Belajar PAI dengan Ceria Menggunakan Metode Snowball Throwing

Oleh: Wahdatul Ummah, S.Ag.
SD Negeri 03 Sidokare, Kec. Ampelgading, Kab. Pemalang

DALAM proses pembelajaran pendidikan agama islam (PAI) di sekolah dasar, secara umum masih menggunakan metode konvensional, yakni dengan menggunakan metode ceramah. Cara tersebut menyebabkan peserta didik sering merasa bosan dan kurang tertarik dengan materi yang disampaikan oleh guru.

Selamat Idulfitri 2024

Menurut Gagne, seperti yang dikutip oleh Mariana (1999:25) menyatakan, untuk terjadinya belajar pada diri siswa diperlukan kondisi belajar, baik kondisi internal maupun kondisi eksternal. Kondisi internal merupakan peningkatan memori siswa sebagai hasil belajar terdahulu. Memori siswa yang terdahulu merupakan komponen kemampuan yang baru dan ditempatkan bersama-sama. Kondisi eksternal meliputi aspek benda yang dirancang atau ditata dalam suatu pembelajaran sebagai hasil belajar.

Salah satu model pembelajaran alternatif yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran snowball throwing atau lemparan bola salju. SD N 03 Sidokare telah mencoba Model pembelajaran ini, yaitu untuk membantu penyampaian materi melalui diskusi kelompok. Pembelajaran diselingi dengan permainan dengan cara saling melempar pertanyaan yang ditulis dalam secarik kertas (seolah-olah sebagai bola salju). Model pembelajaran ini menjadikan para siswa lebih dilibatkan secara langsung dan lebih aktif.

Secara etimologi, snowball berarti bola salju, sedangkan throwing artinya melempar. Secara keseluruhan, snowball throwing dapat diartikan melempar bola salju. Menurut Komalasari (2010: 67), model snowball throwing adalah model pembelajaran yang menggali potensi kepemimpinan siswa dalam kelompok dan keterampilan membuat-menjawab pertanyaan yang di padukan melalui permainan imajinatif membentuk dan melempar bola salju.

Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa model snowball throwing adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif berupa permainan yang dibentuk secara kelompok dan memiliki ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru. Kemudian setiap kelompok membuat pertanyaan dan akan dilempar pada kelompok lain.

Hasil dari beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh teman-teman pendidik, Model snowball throwing disebutkan dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan meningkatkan keaktifan belajar siswa. Pembelajaran dengan metode ini dapat digunakan sebagai alternatif untuk upaya meningkatkan hasil belajar siswa, serta menciptakan suasana belajar yang aktif, menarik, bertanggung jawab dan bersikap positif. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. Pertama, guru menyampaikan materi yang akan disajikan. Kedua, guru membentuk kelompok belajar siswa sebagai sarana diskusi kelompok. Setelah itu, guru memanggil ketua-ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi yang telah disampaikan oleh guru kepada teman-teman di kelompoknya .

Ketiga, masing-masing siswa diberikan satu lembar kerja untuk menuliskan pertanyaan perihal materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok masing-masing. Keempat, kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa lainnya selama kurang lebih lima menit. Setelah siswa mendapatkan satu bola/satu pertanyaan, kemudian siswa diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang tertulis di dalam kertas berbentuk bola secara bergantian. Kelima, evaluasi dan diakhiri dengan penutup.

Penerapan model pembelajaran snowball trhrowing ini cocok diterapkan pada mapel PAI pada topik aqidah, akhlaq, fiqih, tarikh, serta kebudayaan islam. Karena keempat aspek tersebut membutuhkan pemahaman materi yang mendalam dan penggalian informasi dari siswa secara langsun. Dengan model pembelajaran snowball throwing ini juga dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Tidak hanya satu arah saja, namun pembelajarannya dapat terlaksana dengan dua arah, yakni antara guru dan peserta didik.

Dan dari apa yang penulis terapkan di kelas, terbukti bahwa model pembelajaran snowball throwing mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik. Hal ini bisa dilihat dari nilai rata-rata yang meningkat serta nilai ketuntasan belajar siswa secara klasikal juga lebih bagus. (*)