Sebabkan Resiko Diabetes pada Orang Muda, Apa itu Sedentary Lifestyle?

ILUSTRASI: Seseorang yang suka makan.(JOLGO JATENG/Foto: Pixabay)

SEDENTARY lifestyle atau gaya hidup kurang gerak sering dialami oleh orang-orang dalam usia kelompok dewasa muda. Keadaan ini sebenarnya begitu membahayakan, lantaran menimbulkan risiko terkena penyakit diabetes.

Hal ini diungkapkan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr Hemi Sinorita. Menurut penjelasannya, sedentary lifestyle bisa diketahui dari kebiasaannya dalam menghabiskan waktu sehari-hari.

“Jadi kalau sedentary lifestyle itu, jika kita lihat itu kan orangnya tidur, makan, tidur, makan,” kata dokter dari RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta itu.

Ia mengatakan, gaya hidup kurang gerak dapat berujung pada kondisi kegemukan atau obesitas. Hal ini sangat memungkinkan untuk berkembang menjadi penyakit diabetes.

Ketika seseorang sudah mengalami kegemukan, lanjut Hemi, maka kerja hormon dan enzim yang terkandung di dalam tubuh juga dapat terganggu.

Hemi mengingatkan bahwa penyakit diabetes dapat dialami oleh siapapun. Tidak hanya kelompok dewasa dan lanjut usia, tetapi juga kelompok usia muda.

Berdasarkan pengamatannya, saat ini terjadi peningkatan jumlah penderita diabetes pada usia muda.

Baca juga:  Nakes Diminta Bijak Bersosial Media

“Penyebabnya itu, ya, sebagian besar kalau yang usia muda ini, di luar yang karena faktor genetik. Itu karena pola hidup yang berubah sekarang ini,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia merujuk pada data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang mencatat bahwa sebanyak 0,1 persen penderita diabetes berasal dari kelompok usia 15-24 tahun.

Meskipun agka tersebut rendah, Hemi tetap mengingatkan bahwa data tersebut hanya menunjukkan kasus diabetes yang dilaporkan ke fasilitas kesehatan (faskes).

Sisanya, masih banyak penderita diabetes yang tidak membuat laporan ke faskes.

“Laporan Riskesdas itu juga ada menyebutkan bahwa masyarakat kita itu jarang memeriksakan ke fasilitas kesehatan. Entah itu Puskesmas apalagi sampai rumah sakit, untuk menilai apakah ‘Saya sehat atau tidak’,” paparnya.

Penyebab dan Resiko Diabetes

Hemi menuturkan, penyakit diabetes melitus tipe dua yang dipicu oleh gaya hidup tidak sehat banyak dialami oleh usia muda dibanding diabetes tipe satu. Dimana diabetes tipe satu ini dipicu dari faktor keturunan atau genetik.

Baca juga:  Nakes Diminta Bijak Bersosial Media

“Diabetes melitus tipe satu karena faktor di dalam tubuh tetapi ini jumlahnya sedikit (pada usia muda). Yang banyak itu yang diabetes tipe dua yang karena basic-nya sebagian besar problem gaya hidup,” jelasnya.

Penderita diabetes, menurut Hemi juga sangat berkemungkinan untuk mengalami resiko terjadinya komplikasi di kemudian hari. Hal ini dikarenakan kadar gula darah yang tinggi berisiko menimbulkan kekakuan pembuluh darah sampai penyumbatan.

“Kalau sakit diabetes itu kan gulanya beredar dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ya, semuanya kena imbasnya gula darah. Gula darah yang tinggi itu merusak. Contohnya mata yang kabur itu bisa menimbulkan katarak sampai glaukoma,” imbuhnya.

Kemudian, ia juga memberikan kiat untuk dapat menurunkan resiko terjadinya diabetes. Yaitu dengan menerapkan gaya hidup “Cerdik”, slogan yang dikampanyekan oleh Kementerian Kesehatan.

Baca juga:  Nakes Diminta Bijak Bersosial Media

“Cerdik” sendiri merupakan singkatan dari cek kesehatan berkala, enyahkan rokok, rajin aktivitas fisik, diet seimbang, istirahat yang cukup, dan kelola stres.

Ia menjelaskan, cek kesehatan berkala dapat dilakukan dengan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa. Di samping itu, dia juga mengingatkan bahwa rokok dapat mengganggu kerja insulin di dalam tubuh.

Aktivitas fisik, selain bermanfaat untuk menurunkan berat badan, juga dapat membantu enzim agar bekerja secara maksimal. Kemudian yang tak kalah penting, Hemi mengingatkan pentingnya orang muda untuk menerapkan diet seimbang.

“Kemudian istirahat yang cukup. Kalau kita tidak tidur dan begadang, meskipun tidak stres, itu nanti ada hormon yang bikin lapar. Sambil begadang, sambil makan akhirnya gemuk. Kemudian kelola stres. Ada hormon stres yang mengganggu kerja insulin sehingga tidak maksimal menurunkan kadar glukosa darah, sensitivitas jadi terganggu istilahnya insulin resisten,” jelas Hemi. (ara/mg2)