Peran Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Penyimpangan Sosial

Oleh: Nurali Mustofa, S.Pd.I., M.A
Guru SDN 01 Tegalmlati, Kec. Petarukan Kab. Pemalang

PENYIMPANGAN sosial yaitu perilaku seseorang yang tidak sesuai dengan norma sosial dan aturan yang telah ditetapkan. Perbuatan menyimpang di zaman sekarang marak dimana-mana, dan sudah dianggap hal yang biasa. Seperti yang kita ketahui, banyak berita yang telah beredar tentang pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur, selain itu juga pembunuhan dimana-mana.

Begitupun dengan minum-minuman keras dan beralkohol, sudah menjadi hal yang biasa bagi anak remaja. Mereka sudah menganggapnya sebagai kesenangan tersendiri. Padahal itu semua termasuk perbuatan menyimpang yang berdampak negatif bagi diri sendiri dan orang lain.

Faktor-faktor terjadinya penyimpangan sosial di antaranya, yang pertama, keterbelakangan ekonomi. Seperti pencurian, perampokan, begal, dan sebagainya. Kedua, faktor lingkungan atau pergaulan. Misalnya, sering berkumpul dengan orang yang suka berjudi, mabuk-mabukan, ataupun lainnya. Jika sering berkumpul dengan orang seperti itu, maka orang akan terpengaruhi, dan melakukan penyimpangan sosial.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Ketiga, pengaruh media sosial. Seperti melihat tayangan yang tidak layak, misalnya film tentang kekerasan. Jika konten tersebut dilihat oleh orang yang kurang wawasan atau anak kecil, bahayanya bisa di terapkan dan dapat mengakibatkan penyimpangan sosial. Keempat, cara bersosialisasai yang gagal. Orang yang salah dalam bersosialisasi yaitu orang yang hanya ikut sosialisasi saja tanpa memahami tujuan dan maksud tertentu. Gagal dalam mendalami norma-norma dan peraturan yang ada. Dan akhirnya mengakibatkan melakukan penyimpangan-penyimpangan sosial.

Kelima, pendidikan yang keras dalam keluarga. Seperti jika anak melakukan kesalahan sedikit, orang tua menghukumya dan suka main fisik. Orang tua yang suka melarang anaknya secara berlebihan juga berpengaruh pada mental anak. Jika anak sering dimarahi dan dilarang, maka anak akan malah tertekan. Akibatnya mereka akan melapiaskan rasa kecewa dan sedihnya diluar lingkungan keluarga dan melakukan perbuatan yang menyimpang

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Adapun perilaku menyimpang yang sering terjadi pada pelajar adalah tawuran antar pelajar. Penyebabnya terkadang hanya mulai dari masalah yang sangat sepele. Seperti masalah percintaan, saling menjelekkan. Atau yang sering terjadi biasanya karena nonton sebuah hiburan, kemudian ada yang saling senggol-senggolan hingga mengakibatkan lawannya tidak terima.

Selain tawuran pelajar, yang sering terjadi adalah bullying. Bullying adalah perilaku kejahatan atau kekerasan yang dilakukan oleh satu orang atau berkelompok untuk melukai seseorang. Perilaku penyimpangan ini bisa dilakukan secara fisik seperti memukul, mendorong, mencekik, ataupun menendang.

Maka dari itu, perlu adanya upaya untuk meminimalisir perbuatan menyimpang. Pendidikan agama Islam sangat memiliki peran penting dalam mencegah perbuatan tersebut. Karena membantu manusia, khususnya dalam memperbaiki akhlak dan moral seseorang. Adapun tujuan perkembangan moral yaitu untuk menjadikan individu mempunyai perilaku, etika, serta akhlak yang baik dan positif. Yaitu sesuai dengan norma atau peraturan yang ada, dan membiasakan individu berperilaku sesuai dengan aturan, norma, ataupun agama.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Akhlak juga mempunyai peran dalam membina masyarakat untuk menciptakan masyarakat yang damai dan sejahtera baik dari lahir maupun batiniah. Dengan demikian, akhlak sangat mempunyai peran aktif dalam menghasilkan produk yang baik. Seperti pada tujuan pendidikan, yaitu tidak hanya menghasilkan ilmu yang baik tetapi juga tingkah laku yang terpuji.

Antara tujuan pendidikan akhlak dengan tujuan pendidikan agama sangat erat kaitannya. Sebagaimana pendidikan akhlak menjadi tujuan yang berarti untuk pendidikan Islam. Oleh karena itu, dalam pendidikan agama Islam tidak hanya menghasilkan seseorang yang hanya cerdas. Namun juga menghasilkan individu yang mengenal Allah dan mengerti arah hidup yang benar. (*)