Model Pembelajaran pada Mapel PJOK

Oleh: Nur’aeni, S.Pd.
Guru SD Negeri 02 Sokawati, Kec Ampelgading, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN jasmani olahraga dan kesehatan (PJOK) adalah mata pelajaran yang sudah sangat familiar dengan dunia outdoor atau arena luar, misal di lapangan. Menurut Sanjaya (2013) dan Suherman (2009) menyatakan, terdapat dua pendekatan dalam pembelajaran. Yaitu pendekatan yang berpusat pada guru dan pendekatan yang berpusat pada siswa.

Selamat Idulfitri 2024

Model  pembelajaran  dalam  PJOK  menjadi  bagian  penting  untuk  dapat mencapai  keberhasilan  tujuan  pembelajaran  di setiap  jenjang  pendidikan. Berikut ini penulis mencoba mengupas model-model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan ruang lingkup mata pelajaran PJOK, yang sudah dipraktekkan di SD Negeri 02 Sokawati. Yaitu di antaranya adalah pertama, model pembelajaran berbasis penemuan. Model ini menuntut kreativitas yang tinggi untuk peserta didik. Sebagai contoh, adalah pada saat guru akan mengajarkan materi permainan bola besar. Peserta didik diarahkan untuk mencipta dan menemukan sebuah model serangan atau variasi serangan pada permainan sepak bola. Guru senantiasa memantau proses penemuan model tersebut.

Kedua, model pembelajaran berbasis penemuan tak terbatas. Model pembelajaran ini hampir sama dengan model pembelajaran yang pertama. Hanya saja, tingkat kreativitas peserta didik dituntut lebih tinggi. Sebagai contoh nyata pada materi pembelajaran bola besar yaitu bola voli. Pada saat mengajarkan teknik servis, peserta didik dipersilahkan untuk mengeksplorasi lebih lanjut tentang bagaimana melakukan servis yang baik. Disini lah peserta didik akan lebih dapat mempraktikkan dan mengembangkan sesuai dengan kemampuan diri mereka.

Ketiga, model pembelajaran mengajar teman sebaya. Model pembelajaran ini akan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar dengan sesama dari teman teman di sekolahnya. Sedangkan guru di sini sifatnya sebagai pendorong atau memotivasi mereka dari belakang. Peserta didik dipilih sesuai dengan kemampuan personal dari mereka. Kemudian dari hasil tersebut, guru memanfaatkan peserta didik yang menonjol kemampuannya untuk mendampingi teman-temannya. Model ini dipercaya sangat efektif khususnya bagi kelas yang memiliki beberapa peserta didik yang menonjol atau mempunyai kemampuan yang lebih dari peserta didik lainnya.

Keempat, model pembelajaran langsung. Pada model pembelajaran ini, guru harus menguasai secara totalitas materi yang diajarkan. Baik teori maupun praktik keterampilannya. Guru di sini diibaratkan sebagai seorang bos yang selalu benar dan tidak pernah salah . Peserta didik wajib mengikuti arahan dari guru untuk menjalankan apa yang diperintahkan dalam materi pelajaranya. Baik dari materi yang diajarkan dari hal yang mudah ke hal yang lebih sulit, dari hal materi yang sederhana menuju ke hal yang lebih kompleks. Model pembelajaran tersebut sangatlah cocok digunakan untuk membangun fundamental pengetahuan pada para peserta didik yang tentunya akan menjadi bekal ilmunya selama menempuh pendidikan di sekolah.

Kelima, model pembelajaran kooperatif. Yakni kelas dibagi dalam beberapa kelompok untuk mempelajari suatu materi tertentu. Model ini lebih menekankan kerjasama antar sesama peserta didik dalam kelompok. Sehingga sangat cocok untuk materi pelajaran yang sifatnya melibatkan banyak orang atau tim, seperti sepak bola, bola voli, bola basket, softball , dll . Model pembelajaran ini merupakan model yang paling sederhana di antara model pembelajaran lainnya. Tetapi model pembelajaran ini tidak semua kelas cocok diberikan dengan model pembelajaran ini.

Dari kelima model pembelajaran, tentunya memiliki keunggulan serta kelemahan masing-masing. Untuk lebih tepatnya kita harus memperhatikan teknik mengajar agar dapat menyenangkan bagi peserta didiknya. Pertimbangkan sematang mungkin sebelum bapak/ibu guru menggunakan model pembelajaran tersebut. Yakni dengan cara menimbang keunggulan dan kelemahan model pembelajaran, sesuai dengan substansi materi yang akan diajarkan. (*)