Tingkatkan Motivasi Belajar PPKn dengan Reward and Punishment

Oleh: Mulyati, S. Pd.
Guru SDN 04 Paduraksa, Kec. Pemalang, Kab. Pemalang

BETAPA pentingnya pendidikan manusia, hingga Allah SWT akan meninggikan derajat dalam menjalani kehidupan, baik keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negara. Pendidikan mempunyai peran untuk meningkatkan sumber daya manusia.

Pada tahun ajaran baru di setiap jenjang pendidikan, jumlah siswa semakin meningkat. Berbagai kemungkinan masalah akan dihadapi oleh para guru, yakni sesuatu yang berhubungan dengan tingkah laku siswa. Terjadi banyak penyimpangan dan tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan. Dalam menghadapi fenomena semacam ini, guru haruslah bijak dalam mengambil tindakan.

Sekecil apapun tindakan guru, nantinya akan menimbulkan dampak positif maupun negatif pada siswa. Harus dipikirkan bagaimana membentuk kepribadian siswa menjadi baik sesuai, dengan tujuan pendidikan dan terbentuknya kepribadian siswa. Perlu diadakan upaya pencegahan dengan menetapkan peraturan-peraturan yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh siswa. Hal tersebut dilakukan untuk mengatasi masalah, serta memberi motivasi belajar bagi siswa. Tujuannya, agar proses pendidikan bisa berjalan dengan lancar dan berhasil, demi meningkatkan kualitas dan prestasi belajar siswa.

Namun ada cara lain yang bisa diterapkan, yaitu dengan memberi motivasi belajar dengan reward (ganjaran) dan punishment (hukuman). Model tersebut menjadi salah satu alat pendidikan untuk mempergiat usaha siswa untuk memperbaiki maupun meningkakan prestasi yang telah dicapai. Reward dan punishment adalah alat pendidikan yang represif. Namun kedua-duanya mempunyai prinsip yang bertentangan. Menurut Malik Fadjar (2003 : 202), punishment adalah usaha edukatif untuk memperbaiki dan mengarahkan siswa ke arah yang benar. Bukan praktik hukuman dan siksaan yang merusak kreatifitas.

Punishment merupakan tindakan yang dijatuhkan kepada anak didik secara sadar dan di sengaja, sehingga menimbulkan nestapa. Dengan adanya nestapa itu, anak didik akan menjadi sadar akan perbuatanya dan berjanji di dalam hatinya untuk tidak mengulanginya.

Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan (PPKn) di SDN 04 Paduraksa terbagi menjadi tiga kegiatan. Yaitu kegiatan awal, inti, dan kegiatan penutup. Adapun langkah-langahnya yaitu pertama, kegiatan awal pembelajaran diawali dengan menyiapkan ruang, alat dan media pembelajaran, dan memeriksa kesiapan siswa. Kemudian menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan melakukan apersepsi. Kegiatan inti mencakup mengenalkan reward dan punishment terhadap motivasi belajar.

Kedua, kegiatan awal guru menyiapkan ruang, alat, dan media pembelajaran dan melakukan apersepsi. Namun tidak memeriksa kesiapan siswa dan menyampaikan kompetensi yang akan dicapai. Pada kegiatan penutup, siswa dan guru membuat kesimpulan bersama, tetapi guru tidak memberikan PR sebagai tindak lanjut. Ketiga, kegiatan awal guru melakukan seluruh langkah pembelajaran. Pada kegiatan inti guru melakukan seluruh langkah pembelajaran. Pada kegiatan penutup siswa dan guru membuat kesimpulan bersama, tetapi guru tidak memberikan PR sebagai tindak lanjut.

Dari langkah tersebut, dilihat bahwa keseluruhan langkah pembelajaran pada kegiatan inti telah dilakukan dengan menggunakan reward dan punishment. Cara tersebut dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa dalam pelajaran PPKn.

SDN 04 Paduraksa merupakan sekolah yang bersifat responsif untuk menerima pembaharuan. Sedangkan pada mata pelajaran PPKn, guru menggunakan reward dan punishment dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga siswa tidak akan merasa bosan dalam kegiatan belajar mengajar. Siswa akan merasa jenuh dalam kegiatan belajar mengajar karena sejak pagi sampai siang berada di sekolah untuk belajar. Apalagi dalam kegiatan belajar mengajar hanya menggunakan metode ceramah saja,

Dengan menggunakan reward dan punishment, kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan, terkendali, dan bervariasi. Mengingat sangat pentingnya pemberian reward dan punishment di sekolah. (*)