Optimalkan Hasil Belajar dengan Think Pair Share

Oleh: Abdullah Adib, S.Pd.SD.
SDN Bogosari 1, Kec. Guntur, Kab. Demak

MATEMATIKA merupakan salah satu pelajaran yang sangat penting untuk dipelajari oleh setiap peserta didik, yang berguna dalam kehidupan sehari-hari dan kemajuan teknologi. Pendekatan pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) merupakan salah satu solusi agar peserta didik dapat memperoleh hasil belajar matematika yang lebih baik.

Selamat Idulfitri 2024

Menurut Miftahul Huda (2015:206), pendekatan ini memperkenalkan gagasan tentang waktu tunggu atau berfikir (wait or think time) pada elemen interaksi pembelajaran kooperatif. Elemen tersebut saat ini menjadi salah satu faktor dalam meningkatkan respons peserta didik terhadap pertanyaan.

Pendekatan pembelajaran TPS dipilih karena memungkinkan peserta didik untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain. Kemudian saling berbagi gagasan dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Pendekatan ini memiliki prosedur yang secara eksplisit memberikan siswa lebih banyak waktu untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.

Menurut Jamil Suprihatiningrum (2013:209), pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan TPS ini dapat dideskripsikan sebagai berikut. Pertama, tahap thinking (berpikir). Guru mengajukan pertanyaan atau menyajikan sebuah permasalahan yang berhubungan dengan materi pembelajaran. Selanjutnya, meminta peserta didik untuk memikirkan pertanyaan atau permasalahan tersebut selama beberapa saat.

Kedua, pairing. Yakni guru meminta peserta didik secara berpasangan untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Dengan interaksi ini, peserta didik diharapkan dapat berbagi jawaban atau ide mengenai sebuah permasalahan. Kemudian yang ketiga, sharing. Pada tahap akhir ini guru meminta peserta didik secara bergiliran untuk berbagi kepada seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan. Setelah itu dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.

Adapun langkah-langkah pembelajaran TPS menurut Miftahul Huda (2015:206), yakni pertama, peserta didik ditempatkan dalam kelompok-kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat anggota/peserta didik. Kedua, guru memberikan tugas pada setiap kelompok. Ketiga, masing-masing anggota memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri-sendiri terlebih dahulu. Keempat, kelompok membentuk anggota-anggotanya secara berpasangan, lalu setiap pasangan mendiskusikan hasil pengerjaan individunya. Kelima, kedua pasangan lalu bertemu kembali dalam kelompoknya masing-masing untuk men-share hasil diskusinya.

Manfaat pembelajaran dengan TPS adalah memungkinkan peserta didik untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain, serta mengoptimalkan partisipasi peserta didik. Selain itu dapat memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain.

Adapun kelebihan dari pendekatan TPS yaitu dapat meningkatkan daya nalar, daya kritis, dan analisis peserta didik terhadap suatu permasalahan. Kemudian meningkatkan kerja sama antar peserta didik karena mereka dibentuk dalam kelompok. Lalu, meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami dan menghargai pendapat orang lain. Dan juga meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menyampaikan pendapat sebagai implementasi ilmu pengetahuannya.

Sedangkan kekurangan dari pendekatan TPS antara lain perlunya menentukan permasalahan yang cocok dengan tingkat pemikiran peserta didik. Selain itu, siswa kurang terbiasa memulai pembelajaran dengan suatu permasalahan nyata, dan pengalaman peserta didik dalam menyelesaikan masalah relatif terbatas.

Kekurangan yang ada diharapkan dapat diatasi dengan peran guru, yang senantiasa meningkatkan motivasi peserta didik agar berperan aktif. Peserta didik juga didukung untuk meningkatkan tanggung jawab belajar bersama dan membantu peserta didik yang mengalami kesulitan. Siswa memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan bersama kelompoknya atau kelompok lain dalam satu kelas sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai. (*)