Africa Blind Board Tingkatkan Pemahaman Peserta Didik dalam Pembelajaran Geografi

Oleh: Rif‘ah, S.Pd., M.H.
Guru IPS SMP Negeri 3 Demak

GEOGRAFI merupakan  bagian dari mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)  di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) atau madrasah tsanawiyah (MTs). IPS sendiri merupakan gabungan pelajaran terbanyak di antara mata pelajaran yang lain. Sehingga, materinya terlalu padat, apalagi ditambah dengan hafalan-hafalan. Hal ini menyebabkan  peserta didik merasa bosan, tidak tertarik dan berujung tidak berminat.

Selamat Idulfitri 2024

Dengan keadaan seperti ini, guru yang baik tentu akan  merasa tertantang untuk membangkitkan minat peserta didik. Guru dituntut bisa menyampaikan materi pembelajaran dengan menarik, inovatif, dan kreatif.  Yakni dengan memberikan model pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang akan disampaikan pada peserta didiknya. Dengan demikian, peserta didik akan merasa senang dan tidak bosan.

Dalam materi IPS tingkat SMP atau MTs  yang menggunakan kurikulum 2013 (K13) untuk kelas IX semester ganjil, di antaranya mempelajari tentang Benua Afrika.  Materi ini membahas tentang letak dan luas Benua Afrika, kondisi alam, iklim, dinamika penduduk, dan sebagainya. Pada umumnya, peserta didik masih merasa kesulitan dalam  mempelajari materi tentang benua atau negara-negara di dunia. Sehingga, guru harus kreatif mencari solusi agar peserta didiknya dapat belajar dengan menyenangkan dan faham.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Di antara media sederhana dan tidak membutuhkan biaya yang mahal untuk mempelajari materi benua Afrika ini adalah menggunakan media Africa blind board . Media tersebut dibuat dengan menempel potongan kertas/karton dengan tulisan nama-nama negara di Benua Afrika. Ditambahkan pula nama-nama perairan disekitar benua tersebut. Nama-nama negara nantinya ditempel pada gambar benua Afrika, dan nama- nama perairan nantinya  untuk menentukan batas-batas wilayah benua Afrika. Kemudian,  potongan-potongan  kertas yang berisi nama-nama negara di benua Afrika dan nama-nama perairan disekitar benua Afrika tersebut disusun menjadi gambar yang utuh.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Adapun alat-alat yang digunakan pada media ini adalah gambar peta buta benua Afrika, MMT, papan/kayu tripleks, spidol, pensil, penggaris, cutter. Kemudian karton warna-warni yang sudah ditulisi nama-nama negara di Benua Afrika dan paku pines.

Dalam kegiatan pembelajaran ini, peserta didik dibentuk menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari lima hingga enam anak. Kemudian tiap kelompok diberi kartu soal yang berisi beberapa soal yang terkait dengan materi tersebut untuk didiskusikan bersama dengan anggota kelompoknya. Misalnya, kelompok satu mendiskusikan wilayah Afrika Utara,  kelompok dua mendiskusikan wilayah Afrika Timur. Lalu kelompok tiga mendiskusikan wilayah Afrika Selatan, kelompok empat mendiskusikan wilayah Afrika Barat dan kelompok lima mendiskusikan wilayah Afrika Tengah.

Tiap kelompok harus menyelesaiakan semua tugas yang diberikan di kartu soal yang telah mereka terima, dan menunjuk salah satu anggota sebagai ketua kelompok. Setelah menyelesaikan tugasnya, tiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. Untuk menentukan letak negara di Benua Afrika tersebut, peserta didik cukup menempelkan potongan kartu yang berisi nama-nama negara di benua Afrika pada gambar peta buta benua Afrika dengan paku pines. Kemudian tiap kelompok menyampaikan penjelasan bagian wilayah yang telah menjadi tugasnya, kemudian kelompok lain menanggapi. Itu dilakukan secara bergantian kepada semua kelompok.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Pembelajaran dengan menggunakan media Africa blind board ini ternyata sangat  membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Peserta didik juga merasa lebih senang dan lebih mudah untuk memahami materi. Jadi, disini lah manfaat pembelajaran dengan menggunakan media tersebut. Yakni memudahkan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Peserta didik pun senang serta lebih mudah untuk memahaminya. (*)