administrasi, pembayaran gaji hingga pengembangan karir, secara efisien dan otomatis.

Cara Perusahaan Kendalikan Quiet Quitting

Dalam keterangannya, Arvy juga memberikan tips untuk perusahaan, khususnya guna mengatasi quiet quitting di antara karyawannya. Di antaranya:

  • Temukan Akar Ketidakpuasan

Langkah pertama yang harus diambil perusahaan adalah menemukan akar dari ketidakpuasan kerja.

Bisa jadi, karyawan merasa bahwa kenaikan karir terlampau sulit. Bisa juga apresiasi perusahaan terhadap performa kerja sangat minim, sehingga motivasi mereka terkikis.

Mengetahui akar dari ketidakpuasan juga memungkinkan perusahaan untuk merancang program yang tepat. Ham ini bisa digunakan sebagai cara untuk mengembalikan antusiasme karyawan.

  • Target Transparan

Key performance indicator (KPI) atau indikator kinerja utama, menjadi garis dasar saat menilai performa karyawan.

Baca juga:  Nakes Diminta Bijak Bersosial Media

Perusahaan dan karyawan harus duduk bersama untuk menyelaraskan antara target kerja dengan aspirasi karir.

Solusi digital memungkinkan perusahaan untuk mematok dan memantau pencapaian target kerja oleh karyawan secara real-time.

Dengan demikian, baik perusahaan maupun karyawan bisa saling mengetahui kemajuan pencapaian target dan melakukan penyesuaian.

  • Penilaian Menyeluruh

Metode 360-degree feedback atau masukan 360 derajat semakin lazim diterapkan oleh perusahaan saat mengukur performa karyawan.

Melalui metode ini, kinerja seorang karyawan bisa diukur berdasarkan masukan dari berbagai sudut pandang, termasuk kolega.

Kunci kelancaran 360-degree feedback ialah penggunaan solusi digital yang memudahkan feedback untuk diberikan secara transparan, reguler, serta menyeluruh.

  • Penghargaan Terhadap Pencapaian

Salah satu pemicu quiet quitting adalah rendahnya apresiasi perusahaan terhadap pencapaian karyawan.

Olah karena itu, perusahaan perlu memberikan apresiasi kepada karyawannya. Salah satu caranya ialah dengan memberikan bonus berdasarkan performa.

Kemudian, solusi digital dapat digunakan agar bonus tersebut secara otomatis terkirim bersama gaji. Sehingga karyawan langsung merasa senang karena mendapatkan penghasilan lebih.

  • Program Pengembangan Karir
Baca juga:  Nakes Diminta Bijak Bersosial Media

Pengembangan karir menjadi ‘jalan ninja’ bagi karyawan. Tidak hanya untuk menaikkan gaji, tetapi juga bisa digunakan membuktikan kemampuan diri.

Saat ini, banyak perusahaan yang memiliki karyawan dengan peran dan posisi yang sangat beragam. Mulai dari social media specialist hingga front-end engineer, yang menuntut perusahaan untuk bisa merancang program pengembangan karir yang sesuai dengan keunikannya masing-masing peran.

Program pengembangan karir yang personalized, atau disesuaikan dengan karakteristik peran, minat, dan target karir setiap karyawan.

Arvy menambahkan, pemanfaatan solusi digital semakin relevan. Mengingat bahwa karyawan didominasi oleh kelompok millennial dan Gen-Z yang sudah terbiasa menggunakan teknologi saat bekerja.

“Penggunaan solusi digital juga semakin penting di era pasca pandemi karena timbulnya peperangan talenta antar perusahaan. Berbagai perusahaan secara bersamaan ingin menggaet dan mempertahankan karyawan dengan kemampuan dan pengetahuan tinggi. Karena karyawan-karyawan tersebutlah yang akan menjalankan ide inovatif yang membantu perusahaan untuk memenangkan pasar,” kata Arvy. (ara/mg2)