Model Tutor Sebaya pada Pembelajaran Matematika Siswa Kelas 1 SD

Oleh: Tri Astuti, S.Pd.
SD Negeri 01 Losari, Kec. Ampelgading, Kab. Pemalang

PELAJARAN matematika pertama kali diterima secara formal oleh pelajar adalah pada waktu mereka duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar (SD). Usia anak‐anak (7 – 12 tahun) memiliki struktur perkembangan kognitif yang berbeda dengan usia sebelumnya atau sesudahnya. Karakteristik kognitif pada usia ini yaitu sesuai dengan stage perkembangan yang ditemukan oleh Piaget, yaitu pada stage operasional konkrit.

Pada stage ini, anak‐anak memahami sesuatu lebih cepat dengan suatu yang konkrit, bukan abstrak. Mereka juga telah mampu memahami konservasi yaitu hukum kesamaan. Misalnya air 200 ml yang dituangkan di gelas akan sama banyaknya jika dituangkan di dalam mangkuk, walaupun bentuk mereka berbeda.

Pada pembelajaran matematika kelas 1 SD materi Berhitung, membutuhkan kemampuan dasar anak yang cukup. Sementara, kemampuan siswa pada awal masuk sekolah berbeda beda. Ada yang sudah pandai berhitung, dan bahkan ada yang belum mengenal bilangan. Hal ini membuat penulis berusaha bagaimana agar semua siswa mempunyai kemampuan berhitung.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Pada awal masuk sekolah, hasil belajar siswa kelas 1 SDN 01 Losari di mata pelajaran matematika  semester 1 materi Penjumlahan dan Pengurangan sangat rendah. Hampir 75%  siswa mendapat nilai di bawah kritria ketuntasan minimal (KKM), yakni 63.

Penulis mencoba menerapkan metode tutor sebaya atau lebih dikenal lagi dengan metode peer teaching. Yakni peserta didik yang lebih pandai menjadi pengajar untuk temannya sendiri. Suherman (2003 :45) menjelaskan, metode tutor sebaya sebagai metode pembelajaran dimana sekelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan pelajaran, memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran.

Kelebihan metode tutor sebaya menurut Sutamin (2007) adalah siswa akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Anak diajarkan untuk mandiri, serta lebih mudah dan leluasa dalam menyampaikan masalah yang dihadapi. Dengan begitu, siswa yang bersangkutan terpacu semangatnya untuk mempelajari materi ajar dengan baik. Membuat siswa yang kurang aktif menjadi aktif karena tidak malu lagi bertanya dan mengelauarkan pendapatnya secara bebas. Kemudian membantu siswa yang kurang mampu atau kurang cepat menerima pelajaran dari gurunya. Dari tutor maupun yang ditutori sama-sama mendapat pengalaman dan yang ditutori akan menjadi lebih kreatif.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Tetapi Tutor sebaya juga mempunyai kelemahan. Tidak semua siswa mampu menjelaskan kepada temannya dan tidak semua siswa mampu menjawab pertanyaan temannya (Suzar’an, 2010)

Penulis melihat perbedaan kemampuan siswa yang sangat jauh dari teman teman lainnya. Beberapa siswa jika diberi soal dalam waktu singkat bisa selesai mengerjakan dan nilainya sempurna. Mereka yang sudah selesai biasanya jenuh menunggu teman-temannya yang belum selesai, yang akhirnya tidak mau diam, dan bahkan kadang membuat gaduh di kelas. Penulis memanfaatkan situasi tersebut untuk menjadikan mereka sebagai tutor bagi temannya sendiri. Mereka yang diberi tugas sebagai tutor, yakni mengajari teman-temannya yang masih kesulitan dalam menyelesaikan soal. Proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan tutor teman sebaya membuat siswa menjadi aktif dan kelas menjadi lebih kondusif, karena semua siswa fokus dengan tugasnya masing-masing.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Penulis menerapkan metode tutor sebaya hanya untuk tugas latihan. Sedangkan untuk penilaian hasil belajar, tetap mengutamakan hasil kemampuan siswa sendiri tanpa bantuan siapapun. Dengan diterapkannya metode tersebut, akhirnya keaktifan anak dalam belajar meningkat. Jika kemampuan siswa dalam berhitung meningkat, akhirnya hasil belajar mereka juga meningkat. (*)