Mengembangkan Potensi Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Oleh: Sufrotun Mahfundoh, S.Pd. SD., M.Pd.
Guru SD Negeri Kedungori 1, Kec. Dempet, Kab. Demak

PADA umumnya, dalam melaksanakan proses pembelajaran, guru cenderung masih menyamakan pelayanan pada setiap siswa. Guru belum menyadari bahwa siswa memiliki keunikan masing-masing baik dari segi potensi maupun gaya belajarnya. Hal ini terjadi pada siswa yang pandai serta bermotivasi tinggi, disamakan dengan pembelajaran untuk siswa yang berkesulitan belajar serta bermotivasi rendah.

Selamat Idulfitri 2024

Selain itu, perbedaan gaya belajar yang dimiliki siswa belum mendapatkan pembelajaran yang sesuai. Sehingga semua bakat dan potensi yang dimiliki oleh siswa tidak dapat terakomodir dengan optimal. Tingkat kesiapan siswa (readiness) untuk menerima materi selanjutnyapun belum dipertimbangkan dengan baik.

Berkaca dari latar belakang tersebut, maka guru perlu memberikan pelayanan pembelajaran yang berpihak pada siswa. Yakni dengan memenuhi kebutuhan belajarnya atau disebut dengan istilah pembelajaran berdiferensiasi, yaitu serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru. Keputusan tersebut berorientasi pada pemenuhan kebutuhan belajar siswa baik dari segi kesiapan belajar, minat, atau profil belajar. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan usaha menyesuaikan pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap siswa.

Dari pengertian tersebut, bukan berarti pembelajaran berdiferensiasi, guru harus dapat memenuhi kebutuhan semua individu setiap saat dan setiap waktu. Dalam hal ini guru diharapkan dapat menggunakan berbagai pendekatan belajar, sehingga sebagian besar siswa menemukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kebutuhan belajar siswa meliputi kesiapan belajar (readiness), minat, dan profil belajar siswa. Kesiapan belajar (readiness) merupakan kemampuan siswa untuk mempelajari suatu konten atau materi yang baru. Dalam sebuah pembelajaran, ketika seorang guru ingin melanjutkan pembahasan topik atau materi baru, perlu memetakan kesiapan belajar siswa.

Minat belajar siswa akan menentukan guru dalam merancang pembelajaran. Guru dapat melakukan pemetaan minat bakat siswa. Misalnya menyanyi, melukis, desain, membaca puisi, performance, menari, dan lainnya. Minat bakat ini berkaitan dengan produk atau karya yang dihasilkan siswa, dalam atau setelah proses pembelajaran.

Profil belajar siswa merupakan pendekatan yang disukai siswa untuk belajar. Adapun gaya belajar siswa ada yang visual (belajar dengan melihat), auditori (belajar dengan mendengar), kinestetik (belajar dengan melakukan). Ada pula kombinasi dari gaya belajar tersebut.

Langkah-Langkah pembelajaran berdiferensiasi yaitu pertama, memetakkan siswa sesuai dengan kebutuhan belajar. Dalam mengkategorikan kebutuhan belajar, guru harus menggunakkan asesmen diagnosa melalui wawancara, angket, observasi, ataupun melalui data-data yang telah dimiliki oleh guru.

Kedua, merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan belajar. Setelah mengetahui karakteristik serta kebutuhan belajar siswa, guru dapat menyusun rencana pembelajaran dengan menggunakan model, metode, strategi, media pembelajaran yang bervariasi. Yakni sesuai dengan kebutuhan belajar serta tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

Ketiga, menerapkan strategi pembelajaran berdiferensiasi. Terdapat tiga strategi, di antaranya direfensiasi konten, yakni guru menyediakan bahan dan alat sesuai kebutuhan belajar. Kemudian diferensiasi proses. Yaitu menekankan pada bagaimana siswa dapat memahami atau memaknai apa yang telah dipelajari.

Lalu diferensiasi proses, yang bisa dilakukan dengan kegiatan berjenjang atau bertahap dengan meyediakan pertanyaan pemandu atau challenge yang perlu diselesaikan di sudut-sudut minat. Setelah itu membuat agenda individual untuk siswa, yaitu daftar tugas, memberikan waktu lama atau durasi yang siswa dapat ambil untuk menyelesaikan tugas. Selanjutnya mengembangkan kegiatan yang beragam dan tidak monoton.

Diferensiasi produk merupakan hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukkan siswa kepada guru. Dapat berupa karangan, pidato, rekaman, diagram, atau sesuatu yang ada wujudnya. (*)